STPDN, IPDN dan Paradigma Kekerasan dalam Pendidikan


:: Feed Reader & Email Subscription ::

Kamu bisa membaca Blog Vavai menggunakan feed reader. Gunakan alamat feed reader ini. Kamu juga bisa mendapatkan email notifikasi setiap ada update pada blog ini. Silakan klik disini untuk mendaftar notifikasi.

STPDN, IPDN dan Paradigma Kekerasan dalam PendidikanTuesday, April 3. 2007


Trackbacks

IPDN-STPDN, Jejak Kekerasan jangan sampai Dilupakan !
Note : Gambar diambil dari berita SCTV saat kejadian tahun 2003. Baca baik-baik berita SCTV tersebut dan bandingkan suara serta tipe para penentang pembubaran IPDN saat ini dengan orang-orang yang saat itu menentang pembubaran STPDN. Umumnya terbagi 2,
Weblog: Blog Vavai
Tracked: Apr 12, 02:57
IPDN-STPDN, Jejak Kekerasan jangan sampai Dilupakan !
Note : Gambar diambil dari berita SCTV saat kejadian tahun 2003. Baca baik-baik berita SCTV tersebut dan bandingkan suara serta tipe para penentang pembubaran IPDN saat ini dengan orang-orang yang saat itu menentang pembubaran STPDN. Umumnya terbagi 2,
Weblog: Blog Vavai
Tracked: Apr 12, 02:57
IPDN-STPDN, Jejak Kekerasan jangan sampai Dilupakan !
Note : Gambar diambil dari berita SCTV saat kejadian tahun 2003. Baca baik-baik berita SCTV tersebut dan bandingkan suara serta tipe para penentang pembubaran IPDN saat ini dengan orang-orang yang saat itu menentang pembubaran STPDN. Umumnya terbagi 2,
Weblog: Blog Vavai
Tracked: Apr 12, 02:57

Comments
Display comments as (Linear | Threaded)

nauzubillahi min dzalik...terulang LAGI!!!!
miris rasanya punya calon birokrat dan pamong praja seperti mereka...sudah dibiayain mahal2 pake APBD/APBN, bertingkah bak jagoan dan minta dilayani dimana2, belum lagi tindakan amoral....nauzubillah...

masih mending kami yg lulusan sekolah bayar sendiri....itung2 kalo pun bertindak aneh, tp gak ngebebani negara
#1 ruslee (Homepage) on 2007-04-03 23:50 (Reply)
Kebangetan memang mas. Mendengar STPDN atau IPDN yang terbayang malah bukan lembaga pendidikan, tapi lembaga yang lekat dengan kekerasan.

Apalagi, sejak tahun 1990 hingga 2004 setidaknya terjadi 35 penganiayaan berat yang berakibat pada kematian.
(kutipan Kompas)

Aneh banget kan...
#1.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-05 00:05 (Reply)
lu tu dah ngabisin uang rakyat ga ngerasa ya? mending IPDN bubarkan aja, dananya bisa buat anak2 rakyat yg ga pernah merasakan senengnya merasakan pendidikan. Gua jg br ngerti kalo selama ini negara dipercayakan pada preman-preman berdasi......... dah memakan uang rakyat .......... sombong lagi!!!!!!!!!
#1.1.1 Anonymous on 2007-04-19 21:07 (Reply)
BAGI YANG KAGAK TAU KEHIDUPAN DI STPDN/IPDN JANGAN BANYAK CINGCONG .... lU DIAM AJA, LIHAT,DENGAR DAN ARTIKAN SENDIRI GIMANA TENTANG STPDN DI TELEVISI.Semua itu hanya tayangan yang direkam oleh orang yang pernah dididik di STPDN, dan melanjutkan S2 nya di STPDN lagi, kalau saya tidak salah orang tersebut sengaja merekam kegiatan dimaksud dengan alasan akan dijual untuk biaya S2 yang tersendat dan juga biaya tingkah laku selama di Bandung. Hehehehehe munafik lu adikku. Saya yakin kekerasan yang ditunjukkan di tV dengan saat ini adalah kegiatan atau kekerasan yang dilakukan pada Tahun 2002/2003. Diulang dan terus diulang untuk menjelekkan citra IPDN yang sudah mengarah menjadi baik.Kematian yang karena kekerasan hanya ada 3 bukan 35 orang seperti yang dibicarakan oleh Inu Kencana Syapi atau lembu. Bertobatlah inu kencana sapi. Berkedok agama tapi pengkhianat. Bukan begitu caranya menjadi Pahlawan. Yah begitulah yang bisa saya beritahukan.......
#1.2 Syaiful Ashri AP on 2007-04-12 09:28 (Reply)
lu...dasar dah bejat moralnya, dah ada yng mati baru berkoar, klo lu merasa berdosa, sama teman2 yg menganiaya yg tlah twas lu..mau bertanggung jawab....?, inu juga, dah pusing...dan dah lama dia pengen ngasih informasi bahwa di ipdn/stpdn....tukang jagal., klo kata saya mah bubarin saja, soalnya klo dah jadi pejabat rakyat malah pada takut.
#1.2.1 dd on 2007-04-12 10:37 (Reply)
jangan marah lah boss! kita tau ko` anda semua(Praja IPDN) manusia yg Hebat. Buktinya banyak calon birokrat yg ada d indonesia hasil dari IPDN.Tapi jangan lah menutup mata akan kenyataan,anda ini..... kejadian yg memang betul2 mencoreng nama IPDN itu sebenarnya karena ulah manusia yg arogan,egois dan F#$king asshole!!!
Apa anda termasuk orang itu?

Tapi setelah duapuluh taun belajar d indonesia dan merasakan kehidupan d indonesia(saya sih lahir d indonesia juga sih,ortu ind asli) saya jadi cenderung tidak suka dng pola pikir orang indonesia yg Pintar Tapi "BODOH". Ramah tapi "PENJAHAT". Berbudaya tapi "#$%&=" . Beragama tapi "!#%$".
Bener lho!!
Dbandingkan negara yg saya tinggali sekarang mereka atheis tapi... jauuuuuuuh sama orang yg beragama seperti indonesia. Mereka disiplin tapi ngga ada yg sampai mati. soalnya kenapa?
d negara ini itu betul2 90% manusia yg d inginkan tuhan. Sedangkan d indonesia?!? manusianya...............ga tau deh!!!
Correct your self!!! (yg jelas saya dah correct diri sendiri, Nyesel jadi org ind!!)

