Geli juga saya membaca tulisan mas Pujiono mengenai
Mitos-mitos Seputar Perawatan Bayi. Saya tidak ingin membahasnya dari sudut pandang larangan melakukan sesuatu terkait dengan bayi karena waktu membacanya saya hanya bilang, "Sama 200%" !

Sewaktu
Zeze Vavai baru lahir, saya sempat naik turun tangga belasan kali karena ada perintah, "Jika bayi pipis, popoknya harus dicuci, tidak boleh direndam. Nanti bayinya masuk angin". Juga sama soal tidak boleh memeras popok. Apa karena latar belakang asal keluarga isteri yang sama ya ?

. Saya berasal dari Bekasi sedangkan isteri kelahiran Brebes Jawa Tengah (bapak dari Salatiga ibu dari Brebes)
Sebenarnya, dibalik itu semua adalah soal relasi mertua dan menantu. Mengapa saya katakan demikian ? Karena relasi ini mencakup pengalaman dan kemampuan. (Jadi ingat iklan rokok, "yang muda yang tak dipercaya").
Kelahiran bayi adalah momen penting terjadinya relasi yang intens ini. Tentu ini dengan asumsi mertua tinggal pada jarak yang tidak terlalu jauh. Pada saat bayi lahir, biasanya mertua akan menjadi sosok yang paling berkepentingan, baik mertua dari sisi suami maupun dari sisi isteri.
Yang sering terjadi adalah kekhawatiran mertua pada pasangan muda yang baru saja melahirkan. Kekhawatiran ini sebenarnya wajar, namun jika tidak dipahami dengan baik potensial menimbulkan gesekan wewenang

.
Sebagai contoh, mertua, dengan bekal pengalaman dan pengetahuannya, akan selalu dalam posisi menganggap bahwa menantu perlu dibimbing, sedangkan si menantu, karena ingin mandiri biasanya berharap sesedikit mungkin campur tangan orang lain, meski itu mertua sendiri. Tujuannya adalah, jika satu waktu tinggal ditempat yang berjauhan dan harus mandiri, tidak perlu susah payah beradaptasi.
Yang muncul biasanya adalah ketidaksabaran mertua melihat mekanisme kerja menantu, sedangkan si menantu merasa-dengan pengetahuan yang dimiliki-ada beberapa hal yang tidak tepat yang dilakukan oleh mertua. Life is complicated mind, heh

Pada akhirnya, yang penting adalah komunikasi. Perlu ada upaya "diam" baik dari mertua maupun dari menantu. Diam saja jika kita dalam posisi sebagai mertua dan melihat menantu sepertinya salah kaprah merawat bayi. Tunggu hingga menantu minta bantuan. Jangan merasa wewenang dilangkahi. Jangan lupa, kadang menantu kikuk karena masih merepotkan mertua untuk hal-hal seputar melahirkan yang merupakan tanggung jawab menantu dan pasangannya. Disini peran pasangan (alias anak dari mertua) sangat penting untuk menjadi peredam gesekan. Ingatlah sewaktu mertua dulu waktu pertama kali punya anak. Pasti perasaannya mirip seperti yang dirasakan menantu sekarang ini

Jika jadi menantu, ya sama. Upayakan untuk diam jika mertua melakukan sesuatu, meski itu mengusik hati kita. Tak usah berdebat soal cara memakai popok misalnya. Tak usah juga perdebatkan soal pemakaian gurita. Analoginya, jika kita sedang mengendarai kendaraan yang sedang terjebak kemacetan, semua orang pasti merasa paling benar dan tak ada yang mau disalahkan. Jika kita nimbrung untuk bicara, yang terjadi adalah debat kusir berkepanjangan yang seringkali tak menghasilkan tujuan yang kita inginkan.
Meski terlihat "menakutkan", tak usah merasa takut untuk menikah dan untuk punya anak. Ada lebih banyak nuansa menyenangkan dibandingkan kekhawatiran menjadi repot karenanya.
Percayalah, hehehe...