STPDN, IPDN dan Paradigma Kekerasan dalam Pendidikan • Tuesday, April 3. 2007
miris rasanya punya calon birokrat dan pamong praja seperti mereka...sudah dibiayain mahal2 pake APBD/APBN, bertingkah bak jagoan dan minta dilayani dimana2, belum lagi tindakan amoral....nauzubillah...
masih mending kami yg lulusan sekolah bayar sendiri....itung2 kalo pun bertindak aneh, tp gak ngebebani negara
Apalagi, sejak tahun 1990 hingga 2004 setidaknya terjadi 35 penganiayaan berat yang berakibat pada kematian.
(kutipan Kompas)
Aneh banget kan...
Apa anda termasuk orang itu?
Tapi setelah duapuluh taun belajar d indonesia dan merasakan kehidupan d indonesia(saya sih lahir d indonesia juga sih,ortu ind asli) saya jadi cenderung tidak suka dng pola pikir orang indonesia yg Pintar Tapi "BODOH". Ramah tapi "PENJAHAT". Berbudaya tapi "#$%&=" . Beragama tapi "!#%$".
Bener lho!!
Dbandingkan negara yg saya tinggali sekarang mereka atheis tapi... jauuuuuuuh sama orang yg beragama seperti indonesia. Mereka disiplin tapi ngga ada yg sampai mati. soalnya kenapa?
d negara ini itu betul2 90% manusia yg d inginkan tuhan. Sedangkan d indonesia?!? manusianya...............ga tau deh!!!
Correct your self!!! (yg jelas saya dah correct diri sendiri, Nyesel jadi org ind!!)
So gimana pendapat anda?
klo anda ingin melanjutkannya silahkan meng add saya d YM "rev_liza@yahoo.com". disitu kita bisa ngomong banyak.atau kirimkan email anda d rev_liza@yahoo.com / ultramantaro34@usa.net
segala ketidak senangan anda atas tulisan saya akan saya jawab dengan senang hati.
Pokoknya, yg ikut nutup2in kesadisan penganiayaan di IPDN, artinya dia ikut terlibat, minimal hati nuraninya sudah mati karena "merestui" kebiadaban merajalela di depan matanya. Yg begitu itu tuh, bukan manusia tapi srigala berambisi jadi aparatur negara! Amit2 deh gw punya pemimpin kayak gitu! Kagak sudi gw dipimpin aparat bermental preman! Kalo ntar jadi pejabat, punya kesempatan dikit aja pasti langsung korupsi sejadi2nya! Hah! Masih mau mungkir?!
solusi, low kasih contoh sikap yang berbudaya n merakyat buat diri low, depan muka low, sebelah low, sampe sekeliling low.
solusi, pendidikan yang bijak adalah pemikiran yang kritis dari hal paling sepele sampai terberat, apakah sudah diterapkan pada KAMPUS low?
solusi, KAMPUS itu kumpulan orang2 pilihan yang sehat rohani n' ragawi, apakah sudah dijalankan di KAMPUS LOW?(bukan orang gila)
solusi, kalo low semua pada LULUS, silakan kita silahturahmi, kali aja gw tau seberapa jauh otak low dalam berpikir n' sebagai kaum muda coba buat sesuatu yang berharga bisa dilihat oleh masyarakat, bukan uang tilepan di kas desa2.
gmn?
emosi low ga ada artinya!
Bagaimana kita bisa tau "the realnya" IPDN klo anda tdk menjelaskan scr gamblang apa yg terjadi di dlmnya, pengalaman anda pribadi,dlsb. Justru melalui forum ini,saatnya anda klarifikasi IPDN itu seperti apa?
Mengenai rekaman yg kata anda sengaja direkam oleh seorang oknum yang pernah dididik di STPDN dan melanjutkan S2 nya di STPDN lagi, loh udah tau lagi direkam, kenapa para pelaku malah makin asik aja mukulin+nendangin junior (pada tayangan itu). Padahal lagi masuk tipi loh (kamera maksudnya). Apa para pelaku saat itu gak malu atau mungkin ada tindakan pelarangan agar perbuatan meraka tidak direkam? Atau malah bangga buah hasil karya mereka direkam kamera?? Coba kalian amati kembali video itu. Terlihat ada yang janggal dalam pendokumentasian video tersebut. Dari segi timing pengambilan gambar yg diambil siang dan malam hari. Terus dilakukan di area terbuka, dimana seharusnya banyak orang yang tau, apalgi saat siang2 bolong.
Memang saya setuju kalau pemberitaan di TV terlalu memojokkan STPDN, padahal mungkin kalian masih inget sebelum berita tewasnya Cliff Muntu,pemberitaan salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi.... (yang ada di cibitung, bekasi, klo gak salah Perhubungan Darat, yang notabene lulusannya langsung bekerja di Dephub), tewas akibat kekerasan di kampusnya. Oleh pihak media sepertinya kasus itu di kubur dalam2, tidak melanjutkan investigasinya, dan sampai sekarang tidak tau bagaimana kabar pelakunya. Seharusnya pihak media juga harus berimbang dalam pemberitaan serta mengungkap kasus2 semacam ini. Jangan cuma STPDN aja yg disorot tapi semua kampus yg menerapkan budaya kekerasan juga harus disorot agar semua masyarakat tau.
Mengenai kekerasan di STPDN, tentunya perbuatan oleh segelintir oknum itu betul2 bukan perilaku yang masuk diakal (berarti gak punya akal dong?). Di kampus saya aja STTTelkom, yg sama2 "sekolah tinggi" dan sama2 status kedinasan (sampai tahun '97, klo sekarang udah nggak), belum pernah tuh ada budaya kekerasan apalagi pemukulan (mungkin bisa di kross cek sama alumni atau teman yang pernah kuliah disini). Paling yang gitu2 cuma ada di ospek aja. Dan hukuman maksimal kita hanya push-up atau lari keliling lapangan. Selama ospek kita juga selalu ada pengawas dan penanggung jawab lapangan. Sampai2 kita saat ospek dibedakan antara mahasiswa yg kuat fisiknya atau tidak. Bagi mahasiswa yg kurang kuat fisiknya (mungkin punya penyakit kambuhan seperti: maag, asma, dll) diberi level pita kuning atau merah. Setelah ospek (biasanya 1 minggu) ya sudah, ospek berakhir dan kita mulai kuliah. Dan perlu digarisbawahi disini ospek kita hanya sekali, yaitu ospek umum tadi yang hanya dilakukan 1 minggu. Dan sampai saat ini kita tidak mengenal tradisi senior-junior, semuanya sama bagi kami.