So gimana pendapat anda?

klo anda ingin melanjutkannya silahkan meng add saya d YM "rev_liza@yahoo.com". disitu kita bisa ngomong banyak.atau kirimkan email anda d rev_liza@yahoo.com / ultramantaro34@usa.net
segala ketidak senangan anda atas tulisan saya akan saya jawab dengan senang hati.
#1.2.2 ferdy (Homepage) on 2007-04-15 11:51 (Reply)
heiiii!!! Loe kok sewot banget sih! Jangan2 elo juga termasuk yg suka nyiksa adik2 kelas elo dg sadis! Makanya gak terima STPDN/ IPDN dibuka kedoknya. Yang jelas, saya sih jauuuuuhhhh lebih percaya Inu Kencana! Soalnya kalo IPDN dah jadi baik pasca kematian Wahyu Hidayat, kenapa kok masih ada korban lagi? Lagian, rekaman video itu bukan satu2nya yg ditayangin di TV. Akhir2 ini terkait kematian Cliff Muntu ada banyak tuh kesaksian. Ada yg rekaman percakapan telpon pasca kematian Cliff, ada pengakuan ayah salah satu praja yg kebetulan saat kejadian ikut mengetahui persis proses tewasnya Cliff.
Pokoknya, yg ikut nutup2in kesadisan penganiayaan di IPDN, artinya dia ikut terlibat, minimal hati nuraninya sudah mati karena "merestui" kebiadaban merajalela di depan matanya. Yg begitu itu tuh, bukan manusia tapi srigala berambisi jadi aparatur negara! Amit2 deh gw punya pemimpin kayak gitu! Kagak sudi gw dipimpin aparat bermental preman! Kalo ntar jadi pejabat, punya kesempatan dikit aja pasti langsung korupsi sejadi2nya! Hah! Masih mau mungkir?!
#1.2.3 ira on 2007-04-17 09:18 (Reply)
ada solusi, kasih tau yang lain..ini mungkin media komunikasi, jadi tolong coment gw di publikasi.

solusi, low kasih contoh sikap yang berbudaya n merakyat buat diri low, depan muka low, sebelah low, sampe sekeliling low.

solusi, pendidikan yang bijak adalah pemikiran yang kritis dari hal paling sepele sampai terberat, apakah sudah diterapkan pada KAMPUS low?

solusi, KAMPUS itu kumpulan orang2 pilihan yang sehat rohani n' ragawi, apakah sudah dijalankan di KAMPUS LOW?(bukan orang gila)

solusi, kalo low semua pada LULUS, silakan kita silahturahmi, kali aja gw tau seberapa jauh otak low dalam berpikir n' sebagai kaum muda coba buat sesuatu yang berharga bisa dilihat oleh masyarakat, bukan uang tilepan di kas desa2.

gmn?

emosi low ga ada artinya!
#1.2.4 wanted on 2007-04-19 07:19 (Reply)
"BAGI YANG KAGAK TAU KEHIDUPAN DI STPDN/IPDN JANGAN BANYAK CINGCONG .... lU DIAM AJA, LIHAT,DENGAR DAN ARTIKAN SENDIRI GIMANA TENTANG STPDN DI TELEVISI."Coba amati cara ia bertutur kata ("JANGAN BANYAK CINCONG"). Apakah itu cara 'bertutur kata' oleh seorang yg katanya calon birokrat atau calon pemimpin bangsa ini?

Bagaimana kita bisa tau "the realnya" IPDN klo anda tdk menjelaskan scr gamblang apa yg terjadi di dlmnya, pengalaman anda pribadi,dlsb. Justru melalui forum ini,saatnya anda klarifikasi IPDN itu seperti apa?

Mengenai rekaman yg kata anda sengaja direkam oleh seorang oknum yang pernah dididik di STPDN dan melanjutkan S2 nya di STPDN lagi, loh udah tau lagi direkam, kenapa para pelaku malah makin asik aja mukulin+nendangin junior (pada tayangan itu). Padahal lagi masuk tipi loh (kamera maksudnya). Apa para pelaku saat itu gak malu atau mungkin ada tindakan pelarangan agar perbuatan meraka tidak direkam? Atau malah bangga buah hasil karya mereka direkam kamera?? Coba kalian amati kembali video itu. Terlihat ada yang janggal dalam pendokumentasian video tersebut. Dari segi timing pengambilan gambar yg diambil siang dan malam hari. Terus dilakukan di area terbuka, dimana seharusnya banyak orang yang tau, apalgi saat siang2 bolong.

Memang saya setuju kalau pemberitaan di TV terlalu memojokkan STPDN, padahal mungkin kalian masih inget sebelum berita tewasnya Cliff Muntu,pemberitaan salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi.... (yang ada di cibitung, bekasi, klo gak salah Perhubungan Darat, yang notabene lulusannya langsung bekerja di Dephub), tewas akibat kekerasan di kampusnya. Oleh pihak media sepertinya kasus itu di kubur dalam2, tidak melanjutkan investigasinya, dan sampai sekarang tidak tau bagaimana kabar pelakunya. Seharusnya pihak media juga harus berimbang dalam pemberitaan serta mengungkap kasus2 semacam ini. Jangan cuma STPDN aja yg disorot tapi semua kampus yg menerapkan budaya kekerasan juga harus disorot agar semua masyarakat tau.

Mengenai kekerasan di STPDN, tentunya perbuatan oleh segelintir oknum itu betul2 bukan perilaku yang masuk diakal (berarti gak punya akal dong?). Di kampus saya aja STTTelkom, yg sama2 "sekolah tinggi" dan sama2 status kedinasan (sampai tahun '97, klo sekarang udah nggak), belum pernah tuh ada budaya kekerasan apalagi pemukulan (mungkin bisa di kross cek sama alumni atau teman yang pernah kuliah disini). Paling yang gitu2 cuma ada di ospek aja. Dan hukuman maksimal kita hanya push-up atau lari keliling lapangan. Selama ospek kita juga selalu ada pengawas dan penanggung jawab lapangan. Sampai2 kita saat ospek dibedakan antara mahasiswa yg kuat fisiknya atau tidak. Bagi mahasiswa yg kurang kuat fisiknya (mungkin punya penyakit kambuhan seperti: maag, asma, dll) diberi level pita kuning atau merah. Setelah ospek (biasanya 1 minggu) ya sudah, ospek berakhir dan kita mulai kuliah. Dan perlu digarisbawahi disini ospek kita hanya sekali, yaitu ospek umum tadi yang hanya dilakukan 1 minggu. Dan sampai saat ini kita tidak mengenal tradisi senior-junior, semuanya sama bagi kami.
#1.2.5 Nuly Agustian (Homepage) on 2007-05-02 02:20 (Reply)
Heh anj*** loe Syaiful
Kaga ngerasain gimana sedihnya orang tua yang ditinggal anaknya mati sia-sia. Woiii panggil semua temen loe di IPDN kita Tarung!!!
AYO KITA GEBUKIN RAME2 SI SYAIFUL biar dia ngerti rasanya kematian
#1.2.6 Joko (Homepage) on 2008-08-20 11:01 (Reply)
Mau ganti nama apapun, kalau yang terjadi tetap seperti ini... Duh!

Kalau yang terjadi seperti ini, pantesan banyak muncul "premanisme" untuk urusan-urusan yang melibatkan produk pendidikan ini... huhuhuhu
#2 Thomas Arie (Homepage) on 2007-04-04 00:39 (Reply)
Benar Thomas. Waktu tahun 2003 terjadi masalah yang sama (tewasnya Wahyu Hidayat), orang banyak berkata, "semoga ini yang terakhir", nyatanya, deuh...

