
TDA adalah singkatan dari
Tangan Di Atas. Komunitas TDA adalah Komunitas yag terdiri dari para personal yang berniat menjadi pengusaha, menjadi Tangan diatas (sebagai pemberi) bukan Tangan Dibawah (TDB, Penerima).
Saya mula pertama membaca kiprah TDA ini melalui harian
Republika yang ada dirumah tetangga saat mengajarkan anaknya aplikasi komputer. Saat itu saya langsung berpikir, fantastis sekali kiprahnya. Sederhana, namun aplikatif.
Meski demikian, dengan banyaknya cara penipuan, iming-iming adanya bisnis dengan hasil yang cepat membuat saya ingin tahu lebih banyak mengenai komunitas ini. Cara termudah adalah membuka blog Jenderal TDA sendiri,
Badroni Yuzirman. Dari sana saya bisa menilai kualitas komunitasnya dan bisa melakukan penelusuran dengan cara melakukan blogwalking ke blog-blog member TDA lainnya.
Satu hal yang prinsip, ini bukan komunitas yang menawarkan hasil instan. Bukan komunitas yang meminta anda melakukan setoran sekian rupiah untuk kemudian dijanjikan keuntungan sekian puluh atau sekian ratus persen. Ini komunitas, bukan usaha mencari untung dari membership.
Ciri khas TDA yang membuat saya tertarik adalah prinsip dasar mereka, yaitu "Action". Komunitas TDA tidak bicara soal teori yang tidak membumi, yang hanya mantap ditataran cerita-cerita ekonomi dibuku. Para member TDA umumnya datang dengan berbagai macam latar belakang namun memiliki satu kesamaan, yaitu berniat membangun usaha untuk kemudian nantinya tidak perlu lagi bekerja sebagai orang gajian melainkan sebagai pengusaha.
Apakah pengusaha disini diartikan sebagai konglomerat. Tentu saja bukan, meski kemungkinan kearah itu tidak tertutup. Banyak dari member TDA yang menjadi pengusaha dalam level yang awal, yang benar-benar baru dimulai. Prinsip yang dianut oleh TDA bisa membuat kondisi dimana para
amphibi (istilah komunitas TDA untuk member yang hendak terjun sebagai pengusaha namun masih berstatus sebagai pekerja) mendapat bimbingan usaha maupun motivasi dari member TDA senior.
Menjelang akhir tahun ini, ada sebuah toko milik orang tua yang bisa saya kelola. Ini merupakan awal yang baik untuk saya gunakan sebagai awal bagi upaya saya melakukan diversifikasi kegiatan yang saya lakukan.
Ada anggapan, jika mengerjakan 2 hal atau lebih sekaligus biasanya tidak akan memberikan hasil yang optimal. Ya, tentu saja saya ingat selalu nasihat itu. Untuk itulah saya memilih komunitas yang benar-benar membumi, komunitas yang memang nyata kualitas dan hasil kerjanya.
Yang menarik, membership komunitas TDA ini berdasarkan proses invite. Milis TDA bersifat tertutup. Jika dilihat dari prinsip TDA yang menekankan pada action, proses invite untuk membership komunitas TDA bisa sekaligus sebagai penyaring member yang hanya ingin menjadi spammer

.
Saya percaya pada LOA (
Low of Attraction). Saya juga percaya bahwa pada akhirnya, ada kesamaan emosi dan pola pikir yang akan menghubungkan orang-orang yang memiliki ide senada. Saya menemukannya saat melakukan blogwalking para blogger yang tinggal di Bekasi untuk keperluan
Planet Bekasi dan menjumpai blog milik
Pak Hadi Kuntoro. Ternyata beliau tinggal di Bekasi. Mengetahui bahwa beliau menjadi member TDA, saya bisa bertanya lebih banyak mengenai TDA dan kiprah usaha pak Hadi sendiri. Tak dinyana, Pak Hadi memberikan kesempatan pada saya untuk bergabung dengan TDA. Terima kasih pak Hadi.