Kaga ngerasain gimana sedihnya orang tua yang ditinggal anaknya mati sia-sia. Woiii panggil semua temen loe di IPDN kita Tarung!!!
AYO KITA GEBUKIN RAME2 SI SYAIFUL biar dia ngerti rasanya kematian
Kalau yang terjadi seperti ini, pantesan banyak muncul "premanisme" untuk urusan-urusan yang melibatkan produk pendidikan ini... huhuhuhu
Jika model pendidikan seperti ini, bagaimana hasil keluarannya dong...
nampaknya lulusannya juga tidak cukup signifikan berprestasi...
pada masa awal pendidikan stpdn dibawah pelatihan militer (baca:tni-ad) bentuk kekerasan jauh berbeda dengan yang terjadi kemudian.
pelatihan-fisik militer dengan palatih-jas yang terdidik tidak memukul tetapi 'mendorong' !
ayunan tangan (walau bentuknya tangan menggenggam) pelatih ke arah badan siswa/taruna berhenti sekian-mili dari badan lalu berubah menjadi dorongan ! dan si siswa/taruna akan terhuyung karena terdorong bukan karena terhantam ! ini beda dengan yang terjadi seperti pada cliff(alm) dan alm-alm lainnnya.
jadi memang goblog manajemen stpdn/ipdn yang membuang pelatih-pelatih dari militer dan menggantikannya dengan sistem senior melatih junior !!!
pelatihan semi militer (yang pelatihnya memang dari militer) akan membentuk watak - mental - kesigapan - atau apapun namanya menjadi lebih baik dan disiplin, tetapi tidak merusak kondisi fisik siswa/taruna.
sekali lagi ... kecil koq bedanya !
menghantam berbeda dengan mendorong !
saya yang sudah mengalami 'hantaman' (baca: dorongan) yang sekilas seperti hantaman/pukulan dari pelatih2 militer ... cuma 1 sakit yang saya rasakan : 'malu' !!! bukan memar/perih fisik !!!
memang militer lebih tahu diri dibanding siswa/taruna seniro yang melanjutkan tradisi pukul2an di stpdn eh ipdn.
saran sih : balikin lagi fungsi pelatihan oleh pelatih-terlatih dari militer !
mo stpdn/ipdn ditutup ? nha ... pemerintah juga gak punya kemauan ! tapi setidaknya manajemen ipdn bisa konsultasi ke pihak militer !!! ayo dong .. masa manajemen ipdn tetep GOBLOG !
okeh ... komentar pribadi untuk tanggpan saya bisa ditujukan langsung (japri) ke arif dot avianto et gmail dot com
Solusinya sederhana :
1.Copot Rektor & berikut kebawah selaku penanggung jawab administratif & lapangan.Non Aktifkan tenaga pengajar.
2.Bubarkan STPDN/IPDN , Hentikan rekruitmen Siswa selama 1 Tahun & Lakukan fit & proper utk tenaga pendidiknya.
3.Ganti Kurikulum & Uniform / Seragam Militer dgn seragam Korpri atau yg lain Uniform /Seragam Sipil.
4.
Kata Pak Dosen Inu,pada wawancara di Metro Hari Ini, cewek2 praja di sana diajarin jadi bi*pak, oh pujaan hatiku...Moga2 Alah SWT melindungimu selalu. Amin.
Sudah tidak jamannya lagi militerisme kepada warga sipil. Gimana nantinya klo sdh terjun di masyarakat, masa rakyatnya dipukulin sampai retak2 dadanya???? Metode disiplin bukan seperti itu Mas !!!! Sekolah aja gratis banyak gaya, mendingan kami yg sekolah bayar sendiri.....
Sungguh menyedihkan ditengah deraan derita masyarakat yang tak kunjung henti, kok ya lagi-lagi para calon " pamong praja "ini bertingkah bak preman menyiksa hingga tewas yuniornya !.
Memalukan sungguh memalukan bukannya perbuatan terpuji sebagai cermin calon pengayom rakyat yang dipentaskan, tapi justru perbuatan yang menakutkan dan menyeramkan bagi seorang calon "pemimpin rakyat".
Bila tingkah para calon pamong saja sudah seperti itu, apakah rakyat negeri ini masih pantas untuk berharap kalau negerinya akan aman dan tentram ?.
Rasanya yang lebih tepat paling banter mereka akan menjadi pamong penekan dan pemeras yang menyiksa rakyat.
Rakyat negeri ini butuh pemimpin bijak yang mengerti, memahami dan memberikan jalan keluar bagi segala derita yang ditanggungnya, mereka sudah bosan dengan pemimpin arogan yang tak berperi kemanusiaan.
Dimanakah harga diri kita bila negara ini memiliki pemimpin berkualitas seperti preman !
Sungguh ironis premanisme yang berakibat kematian yang juga telah terjadi berkali-kali terjadi di sebuah Lembaga Pendidikan yang seharusnya merupakan lembaga yang memproses anak manusia untuk menjadi ber-Akal dan ber Budi sebagai calon pemimimpin bangsa.
Sekaranglah saatnya untuk membubarkan perguruan tinggi para preman ini sebelum lebih banyak korban tewas menyusul ! jangan ada kata "kita beri kesempatan sekali lagi", karena perkataan itupun pernah diucapkan Th 2003 lalu, dan ternyata sekarang terulang lagi, atau mungkin menunggu sampai ada dosennya yang jadi korban ? amit-amit !
Sekolah Pamong apa itu......???????
MILITER SAJA TIDAK BEGITU ....
INI SEKOLAH APA ........
MASAK SEKOLAH CAMAT AMA LURAH ISI PENDIDIKAN GAYA MILITER
APAAAN........
Kenapa kesalahan masa lalu bisa terulang kembali, keledai saja tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya..
Apakah STPDN perlu dibubarkan???
Kembali ke tujuan awal mengapa STPDN dibentuk..
Pada dasarnya sekolah kedinasan dibentuk adalah untuk menyediakan pegawai yang memenuh persyaratan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh instanti yang bersangkutan, dimana kebutuhan itu tidak apat dipenuhi oleh lulusan dari Perguruan tinggi lain. Pembentukan PTK jg dalam rangka Pengadaan pegawai yang memiliki loyalitas terhadap pekerjaan dan instansi ybs.
Mengingat nantinya lulusan STPDN akan menjadi pamong praja pengayom masyarakat, pola pendidikan denan kekerasan spt itu tidak layak diterapkan.
Nah, Dengan tujuan seperti itu, yang perlu dilakukan STPDN skarang adalah memperbaiki sistem...