Jika model pendidikan seperti ini, bagaimana hasil keluarannya dong...
#2.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-07 03:48 (Reply)
Baca berita2 terkait bikin kepala pusing. Kekerasan lah, seks bebas lah, neriakin wartawanlah.. Bener2 sekolah orang idiot ! Bubarin aja !! Ngehe bener pajak yg gw bayar cuma buat orang2 sialan seperti itu !!
#3 Charly Silaban (Homepage) on 2007-04-04 04:09 (Reply)
Maklumlah boss, hal tersebut mudah terjadi kalau jarang ingat kalau pendidikan itu sebagian disupport oleh pajak para pekerja swasta macam kita ini :-).
#3.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-07 04:28 (Reply)
bubarin aza!!! :p
nampaknya lulusannya juga tidak cukup signifikan berprestasi... :-(
#4 Junkerz side B (Homepage) on 2007-04-04 21:21 (Reply)
Belum pernah denger sih lulusan IPDN berprestasi. Mungkin Chris John salah satu lulusan IPDN ya :-).
#4.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-09 22:56 (Reply)
Sirik loh,...gak lulus ya masuk IPDN?? orang bodoh mana bisa masuk IPDN,....Asal loh tau pejabat - pejabat di propinsi dan kabupaten itu 80% dikuasai lulusan APDN / STPDN / IPDN, mereka lebih hebat dibanding lulusan Perguruan tinggi lainnya,...apalagi lo orang sirik,..
#4.2 Super Power on 2008-10-10 10:02 (Reply)
cuma masalah kecil !

pada masa awal pendidikan stpdn dibawah pelatihan militer (baca:tni-ad) bentuk kekerasan jauh berbeda dengan yang terjadi kemudian.

pelatihan-fisik militer dengan palatih-jas yang terdidik tidak memukul tetapi 'mendorong' !

ayunan tangan (walau bentuknya tangan menggenggam) pelatih ke arah badan siswa/taruna berhenti sekian-mili dari badan lalu berubah menjadi dorongan ! dan si siswa/taruna akan terhuyung karena terdorong bukan karena terhantam ! ini beda dengan yang terjadi seperti pada cliff(alm) dan alm-alm lainnnya.

jadi memang goblog manajemen stpdn/ipdn yang membuang pelatih-pelatih dari militer dan menggantikannya dengan sistem senior melatih junior !!!

pelatihan semi militer (yang pelatihnya memang dari militer) akan membentuk watak - mental - kesigapan - atau apapun namanya menjadi lebih baik dan disiplin, tetapi tidak merusak kondisi fisik siswa/taruna.

sekali lagi ... kecil koq bedanya !
menghantam berbeda dengan mendorong !

saya yang sudah mengalami 'hantaman' (baca: dorongan) yang sekilas seperti hantaman/pukulan dari pelatih2 militer ... cuma 1 sakit yang saya rasakan : 'malu' !!! bukan memar/perih fisik !!!

memang militer lebih tahu diri dibanding siswa/taruna seniro yang melanjutkan tradisi pukul2an di stpdn eh ipdn.

saran sih : balikin lagi fungsi pelatihan oleh pelatih-terlatih dari militer !

mo stpdn/ipdn ditutup ? nha ... pemerintah juga gak punya kemauan ! tapi setidaknya manajemen ipdn bisa konsultasi ke pihak militer !!! ayo dong .. masa manajemen ipdn tetep GOBLOG !

okeh ... komentar pribadi untuk tanggpan saya bisa ditujukan langsung (japri) ke arif dot avianto et gmail dot com
#5 arif avianto (Homepage) on 2007-04-05 01:46 (Reply)
haruskah disiplin ditegaskan dengan kekerasan?????!!! Kemana sih si petinggi2 nya??? apa mereka senang dengan hal2 seperti itu??!!
#6 indah (Homepage) on 2007-04-05 04:00 (Reply)
Aneh, sekolah pamong praja koq kayak sekolah preman, sekolah militer juga bukan ? Yg jelas bukan hanya kekonyolan secara sistematis &terorganisir TETAPI KEGOBLOKAN karena selalu terulang & terulang lagi.
Solusinya sederhana :
1.Copot Rektor & berikut kebawah selaku penanggung jawab administratif & lapangan.Non Aktifkan tenaga pengajar.

2.Bubarkan STPDN/IPDN , Hentikan rekruitmen Siswa selama 1 Tahun & Lakukan fit & proper utk tenaga pendidiknya.

3.Ganti Kurikulum & Uniform / Seragam Militer dgn seragam Korpri atau yg lain Uniform /Seragam Sipil.

4.
#7 polisi pp on 2007-04-06 02:19 (Reply)
opo kui IPDN mang militer po sekolah calon birokrat jika lulus paling jadi koruptor macam-macam sik di embo miliet, paling jika lulus jadi koruptor buktikan aja,..... penjara yu rektor dan bidang pembinaan mental .
#7.1 yudha (Homepage) on 2007-04-07 20:29 (Reply)
Waduhh.... parah jug tuh. Kalo dilanjutin, entar kasus lagi, kalo dibubarin, sayang duitnya. Tapi, gua khawatir ama pacar gua di sana....
Kata Pak Dosen Inu,pada wawancara di Metro Hari Ini, cewek2 praja di sana diajarin jadi bi*pak, oh pujaan hatiku...Moga2 Alah SWT melindungimu selalu. Amin.
#8 sss on 2007-04-06 05:37 (Reply)
Mendingan yah...IPDN diganti namamya seperti semula menjadi STPDN (Sekolah Tinju Perguruan Dalam Negeri). Dan Rektornya jadi Manager Tinju yang dibantu sama Pembantu Rektornya yang menjadi Pelatih2 Tinju Senior. Habis itu ikut Gelar Tinju Profesional Indosiar pasti banyak yang nonton...

Sudah tidak jamannya lagi militerisme kepada warga sipil. Gimana nantinya klo sdh terjun di masyarakat, masa rakyatnya dipukulin sampai retak2 dadanya???? Metode disiplin bukan seperti itu Mas !!!! Sekolah aja gratis banyak gaya, mendingan kami yg sekolah bayar sendiri.....
#9 Fikri Ruliandi on 2007-04-06 06:06 (Reply)
Dear, All

Sungguh menyedihkan ditengah deraan derita masyarakat yang tak kunjung henti, kok ya lagi-lagi para calon " pamong praja "ini bertingkah bak preman menyiksa hingga tewas yuniornya !.

Memalukan sungguh memalukan bukannya perbuatan terpuji sebagai cermin calon pengayom rakyat yang dipentaskan, tapi justru perbuatan yang menakutkan dan menyeramkan bagi seorang calon "pemimpin rakyat".

Bila tingkah para calon pamong saja sudah seperti itu, apakah rakyat negeri ini masih pantas untuk berharap kalau negerinya akan aman dan tentram ?.

