Pola Pikir Anak Kecil dan Kekhawatiran Orang Tua


:: Feed Reader & Email Subscription ::

Kamu bisa membaca Blog Vavai menggunakan feed reader. Gunakan alamat feed reader ini. Kamu juga bisa mendapatkan email notifikasi setiap ada update pada blog ini. Silakan klik disini untuk mendaftar notifikasi.

Pola Pikir Anak Kecil dan Kekhawatiran Orang TuaThursday, January 24. 2008


Trackbacks

No Trackbacks

Comments
Display comments as (Linear | Threaded)

wow asik banget sharingnya, secara gue baru jadi bapak juga...
#1 budi (Homepage) on 2008-01-24 06:17 (Reply)
Selamat menjadi bapak, dunia luas tanpa batas :-D
#1.1 Vavai (Homepage) on 2008-01-24 19:30 (Reply)
orang lain sering lebih mengkhawatirkan anak saya dibanding saya orang tuanya. Misal, orang lain khawatir anak saya kesetrum, saya malah sedang menunggu-nunggu kapan ini anak kesetrum beneran (bukan setrum PLN yang 220V lho..). Menurut saya anak-anak kudu diajarkan mengenal resiko terhadap lingkungannya. Selama resikonya tidak fatal (memain-mainkan pisau, main di pinggir jalan raya) kadang saya biarkan anak saya mendapat "pelajaran" dari ulahnya sendiri supaya belajar lebih berhati-hati dikemudian hari.

oyah zeze udah gede yah..
#2 ech (Homepage) on 2008-01-24 06:24 (Reply)
Hehehe, tepat sekali Mbak. Zeze Vavai itu awalnya juga marah kalau dilarang menyentuh air panas. Akhirnya saya siapkan air hangat dan saya biarkan tangannya dicelupkan kedalam air lantas saya bilang,

"Hiiiy, panas... panas..."

Sekarang Zeze Vavai sudah hampir 2 tahun. Sudah besar dan sudah bisa melawan, hehehe...
#2.1 Vavai (Homepage) on 2008-01-24 19:30 (Reply)
Akur, memang tidak ada yang mengalahkan learning by doing :-)

Saya sendiri paling menghindari dari kursus/training, dan lebih prefer langsung belajar & praktek sendiri.
#2.2 sufehmi (Homepage) on 2008-01-25 07:53 (Reply)
Wah, respon pak Harry memberikan banyak inspirasi buat saya. Sekarang memang baru ada Zeze Vavai tapi saya tetap ingin memberikan support terbaik untuknya.

Saya sering batal kuliah kalau sudah ketemu Zeze Vavai, hehehe...

Sukses selalu pekerjaannya pak. Kalau mereka sudah biasa online, bisa chat dan kasih support buat papanya ya...
#2.2.1 Vavai (Homepage) on 2008-01-25 13:21 (Reply)
wah.. mas vavai.. tunggu zeze kalau sudah punya adik. akan lebih seru lagi kelakuan kakaknya. .... fiuhhh... menarik napas panjang
#3 nd13 (Homepage) on 2008-01-24 20:48 (Reply)
Kemarin mamanya gendong anak tetangga samping rumah, Zeze Vavai jambak-jambak nggak boleh. Nggak mau disaingi dia :-D
#3.1 Vavai (Homepage) on 2008-01-24 21:40 (Reply)
Wah, seru banget kalau sudah ada adiknya :-) dan ibunya juga akan terbantu, karena mereka bisa asyik sendiri / ibunya tidak harus ngemong Zeze terus menerus lagi.

Awalnya memang capeknya bakalan dobel dulu :-D ngemong si dede & si Zeze. Tapi begitu sudah agak gede, nah mulai enak deh, he he
#3.2 sufehmi (Homepage) on 2008-01-25 07:49 (Reply)
Mumpung masih ada waktu, manfaatkan sebanyak mungkin. Sebentar lagi, anak2 kita tak mau lagi dimandikan oleh orang tuanya, ndak mau tidur dipeluk lagi...dan bahkan ga mau kita cium2 di depan kawannya.

Eh.. ada syair lagunya jose marry chan, tahun 1987, 21 th lalu...hmm vavai umur berapa saat itu?