Agar kesalahan lama tak terulang..
Wallahua'lam..
[Catatan Vavai] Please, komentar secara sopan dan santun agar kita tidak menjadi pelaku kekerasan dalam bentuk lain.
Orang tua ngirim anak2 mereka sekolah di sana bukan untuk setor nyawa atau bahan kekerasan.....Trus para orangtua dari praja yg bertindak kekerasan, tdk mengirim mereka untuk jadi preman kan?????Sekolahan kok aneh gitu.....Trus pejabatnya bilang KECOLONGAN.......enak amat ngomong gitu....Coba kalo anak or adik or saudara mereka yg jadi korban.....apa mereka g bakal mencak2.......Udah.....bubarin aja sekolahan kayak gitu....perasaan sekolahan AKADEMI MILITER aja g kayak gitu....ini sekolahan Pemerintahan Dalam Negeri kok gitu..........
Udah BUBARIN AJA..............G ada gunanya..... Kalo mo tetep di terusin....apa masih mau cari korban lagi tuh sekolahan.....
akabri aja kagak gitu bentuk nya
klo mau nguju mental bukan gitu mas
pening dech
apa yang di harapkan dari sistem pendidikan kayak gitu.
cuma akan melahirkan preman preman kelas ellite dan menghabiskan uang rakyat.
bagaimana system pengawasanya sudah berulang kali kok masih terulang lagi.
semenjak STPDN berdiri
semua anak bangsa menggadang dan menimang nimang
mengharap kelak akan terlahir pemimpin bangsa yang terpandang dan bijaksana
namun sungguh sayang
disaat bangsa terpuruk dan menunggu kelahiran idola
ternyata STPDN menyimpan preman preman terminalan.
( Sekolah Tinggi Penuh Dengan Dosa & Noda )
Pemerintah, tunggu apa lagi? Kalo nggak, entah siapa lagi yang jadi korban...
Masih banyak kok pendidikan tinggi lain yang berkualitas, mau yang gratis juga ada beasiswanya. Mau masuk militer juga TNI ada, gak usah yang "semi", yang "full" aja,lebih profesional, gak asal tendang, mati juga demi negara, gak mati konyol. mau jadi aparat sipil juga bisa kuliah di fakultas hukum atau jurusan lain yang diminati. Kalo pingin tinju-tinjuan ya jadi petinju aja, atau ikut perguruan bela diri, dapat medali, kaya, terkenal lagi kan! Kalo pingin jadi preman nongkrong aja di terminal, gak usah repot-repot ke Jatinangor. Kalo pingin disiplin ya dari diri sendiri aja, semua orang sukses juga berawal dari disiplin kok, lihat aja olahragawan, penyanyi terkenal, bintang film, politikus, pengusaha, atau orang sukses lainnya, mereka dapatkan semua itu dengan disiplin diri, gak perlu pake kekerasan juga mereka disiplin.
Salah besar kalo disiplin itu ditegakkan dengan kekerasan, terutama pada orang-orang pilihan, yang dikenal berotak diatas rata-rata dan disiplin di sekolahnya. Disindir aja pake kata-kata praja yang baru masuk itu pasti ngerti.. Kalo melanggar disiplin ya dikeluarin aja, mudah kan? Alasan kekerasan untuk penegakan disiplin cuma dibuat-buat untuk melegalkannya. Kekerasan emang sudah jadi budaya disitu.
Kalo aku sih AMIT-AMIT, OGAH MASUK IPDN, GAK ADA UNTUNGNYA, MENDINGAN CARI KEGIATAN LAIN AJA.
Bagusnya kampus IPDN dijadi-in tempat pembuatan film horror aja, kan lagi trend tuh... Judulnya mungkin "Barak bla bla bla.."
pa memang harus dengan kekerasan semuanya bisa berhasil ngak khan?
apa ngak punya otak mukuli anak orang ampe segitunya.
ingat karma itu pazti berlaku jadi siap-siap aja anda yang mukuli juniornya ampe mati.bisa aja anda itu yang mati ketabrak truk.
anda adalah orang-orang terpilih dan anda adalah dutanya para keluarga,dan dearah asal anda.kok anda ngak mikir.anda pintar tapi nggak cerdas.
saya ucapkan selamat berjuang ditempat yang lain bukan di IPDN.ana tidak cocok untuk berada di sana.anda lebih cocok untuk disel.selamat bagi para pembantai.
Sangat stuzu sama Junkerz side B, "Cuma masalah kecil".
ga boleh makan di warteg:krn ingin meng-eksklusifkan diri
aborsi ..
dan bangga wawancara di TV"kami sebagai calon abdi masyarakat ..."
sapa yang mau di pimpin ma orang2 geblek, pengecut, jahiliyah kaya gitu! PRESIDEN TEGAS! jgn mencla mencle ... sok sibuk dengan kegiatan luar negeri tapi dalem negeri musibah, trus menerus
BUBARKAN IPDN!
NGAPAIN DIGAJI ... NGABIS2IN ASET NEGARA AJA.
gedung IPDN mending ganti dengan PESANTREN, anak2 yang udah terlanjur kuliah di karantina aja ... di pedalaman!
rektornya penjarain
amit2!
Bener bahwa kebusukan didalmnya sudah sedemikian parah...
lagipula dalam UU SISDIKNAS (UU NO. 20/2004), sudah tidak dikenal lagi yg namanya satuan pendidikan selain dibawah departemen pendidikan nasional, kecuali satuan pendidikan militer dan kepolisian.
so? IPDN dah tidak punya landasan hukum...
labih dari itu apa yg terjadi didalamnya sangat menyesakkan dasa.
calon2 camat, lurah, sekda, bupati dan pejabata tata usaha negara kok berbuat seperti itu..
lebih parah lagi, dosen dan pengajar yang kritis dan punya hati nurani, yang mengungkap kekerasan dalam IPDN/STPDN malah terancam karier dan keselamatannya, karena mengungkap hal tsb..lucu...
IPDN=INSTITUT PEMBUNUHAN DALAM NEGERI
STPDN atau IPDN merupakan warisan orde baru,
Orde baru di dukung oleh tiga pilar utama, yaitu ABRI, GOLKAR DAN BIROKRASI, ABRiI dimentahkan lewat Sidang Istimewa MPR tahun 1999 dengan dicabutnya Dwifungsi Abri, Golkar telah berubah payung menjadi Partai Golkar, sedang Birokrasi tak pernah tersentuh.