Hal menarik lainnya dari TDA adalah kiprah member TDA sebagai blogger. Diluar hiruk pikuk mengenai kelompok-kelompok blogger yang umumnya berkiprah pada dunia seputar IT dan sosial, ternyata member TDA termasuk blogger aktif dibidang usaha masing-masing. Tak dinyana,
Pak Badroni Yuzirman juga menjadi penulis di ABN. Bedanya, beliau menjadi penulis untuk
Blog Bisnis, sedangkan saya menjadi penulis untuk
City Blog.
Mudah-mudahan saya bisa berkontribusi aktif bagi komunitas TDA dan semoga ini bisa menjadi awal yang indah dibulan Ramadhan 1428 H.
Memilih Tangan di Atas, artikel dari
Harian Republika Ini komunitas yang solid. para wirausahawan ini membentuk komunitas Tangan di Atas TDA). Ajang komunikasi menggunakan milis. Semua persoalan bisnis dibahas, lalu dicarikan solusinya. Solusi yang ditawarkan seringkali bukan berupa wacana, tetapi action nyata. Pelatihan membuat webstore (toko di internet), masalah akuntansi, dan lainnya, pun digelar untuk peserta milis. Hasilnya? Komunitas milis ini mampu mencetakenterpreneur-enterpreneur baru dalam waktu sekejap.
Tak keliru Ryaad Kusuma merapat ke TDA. Dari komunitas inilah Ryaad menemukan bisnis online-nya. Suatu saat Ryaad Kusuma membaca e-mail Hadi Kuntoro di milis TDA soal usaha jilbabnya di Bekasi. Ia tertarik. ''Omzetnya luar biasa,'' kata dia beralasan. Tak lama, ia sudah meluncur ke toko jilbab Rabbani milik Hadi. Pada pertengahan Juli 2006, dengan modal Rp 3 juta, Ryaad pun sudah memulai usaha baru. Barangnya diperoleh dari agen Rabbani di Bekasi. Jalur distribusi pun ia peroleh lewat sharing informasi di milis.
Saat ini Ryaad sudah punya sebuah kios busana muslimah di bilangan Plaza Cibubur, Cibubur. Pada November lalu, ia mulai berjualan via internet. Pelanggannya tersebar di Bontang, Kaltim, hingga Sumbawa, NTB. Besar omzet? ''Lumayan. Saat Lebaran, apalagi,'' tutur Ryaad yang pegawai swasta di kawasan industri Cikarang itu.
Lewat milis, mereka bahu-membahu. Sesuai namanya --tangan di atas-- komunitas ini memiliki visi: gemar memberi kepada sesamanya. Lewat komunitas ini, para pengusaha yang lebih mapan memberi solusi kepada para pemula atau yang belum berpengalaman sekali.
''Kita ingin menciptakan pengusaha-pengusaha baru. Menumbuhkan semangat berwirausaha adalah solusi konkret permasalahan ekonomi bangsa,'' kata Badroni Yuzirman. Karenanya, istilah TDA seringkali dipelesetkan menjadi Take Double Action. TDA menghindari banyak diskusi dan perdebatan yang tidak produktif. Solusi, kata dia. harus dengan aksi nyata.
Anria semula mengaku bingung mencari jenis bisnis. Lewat milis TDA, ia mulai terbuka mata. Sempat bingung cari-cari barang, Anria memperolehnya berkat cawe-cawe di internet ini. Bukan cuma peluang dan relasi bisnis, Anria juga memperoleh pasokan motivasi dari tulisan-tulisan di milis.
''Kita menumbuhkan suasana saling mendukung. Dengan bersama-sama segalanya akan lebih ringan,'' kata Badroni. ''Dengan sharing di internet mengenai problem kita, kita seringkali disadarkan bahwa bukan kita saja yang dilanda problem tersebut. Ada orang lain. Ini akan menguatkan kita. Apalagi kalau kita cari solusinya bersama-sama.'' tambah Ryaad.