Rasanya yang lebih tepat paling banter mereka akan menjadi pamong penekan dan pemeras yang menyiksa rakyat.

Rakyat negeri ini butuh pemimpin bijak yang mengerti, memahami dan memberikan jalan keluar bagi segala derita yang ditanggungnya, mereka sudah bosan dengan pemimpin arogan yang tak berperi kemanusiaan.

Dimanakah harga diri kita bila negara ini memiliki pemimpin berkualitas seperti preman !
Sungguh ironis premanisme yang berakibat kematian yang juga telah terjadi berkali-kali terjadi di sebuah Lembaga Pendidikan yang seharusnya merupakan lembaga yang memproses anak manusia untuk menjadi ber-Akal dan ber Budi sebagai calon pemimimpin bangsa.

Sekaranglah saatnya untuk membubarkan perguruan tinggi para preman ini sebelum lebih banyak korban tewas menyusul ! jangan ada kata "kita beri kesempatan sekali lagi", karena perkataan itupun pernah diucapkan Th 2003 lalu, dan ternyata sekarang terulang lagi, atau mungkin menunggu sampai ada dosennya yang jadi korban ? amit-amit !
#10 Debiyani Tedjalaksana, SH on 2007-04-06 07:12 (Reply)
IPDN sebuah lembaga pendidikan tinggi yang katanya mendidik manusia menjadi beradab, ternyata sistem didalamnya mendidik manusianya kembali menjadi manusia primitif....bahkan sangat biadab....!!!!
Sekolah Pamong apa itu......???????
#11 dest2k6@yahoo.co.id on 2007-04-06 07:54 (Reply)
BUBARKAN SAJA .......SEKOLAH BRENGSEK
MILITER SAJA TIDAK BEGITU ....
INI SEKOLAH APA ........
MASAK SEKOLAH CAMAT AMA LURAH ISI PENDIDIKAN GAYA MILITER
APAAAN........
#12 BAYU on 2007-04-06 07:54 (Reply)
Innalillahi wa Innailaihi roji'un
Kenapa kesalahan masa lalu bisa terulang kembali, keledai saja tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya..
Apakah STPDN perlu dibubarkan???
Kembali ke tujuan awal mengapa STPDN dibentuk..
Pada dasarnya sekolah kedinasan dibentuk adalah untuk menyediakan pegawai yang memenuh persyaratan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh instanti yang bersangkutan, dimana kebutuhan itu tidak apat dipenuhi oleh lulusan dari Perguruan tinggi lain. Pembentukan PTK jg dalam rangka Pengadaan pegawai yang memiliki loyalitas terhadap pekerjaan dan instansi ybs.
Mengingat nantinya lulusan STPDN akan menjadi pamong praja pengayom masyarakat, pola pendidikan denan kekerasan spt itu tidak layak diterapkan.
Nah, Dengan tujuan seperti itu, yang perlu dilakukan STPDN skarang adalah memperbaiki sistem...
Agar kesalahan lama tak terulang..
Wallahua'lam..
#13 csss on 2007-04-06 08:18 (Reply)
Hukum Mati Semua Pengajar, Rektor , Dan Terutama Pengajar yang mendendang di Televisi yang setelah memukul mahasiswa yang menggunakan kaos olahraga sambil ketawa ( manusia biadab ) HUKUM MATI !!! biar kapok ingat tuh Anak Orang dilahirkan untuk dibesarkan ibu nya jadi orang berguna enak aja main pukul kalau saya jadi presiden nya tak setrum .................. biar Kapok...
#14 ganda on 2007-04-06 14:07 (Reply)
mana anu balaga,sok jagoan..wanina nyiksa jelema make seragam..

[Catatan Vavai] Please, komentar secara sopan dan santun agar kita tidak menjadi pelaku kekerasan dalam bentuk lain.
#15 dadang bedog on 2007-04-06 23:41 (Reply)
Sekolah kok pakai kekerasan......Kalo didikannya aja pakai kekerasan...emang lulusannya mo jadi lurah/camat or mo jadi bodyguard???
Orang tua ngirim anak2 mereka sekolah di sana bukan untuk setor nyawa atau bahan kekerasan.....Trus para orangtua dari praja yg bertindak kekerasan, tdk mengirim mereka untuk jadi preman kan?????Sekolahan kok aneh gitu.....Trus pejabatnya bilang KECOLONGAN.......enak amat ngomong gitu....Coba kalo anak or adik or saudara mereka yg jadi korban.....apa mereka g bakal mencak2.......Udah.....bubarin aja sekolahan kayak gitu....perasaan sekolahan AKADEMI MILITER aja g kayak gitu....ini sekolahan Pemerintahan Dalam Negeri kok gitu..........
Udah BUBARIN AJA..............G ada gunanya..... Kalo mo tetep di terusin....apa masih mau cari korban lagi tuh sekolahan.....
#16 Hendriani on 2007-04-07 00:00 (Reply)
IPDN jgn cuma pake otot doank dunkz, otaknya dkemanain.......,atw msk IPDN gak perlu otak kali y..? bagi yg berotak, jgn sia2kan otak kalian utk masuk IPDN.
#17 Edo on 2007-04-07 00:54 (Reply)
kalo pengen perang ... masuk aja ke sekolah militer!!! stpdn bukan untuk mencetak hansip satpam ato tentara !! tapi stpdn mestinya untuk menyiapkan orang2 berkualitas yang akan duduk di pemerintahan kita. nah, kalo pendidikannya aja kayak gini, tentu saja saat menduduki kursi di pemerintahan tak ubahnya kayak drakula !!!!!!!!
#18 doni on 2007-04-07 02:44 (Reply)
alamaq alamaq yang dicetak calon 2 lurah atau mencetak calon bodyguard ya ??
akabri aja kagak gitu bentuk nya
klo mau nguju mental bukan gitu mas
pening dech
#18.1 andi (Homepage) on 2007-04-07 09:23 (Reply)
astagfirulloh....again..n'again...koq gak kapok ya??? ipdn tuh mw mencetak lulusan yang bakal mimpin negara? atw mencetak tentara? kl cara ngedidiknya kayak tentara. berarti yg mw dihasilkan para tentara. kl mw ngedidik jd pmimpin bangsa, didiklah dg cara non-kekerasan krn mereka kn kl dh jd pmimpin mw mengurusi mslh rakyat yg 200jt ini,g smua mslh diselesaikan dg kekerasan. betul gak? maap atuh kl salah...
#19 urang bandung on 2007-04-07 03:08 (Reply)
saya setuju di tutup saja.
apa yang di harapkan dari sistem pendidikan kayak gitu.
cuma akan melahirkan preman preman kelas ellite dan menghabiskan uang rakyat.
bagaimana system pengawasanya sudah berulang kali kok masih terulang lagi.