Warisan paling bobrok dan memiliki latenitas yang cukup tinggi untuk menghancurkan negara ini adalah kalangan birokrasi. Untuk itu, Lebih baik Bubarkan saja STPDN/IPDN karena tidak sesuai lagi dengan semangat pembaruan daerah (otonomi daerah) hal ini sesuai dengan falsafah bangsa yang tidak menginginkan adanya diskriminasi pada jajaran birokrasi. Pemerintah perlu Staf Birokrasi, cari saja di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Mulai dari Administrasi Negara sampai Politikus handal diluluskan disana jadi bukan sebuah kendala berarti jika IPDN dibubarkan.
Rienis
lagi pula institut ini tidak punya landas hukum karna berdasarkan UU SISDIKNAS bahwa bahwa satuan pendidikan semuanya harus berada di bawah kendali DEPDIKNAS kecuali KEPOLISIAN dan MILITER .
jalan terbaik adalah memutus rantai generasi selama 4 tahun dengan tidak menerima siswa baru selama 4 tahun yaitu semua siwa yang perna mengalami penyikasaan dari senionya harus dihabiskan/di luluskan supaya tidak terulang pada adik-adiknya
perbaiki semua sistem yang ada di dalam dengan megedepankan pada keilmuan dan olah raga yang bebas kekerasan seperti pada Universitas
rektor harus mengundurkan diri sebagai bentui tanggung jawab
Lagipula, di era otonomi daerah ini pendidikan calon birokrat daerah yang sentralistis sudah tidak kita perlukan lagi.
Menurut saya, sudahlah kita nggak usah banyak cingcong pertimbangan ini itu, jatuhnya malah berulang-ulang.
Sejak 2003 kasus Wahyu itu kan sudah banyak yang kasih pertimbangan, buktinya mana... jangan-jangan yang bicara itu yang justru kena lever...
a. Masuk kuburan, atau
b. Masuk Penjara
Pilih mana?
Kurang satu pilihannya mas, yaitu menjadi korban luka-luka...
ga ada yang bener dari sekolah ini. kalo lulusannya kaya gini!!gimana and kapan negara ini bisa maju!!!!!
kita tetap aja jadi indonesia yang bermental bobrok karna didikan utk pemimpin kecamatan/kel aja kaya gini...
STPDN..gimana caramu utk mengembangkan negaramu??
apa harus pake korupsi lageee??!!!seperti caramu menutup kasus di kampusmu dengan membayar 200 juta maka pembunuhan yang kamu lakuin akan ditutup???
apakah kalian masih punya hati nurani??
dimana kalian menyimpannya???
Mau SPTDN keq IPDN keq apapun namanya kalau kekerasan sudah tradis TIDAK ADA jalan lain kalau DIBUBARKAN SAJA, apalagi bertentangan dengan UU DikNas.
(Akabri saja yg jelas militer tidak seperti itu).
Asal tahu saja, duit yang dipakai untuk membiayain para maniak itu adalah duit rakyat, dari pajak yg kubayar, pajak yang sampeyan bayar ...... sementara rakyat beli minyak tanah ngantri (mana harganya muahal lagi), beli beras mahal & ngantri.
Sedih euy !
percuma jk mereka baragama, tapi tdk mengamalkanya. itulah kalo org2 sudah tdk bisa mensukuri nikmat yg diberikan o/ Tuhan Yme, dan syaitan + iblis yg menguasainya. akhirnya nafsu berkuasalah+sok biar kliatan 'serem' di dpn para juniornya, pdhl sama2 makan nasi bro....
udah sekolah gratis, BERTINGKAH PULA!!!
MEREKA GAK BERSYUKUR (SEKOLAH GRATIS), PDHAL MSH BNYK TEMAN2 YG GK BISA SEKOLAH KRN GEDUNGNYA ROBOH AKIBAT GEMPA BUMI.
mrk sekolah untuk ambil nyawa orang, gimana nantinya kalo udah jd birokrat???? uang rakyatlah yg bakal diambil pula (walopun hrs bunuh lagi).
IPDN = NERAKA DUNIAAAAAA!!!
masih bnyk koq sekolah2 bonafit yg bisa mencetak profesionalisme masa depan cerah n gaji GEDE!!
saran saya: bagi yg mo msk IPDN pikir2 lagi dah,... drpada nyawa anda melayang sia2!! trus sering ke dokter gr2 (buang2 uang) berobat gr2 luka memar/sobek
MILITERNYA IND AJA GK KYA GITU KOQ!
sudah dibayar rakyat,
diberi makan-minum, baju, dan tetek bengeknya,
di ajari smack down,
lulus jadi koruptor,
pas lah,
begitulah salah satu ,model pendidikan di depdagri...
kalau para pejabat IPDN tetap ngotot seperti itu... jangan kasih tuh uang rakyat pada mereka...
tujuan rakyat membiayai mereka bukan untuk penjadi jagoan tukang pukul plus koruptor...
lalu rakyat dapat apanya dong...
do'a orang yang teraniaya akan terkabul.
kalau rakyat sudah dianiaya do'anya akan terkabul... maka hati-hatilah para pemimpin rakyat....
masihkah ingin sekolah di IPDN???
lulus pasti sukses jadi jagoan tukang pukul.
suruh ikut aja tuh para muridnya ke acara smack down...'kan dapat lawan yang seimbang...ok.
ingat bung...uang itu bukan uangmu, tapi uang rakyat.... jangan seenak udhelmu.
apa loe semua ga rugi ngelakuin penganiayaan kayak gitu?Tampang loe cakep2 n body loe sexy2, tapi kq suka main pukul anak orang aja? Gmn ntar loe kalo married ya? Apa ada yang mau??? Bisa2 calon istri kamu kabur semua tau!!!!!!!!!!
Hehehehe.....
Nah, simply, mereka kan cuma dapat sedikit sekali (untuk mengatakan tidak ada.. he..he..) pengembangan pada intellectual buildingnya.
Mendidik itu kan mustinya dengan cara yang benar. Bukan dengan cara yang seperti itu. Pakai dong bahasa manusia (Thukul, 2007), bukan bahasa pukul dan tendang yang sama sekali ahumanis.
Mang goblok bgt tu senior2. Latihan fisik aza sampai ngalahin polisi ma ABRI. Mo jadi camat aza sampe dipukuli kyax gt sey.
Ga jadi camat malah jadi mayat. Malah dapet gelar almarhum
TRAGIS BANGEEEET!!!!
duit rakyat ngapain buat makanin bajingan2 tengik..! gerombolan pembunuh..! bandit2 berhati iblis..!
