
Semalam saya sempat geleng-geleng kepala mendengar berita mengenai Kereta Api Gumarang jurusan Jakarta-Surabaya, yang anjlok Minggu (12/8) malam di Dusun Kramat, Desa Mangunsari, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. KA Gumarang tersebut anjlok karena rel KA yang dilewatinya dipotong dengan sengaja oleh orang tak dikenal. Tujuan pemotongan adalah agar kereta terguling dan timbul korban. Saat itu, pelaku bisa mengambil barang berharga milik korban.
Menurut saya, ini sudah merupakan perbuatan yang sangat biadab. Andaikan dikenakan pasal KUHP, mestinya bukan lagi pasal biasa-biasa saja, melainkan pasal pembunuhan berencana terhadap sejumlah besar orang.
Anda bisa bayangkan, jika kereta sedang dalam kecepatan tinggi dan tiba-tiba anjlok, jumlah penumpang yang menjadi korban akan besar sekali.
Alasan ekonomi semata tidak bisa menjadi alasan pembenar bagi pelaku pemotong rel. Ada demikian banyak orang di Indonesia yang penghasilannya terbatas namun tidak melakukan hal yang sama. Ini bukan soal ekonomi yang terhimpit karena benar-benar diniatkan.
Kata bapak mertua saya, pelaku bisa langsung masuk neraka kalau satu saat meninggal dunia... Terdengar sangat emosional namun bagi para pengguna jasa kereta api, perbuatan pelaku memang sukar dimaafkan.
Saya sebal jika ada orang yang berkomentar, "Ah, perbuatan mereka itu kan hanya sebagian kecil efek kemiskinan. Lha itu koruptor yang makan uang rakyat malah enak-enak saja".
Buat saya, pola pikir seperti ini sangat fatal. Mereka menganggap perbuatan seperti ini biasa saja karena membandingkannya dengan perbuatan koruptor. Ini lain konteks. Saya mengutuk perbuatan pelaku pemotongan rel tapi tentu saja tidak mengabaikan perbuatan para koruptor. Kita tidak bisa menisbikan suatu perbuatan kriminal dengan perbuatan kriminal lainnya.
Yang menjadi pertanyaan berikut, apakah PT KA tidak memiliki teknologi yang mampu mendeteksi masalah pada rel ? Jika hanya mengandalkan petugas penilik jalan, tentu sulit karena petugasnya terbatas.
Ilustrasi Gambar diambil dari
sini, referensi berita bisa baca di :
"KOMPAS : Kok Tega-Teganya Orang Memotong Rel Sepur",