semenjak STPDN berdiri
semua anak bangsa menggadang dan menimang nimang
mengharap kelak akan terlahir pemimpin bangsa yang terpandang dan bijaksana
namun sungguh sayang
disaat bangsa terpuruk dan menunggu kelahiran idola
ternyata STPDN menyimpan preman preman terminalan.
( Sekolah Tinggi Penuh Dengan Dosa & Noda )
#20 ikhsanuddin on 2007-04-07 03:28 (Reply)
Sudahlah, bubarin aja IPDN, Institut Preman Dibiayai Negara. Kalo perlu diratakan dengan tanah dan di atas tanah bekas kekerasan didirikan tugu peringatan 'Kejahatan Kemanusiaan Berseragam"
Pemerintah, tunggu apa lagi? Kalo nggak, entah siapa lagi yang jadi korban...
#21 Rino on 2007-04-07 03:30 (Reply)
Tidak heran kalok birokrasi di indonesia merupakan birokrasi paling buruk di dunia. Lha wong ternyata birokratnya lulusan dari lembaga pendidikan kayak "Taik ayam" begitu. Gua kagak ikhlas kalok pajak penghasilan gua (5 jt sebulan) buat ngebiayain IPDN. Pokoknya benar2x kagak ikhlas!!!!!!!!!!!!!!!!
#22 alex on 2007-04-07 09:19 (Reply)
PENDIDIKAN CALON BIROKRAT KALU LULUS PALING JADI KORUPTOR.....! NGORUPTORI PAJAK RAKYAT OPO KUI... KAYAK MILITER AJA KAMU-KAMU ITU SIPIL JANGAN BERSEMBOYAN MILITER JIKA JADI PEJABAT PALING KOROUPSI PENJARA TU REKTOR AMA BIDANG 3 JANGAN HANYA SISWA SENIOR PIMPINAN HARUS BERTANGGUNG JAWAB INGAT "JIWA KORSA"
#23 pamungkas on 2007-04-07 20:36 (Reply)
Kalo pemerintah gak mau tutup tu kampus, kita kampanye-in aja untuk teman, saudara, atau semua orang yang kita sayangi, untuk JANGAN PERNAH MAU MASUK IPDN/STPDN!!!. Kalo gak ada yang ngedaftar kan mereka juga akan tutup sendiri. Orang bodoh/ tolol/ goblog/ bengak/ buyan/ ongak/ idiot mana sih yang mau masuk sekolah yang taruhannya nyawa, belum jadi orang malah jadi bangkai. Liat aja Cliff, udah jauh-jauh orang tuanya nyekolahin.. [saya turut berduka cita :,-( ]
Masih banyak kok pendidikan tinggi lain yang berkualitas, mau yang gratis juga ada beasiswanya. Mau masuk militer juga TNI ada, gak usah yang "semi", yang "full" aja,lebih profesional, gak asal tendang, mati juga demi negara, gak mati konyol. mau jadi aparat sipil juga bisa kuliah di fakultas hukum atau jurusan lain yang diminati. Kalo pingin tinju-tinjuan ya jadi petinju aja, atau ikut perguruan bela diri, dapat medali, kaya, terkenal lagi kan! Kalo pingin jadi preman nongkrong aja di terminal, gak usah repot-repot ke Jatinangor. Kalo pingin disiplin ya dari diri sendiri aja, semua orang sukses juga berawal dari disiplin kok, lihat aja olahragawan, penyanyi terkenal, bintang film, politikus, pengusaha, atau orang sukses lainnya, mereka dapatkan semua itu dengan disiplin diri, gak perlu pake kekerasan juga mereka disiplin.
Salah besar kalo disiplin itu ditegakkan dengan kekerasan, terutama pada orang-orang pilihan, yang dikenal berotak diatas rata-rata dan disiplin di sekolahnya. Disindir aja pake kata-kata praja yang baru masuk itu pasti ngerti.. Kalo melanggar disiplin ya dikeluarin aja, mudah kan? Alasan kekerasan untuk penegakan disiplin cuma dibuat-buat untuk melegalkannya. Kekerasan emang sudah jadi budaya disitu.
Kalo aku sih AMIT-AMIT, OGAH MASUK IPDN, GAK ADA UNTUNGNYA, MENDINGAN CARI KEGIATAN LAIN AJA.
Bagusnya kampus IPDN dijadi-in tempat pembuatan film horror aja, kan lagi trend tuh... Judulnya mungkin "Barak bla bla bla.."
#24 maulana on 2007-04-08 04:24 (Reply)
astarfirullah.....
pa memang harus dengan kekerasan semuanya bisa berhasil ngak khan?
apa ngak punya otak mukuli anak orang ampe segitunya.
ingat karma itu pazti berlaku jadi siap-siap aja anda yang mukuli juniornya ampe mati.bisa aja anda itu yang mati ketabrak truk.
anda adalah orang-orang terpilih dan anda adalah dutanya para keluarga,dan dearah asal anda.kok anda ngak mikir.anda pintar tapi nggak cerdas.
saya ucapkan selamat berjuang ditempat yang lain bukan di IPDN.ana tidak cocok untuk berada di sana.anda lebih cocok untuk disel.selamat bagi para pembantai.
#24.1 agus on 2007-04-09 21:29 (Reply)
mendingan dibubatin aja tuh ipdn
#25 rayi p on 2007-04-08 07:03 (Reply)
ini sekolah calon penjabat atau calon penjahan, kalo masih ada kekerasan di dalamnya nanti para calon penjabat itu sudah pasti akan melakukan kekerasan yang sama pada bawahannya (rakyatnya). daripada nyusahin rakyat nantinya, mendingan sekarang aja di bubarin biar gak ada korban lagi. toh sekarang udah banyak universitas yang mahasiswanya layak tuk jadi pemimpin tanpa adanya kekerasan di sana. contonhnya unuversitas gue (Universitas Negeri Jakarta)...
#26 rayi on 2007-04-08 07:13 (Reply)
"Berdasarkan keterangan saksi pembina dan petugas keamanan IPDN, pada Senin (2/4) tengah malam korban menderita sejumlah luka pada bagian kepala dan bagian tubuh lainnya memar, tubuhnya terkapar di baraknya di Kesatrian IPDN di Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang,"