Lha gimana menang, kalau mata kita ditutup sapu tangan, disuruh berjajar dan dipukuli secara keroyokan,
ngomong2..pajak yg sering saya keluarkan itu buat anda2 yah?
saya liat FSnya S-T-P-D-N, kok para alumninya makin banyak mendukung ya?bukannya menyadarkan adik2nya..
eh iya, maaf yah klo nanti kita ketemuan saya sudah bersumpah mau LUDAHIN muka kamu2 yang "mahasiswa" IPDN, gpp kan?iklas ajah..baru di LUDAHIN bukan di remukkin TESTISnya...
buat "perempuan" IPDN bayak yang berjilbab tp masih perawan setelah lulus kan? jangan sampe ketauan CHEK-In yah di DAGO...
Gx ada Otk Klen Sebagai Manusia.........
" F " IPDN
tapi anehnya kok saya sehat2 saja yaaa???
alhamdulillah sampai sekarang diberi kesehatan oleh ALLAH SWT.
trus yang ngomong diatas tadi pengen bukti apa???
mau rekam medis saya????
boleh....
dah ngerasain mukul junior luh?? dah ngerasain KORUPSI berapa banyak luh?? *LOL*..
buktiin aja lu bisa ngomong disini klo luh emang hasil didikan tuh SEKOLAH MAKSIAT.. dan lu bisa lulus jadi pegawai tanpa korupsi?? Bwahahahaha....
ga usah jauh-jauh... berani lu sumpah gitu disini???
ngomong2..pajak yg sering saya keluarkan itu buat anda2 yah?
saya liat FSnya S-T-P-D-N, kok para alumninya makin banyak mendukung ya?bukannya menyadarkan adik2nya..
eh iya, maaf yah klo nanti kita ketemuan saya sudah bersumpah mau LUDAHIN muka kamu2 yang "mahasiswa" IPDN, gpp kan?iklas ajah..baru di LUDAHIN bukan di remukkin TESTISnya...
buat "perempuan" IPDN bayak yang berjilbab tp masih perawan setelah lulus kan? jangan sampe ketauan CHEK-In yah di DAGO...
mari berpikir logika.......
sudah terbukti...kok masih....ngotot.......
disengaja atau karena kerjaan iseng senior....
tapi yang menjadi korban itu manusia....bukan ayam ............
membunuh ayam tanpa alasan saja dosa.....
sekali lagi....ini manusia........
saya yakin...semua alumni STPDN pasti egois dan gak mau terima kenyataan.......
inilah kelemahan bangsa kita....yang gak mau terima kenyataan ..kalau SDM bangsanya bobrok dan mudah di adu domba....dan mudah menerima isu tanpa melihat kenyataan.........
Banyak saksi dan bukti..gak usah ngotot...
kalau lulusan STPDN benar-benar berkualitas dan punya jiwa patriotisme.......
Kenapa korupsi di birokrasi gak pernah ada habisnya............???? Pendidikan macam apa....???
STPDN....sebaiknya dibubarkan saja.....
gak ada manfaatnya buat negara dan masyarakat...............
malah memonopoli lowongan kerja di lingkungan pemerintahan.....
Cetakan STPDN.....gak ada yang special....
mendingan lulusan anak madrasah ......
mAIH PUNYA IMAN DAN MORAL.............
saya ingin mengajak untuk kita berfikir secara logis, bahwa kita mengenyampingkan begitu banyak kasus kematian, yang diakibatkan oleh pembinaan fisik, baik itu dinamakan ospek, mapram dll, yang dilakukan oleh institusi pendidikan,tetapi kenapa hal tersebut terkesan dingin....................
Dan sekarang satu kasus kematian Cliff M, Menyudutkan satu lembaga secara keseluruhan. Masih banyak hal positif yang dapat dilihat....yang bisa kita lihat konkritnya, Gubernur Jawa Barat merupakan Lulusan APDN (cikal bakal STPDN)dan banyak lagi pejabat yang mungkin tidak bisa saya sebutkan.......
jangan hubungkan semua birokrat dengan koruptor, apalagi dengan menghubungkan IPDN didalamnya, insyaalloh tidak semua saya jamin begitu, masih banyak yang secara amanah memegang amanat rakyat dengan sepenuh hati.........
saya kira (bukan maksud saya takabur) siswa yang masuk IPDN bukan siswa yang IQ jongkok, tetapi memang mereka cukup berprestasi shingga dapat melewati begitu banyak tes dalam seleksi masuk Sekolah tersebut, dari situ, apakah kita menilai orang2 yang masuk kedalam sekolah tersebut memiliki bibit preman?????
apalagi didalamnya orang2 yang cukup berprestasi tersebut dididik lagi dengan didikan yang cukup, sehingga, apakah dengan didikan tersebut keluar output menjadi seorang preman, atau orang yang tidak memiliki hati nurani, terlebih lagi didikan agamanya cukup baik...
jadi mari kita berfikir dengan dewasa, untuk membedakan antara tingkah oknum dengan tidak menilai dan memojokan satu institusi............
saya beri analogi sederhana, jika suatu saat ada wanita cantik dihadapan kita, apakah kita dapat melihat kecantikannya dengan hanya melihat dari belakang?????yang kita lihat hanyalah punggung wanita tersebut,...apakah kita dapat menilai dia cantik dengan hanya melihat punggungya??
hal tersebut yang terjadi dengan lembaga IPDN, Lembaga tersebut telah dipojokan sehingga titik positif yang ada pada lembaga tersebut hilang sama sekali..........jadi masyarakat telah digiring kepada satu sudut pandang saja dengan tidak melihat sudut pandang yang lain.....
Lembaga tersebut memang salah, tetapi tidak bijak jika harus munyudutkan, menghujat, menghina dll, tetapi akan lebih bijaksana apabila kita memberikan kritisi kita yang membangun........................APAKAH JIKA NEGARA INDONESIA MEMILIKI KESALAHAN YANG BESAR, NEGARA INDONESIA HARUS BUBAR........................................??????
TERIMA KASIH, saya harapkan saudara-saudara saya se tanah air dapat ikut berfikir secara dewasa dan bijaksana...............................................
thanks............ ank 14
solusi, low kasih contoh sikap yang berbudaya n merakyat buat diri low, depan muka low, sebelah low, sampe sekeliling low.
solusi, pendidikan yang bijak adalah pemikiran yang kritis dari hal paling sepele sampai terberat, apakah sudah diterapkan pada KAMPUS low?
solusi, KAMPUS itu kumpulan orang2 pilihan yang sehat rohani n' ragawi, apakah sudah dijalankan di KAMPUS LOW?(bukan orang gila)
solusi, kalo low semua pada LULUS, silakan kita silahturahmi, kali aja gw tau seberapa jauh otak low dalam berpikir n' sebagai kaum muda coba buat sesuatu yang berharga bisa dilihat oleh masyarakat, bukan uang tilepan di kas desa2.
gmn?
