Bukan sekali dua saya mendengar rekan yang berkata dengan lesu, "Haduh, sudah capek-capek mengerjakan ini dan itu hasilnya nggak berubah. Sudah berusaha datang tepat waktu, kerja rajin dan penuh antusias tapi nyatanya gaji nggak naik dan beban kerja bertambah..."
Dulu, waktu SMA di SMAN 2 Bekasi, rekan sebangku saya
misuh-misuh (menggerutu-vai) sehabis ujian Sejarah, "Sial, sudah jungkir balik menghapal sejarah bangsa kuno Sumeria dan Mesir kuno malah nggak ada yang keluar. Yang dihapali nggak keluar, yang nggak hapal malah keluar..."
Saya hanya tersenyum mendengarnya. Bukannya menghibur, saya biasanya tambah mengompori dia supaya tambah menyesal, hehehe...
Saya bukannya tidak pernah mengalami hal yang sama : menghapal untuk ujian ternyata yang keluar bertolak belakang; Berusaha kerja keras tapi hasil yang didapat jauh dari yang diinginkan; Menulis artikel di blog dengan antusias dan penuh harapan menuai banyak komentar (halah) ternyata hanya ada 1-2 komentar, kadang malah tidak ada sama sekali.
Apakah saya menyesal ? Dulu ya, tapi sekarang tidak.
Dulu saya pernah menyesal tak terhingga saat gagal ujian masuk ke sebuah institusi. Tahu institusinya ? Ya itu, IPDN

Saya menyesal karena sudah berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan diri, termasuk olah raga keras dan belajar dengan semangat namun ternyata masih gagal juga. Saya pernah pulang dari Bandung dengan tatapan mata kosong, syahdu tanpa semangat. Menatap butir-butir hujan di kaca Bus Primajasa namun dengan tatap mata
hopeless sejak dari Bandung.
Butuh waktu beberapa lama agar saya bisa kembali semangat dan tidak menyesali kegagalan saya masuk IPDN. Mungkin kalau jadi masuk IPDN saya bisa menjadi korban pukulan, hehehe... Sorry buat para alumni dan mahasiswa IPDN, saya bukan dendam pada kalian karena saya gagal masuk IPDN

Sewaktu kuliah, saya juga pernah terpuruk gara-gara cinta saya ditolak. Wuah, kok buka kartu disini

.
Saya pernah dengan lesu menerima kenyataan bahwa gadis yang saya sukai bilang, "Maaf ya Vai...". Gubrak. Saya pulang ke tempat kost tanpa ingat jalan pulang. Terasa melayang, tahu-tahu saya sampai ditempat kost. Saya menyesali diri saya karena sudah berusaha semampunya namun tetap gagal.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa tak ada yang perlu saya sesali. Kesadaran ini datang tiba-tiba ketika saya berpikir ulang, "Masih bagus saya sudah berusaha, artinya saya tidak menyesal karena sudah mencobanya..."
Jika kita sudah berusaha menghapal pelajaran namun ujiannya beda dengan materi yang kita hapalkan, tak usah marah dan jengkel. Masih bagus kita sudah hapalkan namun meleset daripada tidak menghapal sama sekali dan meleset semua.
Tak usah menyesal berusaha menjadi pekerja yang baik, karyawan yang baik, pegawai yang baik, staff yang baik, PNS yang baik, pedagang yang baik dan lain sebagainya karena itu artinya kita sudah mencoba sesuatu yang benar. Kalaupun masih belum mencapai tujuan yang diinginkan, itulah bagian dari pembelajaran. Siapa tahu kalau hasilnya diterima saat itu juga, efeknya kurang baik buat dimasa mendatang. Siapa yang tahu kan.
Pointnya adalah berusahalah semaksimal mungkin, soal hasil tak menjadi masalah. Mungkin kita gagal disatu kejadian karena yang maha pencipta sudah menyiapkan hasil yang jauh lebih baik. Mungkin kita menerima hasil yang kurang sesuai dengan keinginan karena dengan hasil tersebut kita terhindar dari bencana yang sudah mengintai.
Tak ada yang perlu disesali jika kita sudah berusaha secara optimal semampu yang kita bisa. Siapa yang bersungguh-sungguh niscaya akan berhasil. Kalau tidak percaya, lakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan lihat hasilnya.
Jangan menyesali apa yang sudah terjadi dan jangan menyesali kerja keras yang dilakukan. Banggalah untuk itu semua.
Note : Gadis yang bilang, "Maaf ya Vai..." itu sekarang jadi my beloved wife