Sangat stuzu sama Junkerz side B, "Cuma masalah kecil".
#27 MaIDeN (Homepage) on 2007-04-08 08:19 (Reply)
IPDN harus dirombak total, dan penghentian sementara peneromaan praja.karena apa yang terjadi sudah menjadi tradisi. Pola tersebut harus dipotong/dihentikan. termasuk dengan rekruitment kembali calon pengajar
#28 aslam (Homepage) on 2007-04-08 10:13 (Reply)
Ya Allah...jaman begini kok ya masih aja ada namanya senior menhajar juniornya? Apa mereka balas dendam ya? Berarti memang dari dulu dong STPDN/IPDN itu memperlakukan siswanya seperti itu? Lha ya mestinya kan mereka tahu kalo' digebugin seperti itu sakit! Kok tega2nya dia perlakukan adik2nya seperti itu? Pake pamer tendangan dan pukulan lagi! Bangganya setengah mati. Pada punya hati ga' sih? Ga kasian sama orang tua yang udah susah2 nggedein dan nyekolahin kalian? Apa itu balas budi anak ke orang tua? Tega bener ya kalian.....
#29 CHANDRA on 2007-04-08 22:47 (Reply)
kerjaan anak2 IPDN: jalan2 di BIP, di mall bandung, gandengan cewek cowok ... check in ...
ga boleh makan di warteg:krn ingin meng-eksklusifkan diri
aborsi ..
dan bangga wawancara di TV"kami sebagai calon abdi masyarakat ..."
sapa yang mau di pimpin ma orang2 geblek, pengecut, jahiliyah kaya gitu! PRESIDEN TEGAS! jgn mencla mencle ... sok sibuk dengan kegiatan luar negeri tapi dalem negeri musibah, trus menerus
BUBARKAN IPDN!
NGAPAIN DIGAJI ... NGABIS2IN ASET NEGARA AJA.
gedung IPDN mending ganti dengan PESANTREN, anak2 yang udah terlanjur kuliah di karantina aja ... di pedalaman!
rektornya penjarain
amit2!
#30 angie on 2007-04-09 00:31 (Reply)
Hanya ada satu kata: bubarkan STPDN/IPDN...
Bener bahwa kebusukan didalmnya sudah sedemikian parah...
lagipula dalam UU SISDIKNAS (UU NO. 20/2004), sudah tidak dikenal lagi yg namanya satuan pendidikan selain dibawah departemen pendidikan nasional, kecuali satuan pendidikan militer dan kepolisian.
so? IPDN dah tidak punya landasan hukum...

labih dari itu apa yg terjadi didalamnya sangat menyesakkan dasa.
calon2 camat, lurah, sekda, bupati dan pejabata tata usaha negara kok berbuat seperti itu..
lebih parah lagi, dosen dan pengajar yang kritis dan punya hati nurani, yang mengungkap kekerasan dalam IPDN/STPDN malah terancam karier dan keselamatannya, karena mengungkap hal tsb..lucu...

IPDN=INSTITUT PEMBUNUHAN DALAM NEGERI
#31 ddody nur andriyan on 2007-04-09 01:16 (Reply)
Gua cuma pengen tahu, praja-praja yang kelihatan bengis di tv memukuli yuniornya dan ada yang sambil tertawa itu sekarang pada ada dimana ya???
#32 kakashi28 on 2007-04-09 06:33 (Reply)
Merdeka Bung,
STPDN atau IPDN merupakan warisan orde baru,
Orde baru di dukung oleh tiga pilar utama, yaitu ABRI, GOLKAR DAN BIROKRASI, ABRiI dimentahkan lewat Sidang Istimewa MPR tahun 1999 dengan dicabutnya Dwifungsi Abri, Golkar telah berubah payung menjadi Partai Golkar, sedang Birokrasi tak pernah tersentuh.
Warisan paling bobrok dan memiliki latenitas yang cukup tinggi untuk menghancurkan negara ini adalah kalangan birokrasi. Untuk itu, Lebih baik Bubarkan saja STPDN/IPDN karena tidak sesuai lagi dengan semangat pembaruan daerah (otonomi daerah) hal ini sesuai dengan falsafah bangsa yang tidak menginginkan adanya diskriminasi pada jajaran birokrasi. Pemerintah perlu Staf Birokrasi, cari saja di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Mulai dari Administrasi Negara sampai Politikus handal diluluskan disana jadi bukan sebuah kendala berarti jika IPDN dibubarkan.

Rienis
#33 rienis (Homepage) on 2007-04-09 07:47 (Reply)
wah gimana sih institut sipil tapi mendidik dengan penuh kekerasan melebihi militer ,bagaimana jadi PNS yang baik sekolahnya saja buruk penuh kekerasan bdan prenan. lebih baik IPDN ganti aja kepanjanganya jadi Institut Penyikasaan Dalam Negri .
lagi pula institut ini tidak punya landas hukum karna berdasarkan UU SISDIKNAS bahwa bahwa satuan pendidikan semuanya harus berada di bawah kendali DEPDIKNAS kecuali KEPOLISIAN dan MILITER .
jalan terbaik adalah memutus rantai generasi selama 4 tahun dengan tidak menerima siswa baru selama 4 tahun yaitu semua siwa yang perna mengalami penyikasaan dari senionya harus dihabiskan/di luluskan supaya tidak terulang pada adik-adiknya
perbaiki semua sistem yang ada di dalam dengan megedepankan pada keilmuan dan olah raga yang bebas kekerasan seperti pada Universitas
rektor harus mengundurkan diri sebagai bentui tanggung jawab
#34 ADI IBRAHIM on 2007-04-09 08:39 (Reply)
Saya kira sudah sepantasnya IPDN dibubarkan. Biarkan yang saat ini sudah masuk belajar sampai lulus tetapi tahun ini jangan menerima praja baru lagi. Keberadaan sekolah ini sudah menghalangi anak-anak bangsa yang lain yang tidak kalah berkualitas yang saat ini menuntut ilmu di Ilmu Pemerintahan atau Administrasi Negara.

Lagipula, di era otonomi daerah ini pendidikan calon birokrat daerah yang sentralistis sudah tidak kita perlukan lagi.
#35 Kang Kombor (Homepage) on 2007-04-09 09:12 (Reply)
Itu gak kampusnya, gak Rektornya koq gak bener semua. Kemarin ngomong kena lever sekarang ngomongnya ada kekerasan. Yang bener mana???
#36 paijo (Homepage) on 2007-04-09 21:15 (Reply)
Ya itu mas, nggak bener semua. Nggak mikir apa ya, kalo bohong itu gampang dibuktikan omongannya.

Menurut saya, sudahlah kita nggak usah banyak cingcong pertimbangan ini itu, jatuhnya malah berulang-ulang.

Sejak 2003 kasus Wahyu itu kan sudah banyak yang kasih pertimbangan, buktinya mana... jangan-jangan yang bicara itu yang justru kena lever...
#36.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-09 21:27 (Reply)
Lulusan dari IPDN hanya ada dua:
a. Masuk kuburan, atau
b. Masuk Penjara

Pilih mana?
#37 Hendra on 2007-04-09 23:26 (Reply)
Hihihi, mas Hendra bisa aza. Ini komentar lucu tapi bikin hati seperti ditindih batu :-).

Kurang satu pilihannya mas, yaitu menjadi korban luka-luka...
#37.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-10 03:04 (Reply)
Bubarin aja kale ya!!!
ga ada yang bener dari sekolah ini. kalo lulusannya kaya gini!!gimana and kapan negara ini bisa maju!!!!!
kita tetap aja jadi indonesia yang bermental bobrok karna didikan utk pemimpin kecamatan/kel aja kaya gini...
STPDN..gimana caramu utk mengembangkan negaramu??
apa harus pake korupsi lageee??!!!seperti caramu menutup kasus di kampusmu dengan membayar 200 juta maka pembunuhan yang kamu lakuin akan ditutup???

apakah kalian masih punya hati nurani??
dimana kalian menyimpannya???
#38 caca on 2007-04-09 23:40 (Reply)
Lulusan IPDN ternyata juga nggak ada apa-apanya di masyarakat (kecuali mental penyuiksanya 'kali ye :-))

Mau SPTDN keq IPDN keq apapun namanya kalau kekerasan sudah tradis TIDAK ADA jalan lain kalau DIBUBARKAN SAJA, apalagi bertentangan dengan UU DikNas.
(Akabri saja yg jelas militer tidak seperti itu).