Teman mari kita berpikir bijak jangan hanya memojokan, mengolok-olok, mencela, menghina, dll….
saya yakin teman2 di luar sana lebih arif, lebih bijaksana, lebih pandai, punya intelektual yg baik tidak seperti senior2 STPDN (katanya calon koruptor, tidak punya hati nurani dll)
mari kita analisis berita yg berkembang :
1. Berita yg menyatakan bahwa yg meninggal karena kekerasan berjumlah awalnya 35 orang kemudian menjadi 27 orang.
mari kita berpikir logis, STPDN/IPDN sampai sekarang baru mencetak 18 Angkatan jika kita rata2kan berarti dalam satu tahun terjadi 1-2 orang yg menjadi korban kekerasan, tapi apakah kebuktiannya seperti itu? apakah sebejat itu praja STPDN yg nota bene perwakilan yg masuk ke STPDN hanya 2 dr masing2 Kab/Kota?
jika memang dalam satu tahun terjadi pembunuhan 1s/d2 orang saya yakin tiap tahun akan terjadi tawuran antar angkatan dan pasti tiap tahun akan mencuat ke media. tapi kebuktiannya tidak seperti itu.
2. berita yg menyatakan bahwa telah terjadi sex bebas sampai 600 lebih kasus antara tahun 2000 s/d 2006 atau selama 6 tahun (Sumber Inu Kencana)
jika kita rata2kan berarti dalam setahun telah terjadi sex bebas sebanyak 100 lebih, mungkinkah seperti itu???? dimana Praja hidup dalam asrama yg dihuni oleh sekitar 50 orang serta diawasi.
3. andaikan kejadian kasus meninggalnya Cliff Muntu 10 tahun kemudian, menurut teman2 video amatir mana yg akan ditampilkan???? saya yakin video amatir itu yg akan ditampilkan.
yg saya tau video itu hasi rekaman kegiatan pelantikan anggota Drum Band STPDN tahun 2003 sebelum terjadinya kasus Wahyu Hidayat Alm. apakah memang STPDN tidak melakukan Perubahan??…..
pada tahun 2003 telah terjadi pemisahan antara senior dgn juniornya, dimana seniornya kuliah di IIP Jkt, sementara juniornya di Jatinangor, jika Teman2 mendengarkan jumpa pers yg dilakukan oleh Praja, Wakil Gubernur Praja menyatakan bahwa “Saya tidak pernah dipukul oleh senir dan tangan saya ini tidak pernah memukul junior” pernyataan itu adalah benar karena rantai kekerasan telah terputus semenjak seniornya dipindahkan ke Jakarta. Lantas kenapa terjadi lagi…?
Cliff Muntu Alm. adalah praja yg rajin ikut ekstrakulikuler, Alm. mengikuti korp Drum Band, Polisi Praja, Ketua Utusan, dan Pasukan Tanda Kehormatan (Pataka) yg nota bene organisasi tersebut adalah organisasi yg cukup bergengsi di STPDN shg mungkin karena egonya dilakukan “Pembinaan” yg keras, jika teman2 mengikuti berita terus dapat kita ketahui bahwa “Pembinaan” terhadap Cliff Muntu terjadi setelah kegiatan selesai atau setelah apel malam (apel malam dilaksanakan jam 21.00) sebagaimana diungkapkan oleh Rektor STPDN bahwa kegiatan ini adalah ilegal dan dilakukan sembunyi2. padahal tidak jarang organisasi diluar STPDN pun (Organisasi di Universitas lain) banyak terjadi korban penganiyayaan oleh seniornya, tapi kenapa sampai ke lembaganya dipojokan bahkan alumninya juga tidak luput? padahal STPDN telah melakukan perubahan.
4. berita yg menyatakan bahwa kasus narkoba sampai ribuan, ya silahkan rata2kan sendiri oleh teman2 sekalian selama 6 tahun sampai ribuan, apakah sebejat gitukah praja STPDN, padahal mereka masuk ke STPDN melewati berbagai test, apakah pemeriksa kesehatan dr masing2 daerah lemah sehingga pecandu2 narkoba bisa lulus ke STPDN.
Pesan buat teman2 yg budiman jangan hanya melihat apa2 yg diberitakan oleh media, kemudian membenci, memaki, anti STPDN (anti kekerasan Ok) tanpa mengetahui sebenarnya apa yg terjadi sesungguhnya dan yg paling diperlukan bukannya cacian atau makian tapi bagaimana upaya untuk memperbaikinya. berikan solusi bukan cacian!….
dan sampai sekarang ini belum terbukti bahwa alumni STPDN adalah birokrat yg dekat dengan korupsi, atau tidak berhati nurani. bahkan di setiap daerah alumni STPDN dapat dipercaya dan mampu melaksanakan amanah, alumni APDN/STPDN sudah banyak yg diberikan kepercayaan mulai dari Menteri Negara, Gubernur, Walikota/Bupati, Kepala Dinas, Kepala Badan, Camat, Lurah dll ini menunjukan bahwa memang alumninya mempunyai kualitas yg lebih….
terima kasih atas kesempatan teman2 membaca tulisan ini…
Idealnya lulusan dari lembaga ini akan menjadi Pamong Praja, Pamong Praja model apa yah..?
Kalau dibilang alumni STPDN berprestasi.. Saya belum pernah dengar... tentunya berprestasi dalam hal-hal yang baik untuk rakyat dan negara. Bisa kasih contoh ke kami ap aprestasi yang sudah dihasilkan alumni?
Kalau hanya sekedar bisa jadi camat, SekDa, judan SekDa kita semua sudah tahu bahwa itu semua tidak menjamin suatu prestasi. Karena apa? Kareana sistem yg berlaku pada bangsa kita mengenai proses penerimaan pegawai negeri saja masih banyak terjadi tidak KKN. Jadi prestasi apa yg bisa dibanggakan?
Apakah sekedar jadi Camat, SekDa, Bupati sekalipun itu sudah dianggap prestasi? Ingat bung.. Prestasi itu harus sebanding dengan jasa yg diberikan utk rakyat dan negara. Dan ini yang menilai bukan si pejabat itu, tapi rakyat.
Sayang sekali kalau lemabaga ini benar-benar menjadikan lulusannya menjadi birokrat. Lha wong ngurus sistem pendidikan aja nggak bener...
Gimana mau jadi birokrat yang baik.. kalau waktu yang dihabiskan para praja-ny ahanya utk kegiatan2x fisik.