No rewind, No Replay

It’s 2am we’re lying in bed
Stillness all around there’s not a sound except in my head
Of happy songs children laughing
Kids celebrating youth like it never would end
Not long ago they sat on our knees
We drew cartoons, flew to the moon, trimmed christmas trees
But time has flown look how they’ve grown
Soon she’ll be you, and soon he’ll be.. like me..
There’s no rewinding no replay
The chance you lose today will be gone when it’s gone
We’ll never be quite as strong nor as young as this again
Make them last, make these moments.. last right now.
#4 resti (Homepage) on 2008-01-24 21:06 (Reply)
Tahun 87 saya kelas 5 SD. Saya ingat Jose Mary Chan meski saya lebih akrab dengan Isabella :-P

Ya, benar juga. Semakin besar anak, dia semakin ingin mandiri. Kadang kita jadi rindu ingin gendong padahal dia sudah nggak mau, hehehe...
#4.1 Vavai (Homepage) on 2008-01-24 21:38 (Reply)
Anak saya yang paling besar umurnya 9 tahun, dan sampai saat ini sih masih senang disayang & dipeluk :-D
Mudah-mudahan terus demikian, hihihi... amin...!

Tapi, memang dari kecil saya selalu biasakan bahasa sentuhan ini. Daripada berbicara, saya lebih prefer menyentuh.

Pagi hari, mereka suka saya elus-elus punggungnya sampai bangun dari tidurnya. Jadi biasanya bangun dengan senang, tidak bad mood :-)
Begitu sudah bangun, saya peluk & puji kalau bangunnya cukup pagi.
Lalu saya antar ke kamar mandi (wudhu, sikat gigi, dst) lalu sholat dst.
Ketika akan pergi sekolah, kami cium & peluk, kemudian diantar ke mobil antar-jemputnya.

Pulang sekolah kami peluk dan elus-elus kepalanya, lalu kami tanya bagaimana kabar sekolahnya hari ini ? Lalu curhat lah mereka, apalagi yang paling besar, kalau sudah mulai ngomong bisa berjam-jam nyambung terus :-) musti diarahkan supaya tidak ngalor ngidul & bermanfaat pembicaraannya. Kalau ada masalah di sekolah kami coba bantu carikan solusinya.
Kadang ada miskomunikasi dengan kawannya, kami bantu jelaskan / mediasi kan. Dst.

Sore hari kadang berenang di dekat rumah. Favorit mereka adalah dilempar ke udara :-D ke tengah kolam renang. Atau mereka meloncat dari pinggiran kolam ke tangan saya, lalu saya putarkan sehingga salto di udara bbrp kali dan mendarat di kolam, he he. Loads of fun !
Sore hari juga bisa diisi dengan berbagai kegiatan fisik lainnya; seperti bersepeda, badminton, bola, dst.

Malam hari kami peluk & cium lagi satu persatu. Yang masih susah/belum mau tidur kadang kita tunggui sebentar sambil dielus2 punggungnya.

Ya mudah-mudahan terus mau disayang-sayang oleh orang tuanya deh (kalau tidak, bisa patah hati nih bapak & ibunya, hihihi)

(ditulis dari kantor client, sedang overtime s/d sabtu sore di lokasi ybs. Missed my 4 kids very much! thanks for the post :-) )
#4.2 sufehmi (Homepage) on 2008-01-25 08:08 (Reply)
Iya, kadang-kadang kita terlalu khawatir sama tingkah polah anak kita ya....
#5 roi (Homepage) on 2008-01-24 22:17 (Reply)

Add Comment

Enclosing asterisks marks text as bold (*word*), underscore are made via _word_.
E-Mail addresses will not be displayed and will only be used for E-Mail notifications

To prevent automated Bots from commentspamming, please enter the string you see in the image below in the appropriate input box. Your comment will only be submitted if the strings match. Please ensure that your browser supports and accepts cookies, or your comment cannot be verified correctly.
CAPTCHA

Standard emoticons like :-) and ;-) are converted to images.
BBCode format allowed
 
 

Masukkan email address untuk mendapat notifikasi setiap ada update terbaru pada Blog Vavai

Delivered by FeedBurner


  • Vavai
    Masim "Vavai" Sugianto, IT professional meski kadang-kadang saja bisa prof dan lebih sering nggak tongue. Nick name Muhammad Rivai Andargini, nama yang dipakai sejak SMP dan sekarang menjadi nama anak tongue. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.