Asal tahu saja, duit yang dipakai untuk membiayain para maniak itu adalah duit rakyat, dari pajak yg kubayar, pajak yang sampeyan bayar ...... sementara rakyat beli minyak tanah ngantri (mana harganya muahal lagi), beli beras mahal & ngantri.

Sedih euy !
#39 Soton Senot on 2007-04-10 02:34 (Reply)
IPDN = tempat dimana org2 sudah tidak punya hati nurani lagi sbg manusia yang di mata Tuhan makhluk paling sempurna diantaranya. berarti tidak ubanhya dengan binatang!! SALING BUNUH!!! (mksudnya niat bunuh pelan2)
percuma jk mereka baragama, tapi tdk mengamalkanya. itulah kalo org2 sudah tdk bisa mensukuri nikmat yg diberikan o/ Tuhan Yme, dan syaitan + iblis yg menguasainya. akhirnya nafsu berkuasalah+sok biar kliatan 'serem' di dpn para juniornya, pdhl sama2 makan nasi bro....
udah sekolah gratis, BERTINGKAH PULA!!!
MEREKA GAK BERSYUKUR (SEKOLAH GRATIS), PDHAL MSH BNYK TEMAN2 YG GK BISA SEKOLAH KRN GEDUNGNYA ROBOH AKIBAT GEMPA BUMI.

mrk sekolah untuk ambil nyawa orang, gimana nantinya kalo udah jd birokrat???? uang rakyatlah yg bakal diambil pula (walopun hrs bunuh lagi).

IPDN = NERAKA DUNIAAAAAA!!!
masih bnyk koq sekolah2 bonafit yg bisa mencetak profesionalisme masa depan cerah n gaji GEDE!!
saran saya: bagi yg mo msk IPDN pikir2 lagi dah,... drpada nyawa anda melayang sia2!! trus sering ke dokter gr2 (buang2 uang) berobat gr2 luka memar/sobek

MILITERNYA IND AJA GK KYA GITU KOQ!
#40 difi on 2007-04-10 03:41 (Reply)
tapi lumayan lah ada IPDN,,,, ntar bagi yang pingin berkarier jadi bodyguard bisa belajar di sana,

sudah dibayar rakyat,
diberi makan-minum, baju, dan tetek bengeknya,
di ajari smack down,
lulus jadi koruptor,
pas lah,
begitulah salah satu ,model pendidikan di depdagri...
kalau para pejabat IPDN tetap ngotot seperti itu... jangan kasih tuh uang rakyat pada mereka...
tujuan rakyat membiayai mereka bukan untuk penjadi jagoan tukang pukul plus koruptor...
lalu rakyat dapat apanya dong...
do'a orang yang teraniaya akan terkabul.
kalau rakyat sudah dianiaya do'anya akan terkabul... maka hati-hatilah para pemimpin rakyat....

masihkah ingin sekolah di IPDN???
lulus pasti sukses jadi jagoan tukang pukul.
suruh ikut aja tuh para muridnya ke acara smack down...'kan dapat lawan yang seimbang...ok.
ingat bung...uang itu bukan uangmu, tapi uang rakyat.... jangan seenak udhelmu.
#41 wadiyo on 2007-04-10 03:42 (Reply)
Hei semua cowok yang ada di stpdn !!!!!!!!!!!
apa loe semua ga rugi ngelakuin penganiayaan kayak gitu?Tampang loe cakep2 n body loe sexy2, tapi kq suka main pukul anak orang aja? Gmn ntar loe kalo married ya? Apa ada yang mau??? Bisa2 calon istri kamu kabur semua tau!!!!!!!!!!
Hehehehe.....
#42 brownies_ok (Homepage) on 2007-04-10 05:32 (Reply)
Mau jadi pelayan masyarakat koq pendidikannya gak relevan gitu. Mustinya yang dikedepankan tuh pada intellectual building, bukan pada physical building. Nyatanya dari hasil investigasi sebuah majalah terkemuka pada tahun 2003 ditemukan bahwa praja-praja junior menemukan "kedamaian" pada saat jam kuliah. Yah, cause mereka bisa molor, bercanda , dan aktivitas "refreshing" lain tanpa harus mendapat siksa dari senior-senior mereka. IRONIS SEKALI!!!!!!!!!

Nah, simply, mereka kan cuma dapat sedikit sekali (untuk mengatakan tidak ada.. he..he..) pengembangan pada intellectual buildingnya.

Mendidik itu kan mustinya dengan cara yang benar. Bukan dengan cara yang seperti itu. Pakai dong bahasa manusia (Thukul, 2007), bukan bahasa pukul dan tendang yang sama sekali ahumanis.
#43 Trondolo Ijo (Homepage) on 2007-04-10 08:16 (Reply)
IPDN(Institut Pembunhan Dalam Negeri). Bener kan?
Mang goblok bgt tu senior2. Latihan fisik aza sampai ngalahin polisi ma ABRI. Mo jadi camat aza sampe dipukuli kyax gt sey.
Ga jadi camat malah jadi mayat. Malah dapet gelar almarhum
TRAGIS BANGEEEET!!!!
#44 Satria Bagus Pratama (Homepage) on 2007-04-10 09:09 (Reply)
secepatnya bubarin ipdn..!! MUUAAK..!
duit rakyat ngapain buat makanin bajingan2 tengik..! gerombolan pembunuh..! bandit2 berhati iblis..!
#45 baharuddin lupa (Homepage) on 2007-04-10 11:32 (Reply)
COba sampaikan ke Aa BOXER, undang anak IPDN buat tarung satu lawan satu
#46 ajip on 2007-04-11 00:07 (Reply)
Saya mantan anak Boxer AKA Tarung Derajat mas. Tapi kalau disuruh berhadapan dengan anak STPDN saya bisa ngacir :-).