Militer identik dengan disiplin atau sebaliknya, atau ada juga yg bilang disiplin miliknya militer. Duh sapa sih yang pertama kali mengutarakan kalimat2x bodoh ini???
Kita lihat lembaga kedinasan lain seperti STAN ( wkt masih pake kedinasan, gak tahu kalo sekarang) misalnya. Di lembaga ini diterapkan disiplin tinggi, buktinya kalo mahasiswanya gak lulus 1 semester aja langsung di copot.
Kalau IPDN masih juga mau dipertahankan, saran saya adalah untuk ganti nama lagi menjadi SPPP (Sekolah Polisi Pamong Praja) dan lulusannya yah paling tinggi jadi Polisi PP (Pamong Praja) aja. Karena apa yang mereka pelajari gak cukup buat jadi camat apalagi birokrat negara.
tidak usah dibubarin...... sayang nanti dengan assetnya malah bisa membuat masalah dan "peluang" baru...
ganti aja IPDN jadi STPP (Sekolah Tinggi Pamong Praja) yang outputnya Satpol PP, Kamtib ato Tibum
malah 'saking gumun' (bhs jawa: heran banget) kalau mereka saat ini berada di bawah payung pemda-kota bandung. ada yang sebagai sekretaris pribadi petugas pemda/sekda/apalah ... (maksudnya : pengawal pribadi !!!) yang gajinya sudah masuk alokasi apbd ???
hmmm sampai di sini saja kita bisa lihat kalau ada banyak yang mata hatinya sudah tertutup, kalau telinga sehat mereka juga sudah tertutup dan kalau kalbu sejati mereka juga sudah tertutup.
mudah2an kita senantiasa terjaga dari sumum umyun bu'mun seperti itu.
stpdn/ipdn sebagai institusi memang gak bisa dibilang salah. tetapi kalau para pengambil kebijakan (baca:mendagri & presiden) dan pelaksana di ipdn sudah tertutup mata,telinga dan hati-nya ... ya susah. bisa apa kita ?
benar pepatah :
karena nila setitik, rusak susu sebelangan.
(susu pasti dibuang deh tuh)
karena penganiayaan berulang di stpdn/ipdn, institusi itu mesti dibubarkan
(yach ... emang gitu harusnya kalo mo ikut hukum alam)
pak mendagri dan pak presiden yang terhormat (mereka pada baca ini gak yach ?) tolong jadi manusia biasa sebentar saja untuk melihat hal ini (lupakan diri sebagai menteri atau presiden) ... jadi manusia bisa sebentar aja yach.
selamat bekerja pk mendagri dan pak prsiden. selamat bekerja alumni stpdn/ipdn. semoga ALLAH memberikan hidayahNYA agar semua dapat beribadah dalam pekerjaan kalian.
kalau mau komentar pribadi, tujukan ke arif dot avianto et gmail dot com
Duh gusti kapan Indonesia bisa jadi 4 besar padahal negara besar dengan potensi besar tapi yang berkuasa orang picik yang sombong dan arogan tak tahu malu makanya ngga heran orang2 pintarnya banyak yang kabur ke luar negeri...
solusi, low kasih contoh sikap yang berbudaya n merakyat buat diri low, depan muka low, sebelah low, sampe sekeliling low.
solusi, pendidikan yang bijak adalah pemikiran yang kritis dari hal paling sepele sampai terberat, apakah sudah diterapkan pada KAMPUS low?
solusi, KAMPUS itu kumpulan orang2 pilihan yang sehat rohani n' ragawi, apakah sudah dijalankan di KAMPUS LOW?(bukan orang gila)
solusi, kalo low semua pada LULUS, silakan kita silahturahmi, kali aja gw tau seberapa jauh otak low dalam berpikir n' sebagai kaum muda coba buat sesuatu yang berharga bisa dilihat oleh masyarakat, bukan uang tilepan di kas desa2.
gmn?
(otak TRI..lagi GUOBLOK yah?)
Anehnya, kenapa awalnya perlu ditutup-tutupi? Itu yang mengherankan...
belum lagi hasil otopsi mayat Cliff di suntik formalin tanpa ada alasan jelas bukankah ini melanggar hukum?
memang untuk membenahi oknum gak harus membubarkan institusinya, tapi jumlah oknumnya berapa? saya yakin banyak! dan mereka ini saya yakin justru yang mempunyai power yang besar di institusi
saya berasumsi karena hal itulah maka banyak praja-nya cuma hanya bisa diam dan bungkam seperti pengecut, meskipun mereka sebetulnya mengetahui ada pelanggaran hukum yang terjadi.
bahkan ada lulusannya yang menjadi terpidana masih bebas dan malah menjadi PNS...aneh? untuk kasus ini bagaimana tanggapan para alumni STPDN/IPDN?
paling juga bungkam pura-pura tidak mengetahui atau bahkan menganggap bukan urusan mereka!
sebetulnya saya pingin tahu idealisme para praja IPDN itu seperti apa?
kalau ingin mengabdi ke masyarakat kok pola pendidikannya seperti ini trus nanti kalo menghadapi masalah dilapangan setelah jadi pamong bagaimana coba? keras dilawan keras begitukah?
belum lagi kalau ada kasus seperti ini cuma diam. sebetulnya apa yang mereka takutkan?
apa demi mejaga nama baik daerah trus mengesampingkan kejujuran?
padahal kan ganteng-ganteng tu .
moga-moga sistemnya bisa dirombak total , biar calon pamong prajanya gga cuma ganteng tapi berakhlak dan bermoral .
kalo gitu sih mau de gw jd cewenya .
hahaa
disiplin militer yang da di IPDN pada awlnya bkn untuk mengambil korban , tapi yang ingin saya tekankan disini , pend.agama hrs ada tidak hanya pen.militer ja yang di butuhkan , apapun yang terjadi ktkn dengan sejujur-jujurnya , krna utk kebaikan kt bersama nantinya, saya yakin orang - yg brskolah disana adalah orang 2 yang pintar , bukan orang2 yang jahat, hal itu yang sangat kami harapkn..................
ajaib emang negara kita
kalo lulusan STPDN/IPDN memang berprestasi,prestasi itu untuk siapa??? diri sendiri atau untuk masyarakat???
Fungsi dari pembinaan kedisiplinan dengan penganiyayaan itu apa???
Menurut saya untuk menjadi seorang birokrat tidak perlu dengan membuat fisik birokrat menjadi kuat,tapi buat rohaninya menjadi kuat biar sadar nggak merugikan orang lain.
semoga bermanfaat buat Praja2 STPDN/IPDN dan juga yang lain2nya
IPDN memang gagal memanfaatkan kesempatan yg diberikan. Tp lebih gagal lg jika kita yg "WARAS" tdk melakukan perubahan apapun baik bagi diri sendiri, keluarga terlebih BANGSA.
Sy alumni AKADEMI KEPOLISIAN, yg sedang merubah diri. GBU
Sampai bertemu REKAN-REKAN saat GENERASI kita memimpin NEGERI ini... AMIIIN.
peace.....
kakak kelas kurang ajar tu.sok brani kalo ga ada yang ngawas.begitu disuru rekonstruksi ulang kejadian,mlah pura2 gak bisa mukul. cemen banget.
duwwhh padahal akuu pengen banget bisa masuk IPDN,soalnya kakakku jadi orang yang sukses lulus dari sana.
moga bener2 dibangun ulang dehh sistem pendidikan disana,biar aku juga gak was2 lagi,he.
BTW, kakakmu dulu suka mukul-mukul nggak ?
maju terus IPDN.
seburuk buruknya IPDN, masih lebih baik dari universitas universitas lain yang justeru sebagian besar mahasiswanya bejat (banyak loh peneliti dan penulis yang mengakuinya, koran koran juga, ayoo ngaku ajaaa )
yach udah dulu ya..ntar gw lanjutin lagi. kita diskusi yang lebih terarah, lebih ilmiah.
Ndak usah banyak debat, time will tell. Anda beraninya main keroyokan sih.. jadinya saya neg banget. Masih keren preman satu lawan satu tanpa yang satunya ditutup muka
Akan jadi penganiaya atau tidak saat jadi senior adalah kembali ke hati nurani mereka masing-masing. Tolong dipahami, paling mudah melakukan kritik dan membongkar keburukan orang lain, tapi coba kita tes diri kita masing-masing untuk membongkar keburukan kita kepada orang lain, sanggup?
Teorinya jelas sanggup, prakteknya? Nanti dulu. Apa iya kita mau ikut disamakan/divonis telah melakukan kebusukan yang teman kita lakukan? Prihatian memang perlu, caci maki? Rasanya hanya akan menambah keruh suasana dan tidak akan memperbaiki kerusakan yang terlanjut terjadi. Saya salut untuk pak Inu yang membongkar kekerasan di sana, tapi Saya juga berharap kuat tidak ada setitik pun informasi yang bohong dalam pernyataan beliau serta dalam buku IPDN Undercover, karena itu akan membuat hancur lebur nama baik beliau. Kita harus tetap ingat, manusia adalah tempat salah dan lupa. Janganlah bersikap seakan-akan kita berhak dan harus mencaci maki kesalahan orang lain, lebih baik memperbaiki diri sendiri dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk menjadi baik. Mohon dimaafkan kalau ada yang tidak suka dengan pernyataan Saya ini. Buat bung admin, trims berat. Wassalam.
La wong dosa2 soeharto aja udah kita lupain kok
kasus IPDN, depdagri, hakim, masyarakat lupa tuh pembunuhan wahyu hidayat.. sampai si pembunuh udah jadi PNS enak tenaaaann.. kalo Cliff gak mati, ga bakal diusut tuh. Thx to Cliff.. eh ini kita mau melupakan lagi hihi.. dasar endonesia.. pas ada kasus baru kayak Pasuruan, kasus lama kayak IPDN udah ga dibahas lagi, dan ujung2nya sama kayak setelah si Wahyu tewas.. lupa!
wendi mati karena mabuk.......
kita buktiin 20 tahun kedepan orang-orang yang telah menghujat ipdn akan sangat menyesal....
ombak yang tenang tak akan melahirkan pelaut yang tangguh....
BHINEKA NARA EKA BHAKTI........
ga smua yang lo liat jg bener..
1 hal yang ga lo tw...
gmn ngejalanin hidup ini disini..
dgn penuh makna dan warna
cz orang yg udah tinggal dsni bakalan bilang..
klo tiap langkah yg kami pijakkan diksatrian neh bgitu indan n' memorable bgt..
i love them who always support us...PRAJA IPDN
angkt.18 never die like GITA ABDI PRAJA
Jadi, saran aku: nggak usah di bubarin, tapi sistem Senior-Yunior itu yang harus di DISIPLINKAN, di kawal ketat oleh yang bertanggung jawab, yang nggak asal ingat suap aja.
Buat Kamu Praja: aku salut Kekompakan kalian tapi kekompakan yang benar adalah kekompakan yang sesui dengan fakta, tidak merugikan orang lain dan berlandaskan PANCASILA.
Cuma orang BODOH yang ngeliat sesuatu cuman dari satu sisi saja,,brarti tu orang gak dewasa-dewasa,,fiuUh,!!kasian banget orang tuanya,,udah ngedidik anak sulit2,,eh anaknya gitu gitu aja,,ngejelek-jelekin sesuatu yang sebenernya dia nggak tau pastinya lagi,,duh,,duh,duh..
ayo smangaaat,!!!
IPDN pasti bisa memberikan yang terbaik BAGI MASYARAKAT,BANGSA DAN NEGARA,,
PASTI BISA,!!!!
amieeenn,
pASti adDa jU9a tArunaNYA yang masiH pny hAti nUrani..
jAngan p'nAh melihat bUku dari Covernya..
Apapun namanya, kekerasan bukanlah jalannya bung...
Note : Ilustrasi Gambar diambil dari 
. Nick name Muhammad Rivai Andargini, nama yang dipakai sejak SMP dan sekarang menjadi nama anak
. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.
Note : Gambar diambil dari berita SCTV saat kejadian tahun 2003. Baca baik-baik berita SCTV tersebut dan bandingkan suara serta tipe para penentang pembubaran IPDN saat ini dengan orang-orang yang saat itu menentang pembubaran STPDN. Umumnya terbagi 2,
Tracked: Apr 12, 02:57
Note : Gambar diambil dari berita SCTV saat kejadian tahun 2003. Baca baik-baik berita SCTV tersebut dan bandingkan suara serta tipe para penentang pembubaran IPDN saat ini dengan orang-orang yang saat itu menentang pembubaran STPDN. Umumnya terbagi 2,
Tracked: Apr 12, 02:57
Note : Gambar diambil dari berita SCTV saat kejadian tahun 2003. Baca baik-baik berita SCTV tersebut dan bandingkan suara serta tipe para penentang pembubaran IPDN saat ini dengan orang-orang yang saat itu menentang pembubaran STPDN. Umumnya terbagi 2,
Tracked: Apr 12, 02:57