Lha gimana menang, kalau mata kita ditutup sapu tangan, disuruh berjajar dan dipukuli secara keroyokan, :-P.
#46.1 Muhammad Rivai Andargini (Homepage) on 2007-04-11 21:58 (Reply)
alow "mahasiswa" IPDN...

ngomong2..pajak yg sering saya keluarkan itu buat anda2 yah?

saya liat FSnya S-T-P-D-N, kok para alumninya makin banyak mendukung ya?bukannya menyadarkan adik2nya..

eh iya, maaf yah klo nanti kita ketemuan saya sudah bersumpah mau LUDAHIN muka kamu2 yang "mahasiswa" IPDN, gpp kan?iklas ajah..baru di LUDAHIN bukan di remukkin TESTISnya...

buat "perempuan" IPDN bayak yang berjilbab tp masih perawan setelah lulus kan? jangan sampe ketauan CHEK-In yah di DAGO...
#46.1.1 WANTED on 2007-04-16 03:54 (Reply)
Kurang ajar................
Gx ada Otk Klen Sebagai Manusia.........
" F " IPDN
#47 Bo2Q on 2007-04-11 01:13 (Reply)
saya alumni stpdn angkatan XIII, dulu kegiatan seeh full. semua kegiatan keras seperti POLPRA, DrumBand, PATAKA saya ikutin semua....
tapi anehnya kok saya sehat2 saja yaaa???
alhamdulillah sampai sekarang diberi kesehatan oleh ALLAH SWT.
trus yang ngomong diatas tadi pengen bukti apa???
mau rekam medis saya????
boleh....
#48 danu ardhiarso on 2007-04-11 04:38 (Reply)
alumni mas??

dah ngerasain mukul junior luh?? dah ngerasain KORUPSI berapa banyak luh?? *LOL*..

buktiin aja lu bisa ngomong disini klo luh emang hasil didikan tuh SEKOLAH MAKSIAT.. dan lu bisa lulus jadi pegawai tanpa korupsi?? Bwahahahaha....

ga usah jauh-jauh... berani lu sumpah gitu disini???
#48.1 adi (Homepage) on 2007-04-11 06:39 (Reply)
alow alumni "mahasiswa" IPDN...

ngomong2..pajak yg sering saya keluarkan itu buat anda2 yah?

saya liat FSnya S-T-P-D-N, kok para alumninya makin banyak mendukung ya?bukannya menyadarkan adik2nya..

eh iya, maaf yah klo nanti kita ketemuan saya sudah bersumpah mau LUDAHIN muka kamu2 yang "mahasiswa" IPDN, gpp kan?iklas ajah..baru di LUDAHIN bukan di remukkin TESTISnya...

buat "perempuan" IPDN bayak yang berjilbab tp masih perawan setelah lulus kan? jangan sampe ketauan CHEK-In yah di DAGO...
#48.2 wanted on 2007-04-19 08:14 (Reply)
sobat semua...........
mari berpikir logika.......
sudah terbukti...kok masih....ngotot.......
disengaja atau karena kerjaan iseng senior....
tapi yang menjadi korban itu manusia....bukan ayam ............
membunuh ayam tanpa alasan saja dosa.....
sekali lagi....ini manusia........

saya yakin...semua alumni STPDN pasti egois dan gak mau terima kenyataan.......
inilah kelemahan bangsa kita....yang gak mau terima kenyataan ..kalau SDM bangsanya bobrok dan mudah di adu domba....dan mudah menerima isu tanpa melihat kenyataan.........

Banyak saksi dan bukti..gak usah ngotot...
kalau lulusan STPDN benar-benar berkualitas dan punya jiwa patriotisme.......

Kenapa korupsi di birokrasi gak pernah ada habisnya............???? Pendidikan macam apa....???

STPDN....sebaiknya dibubarkan saja.....
gak ada manfaatnya buat negara dan masyarakat...............

malah memonopoli lowongan kerja di lingkungan pemerintahan.....

Cetakan STPDN.....gak ada yang special....
mendingan lulusan anak madrasah ......

mAIH PUNYA IMAN DAN MORAL.............
#49 DAJAL STPDN on 2007-04-11 10:30 (Reply)
ASS.....................................................................Saudara- saudaraku yang tercinta kita tahu Semua hal dimuka bumi ini pasti memiliki sisi negatif, tetapi akan sangat tidak bijaksana jika kita hanya termakan oleh suatu hal dalam satu sudut pandang saja.
saya ingin mengajak untuk kita berfikir secara logis, bahwa kita mengenyampingkan begitu banyak kasus kematian, yang diakibatkan oleh pembinaan fisik, baik itu dinamakan ospek, mapram dll, yang dilakukan oleh institusi pendidikan,tetapi kenapa hal tersebut terkesan dingin....................
Dan sekarang satu kasus kematian Cliff M, Menyudutkan satu lembaga secara keseluruhan. Masih banyak hal positif yang dapat dilihat....yang bisa kita lihat konkritnya, Gubernur Jawa Barat merupakan Lulusan APDN (cikal bakal STPDN)dan banyak lagi pejabat yang mungkin tidak bisa saya sebutkan.......
jangan hubungkan semua birokrat dengan koruptor, apalagi dengan menghubungkan IPDN didalamnya, insyaalloh tidak semua saya jamin begitu, masih banyak yang secara amanah memegang amanat rakyat dengan sepenuh hati.........
saya kira (bukan maksud saya takabur) siswa yang masuk IPDN bukan siswa yang IQ jongkok, tetapi memang mereka cukup berprestasi shingga dapat melewati begitu banyak tes dalam seleksi masuk Sekolah tersebut, dari situ, apakah kita menilai orang2 yang masuk kedalam sekolah tersebut memiliki bibit preman?????
apalagi didalamnya orang2 yang cukup berprestasi tersebut dididik lagi dengan didikan yang cukup, sehingga, apakah dengan didikan tersebut keluar output menjadi seorang preman, atau orang yang tidak memiliki hati nurani, terlebih lagi didikan agamanya cukup baik...
jadi mari kita berfikir dengan dewasa, untuk membedakan antara tingkah oknum dengan tidak menilai dan memojokan satu institusi............

saya beri analogi sederhana, jika suatu saat ada wanita cantik dihadapan kita, apakah kita dapat melihat kecantikannya dengan hanya melihat dari belakang?????yang kita lihat hanyalah punggung wanita tersebut,...apakah kita dapat menilai dia cantik dengan hanya melihat punggungya??

hal tersebut yang terjadi dengan lembaga IPDN, Lembaga tersebut telah dipojokan sehingga titik positif yang ada pada lembaga tersebut hilang sama sekali..........jadi masyarakat telah digiring kepada satu sudut pandang saja dengan tidak melihat sudut pandang yang lain.....
Lembaga tersebut memang salah, tetapi tidak bijak jika harus munyudutkan, menghujat, menghina dll, tetapi akan lebih bijaksana apabila kita memberikan kritisi kita yang membangun........................APAKAH JIKA NEGARA INDONESIA MEMILIKI KESALAHAN YANG BESAR, NEGARA INDONESIA HARUS BUBAR........................................??????
TERIMA KASIH, saya harapkan saudara-saudara saya se tanah air dapat ikut berfikir secara dewasa dan bijaksana...............................................

thanks............ ank 14
#50 Manusia Biasa.......ank 14 on 2007-04-11 23:46 (Reply)
ada solusi, kasih tau yang lain..ini mungkin media komunikasi, jadi tolong coment gw di publikasi.

solusi, low kasih contoh sikap yang berbudaya n merakyat buat diri low, depan muka low, sebelah low, sampe sekeliling low.

solusi, pendidikan yang bijak adalah pemikiran yang kritis dari hal paling sepele sampai terberat, apakah sudah diterapkan pada KAMPUS low?

solusi, KAMPUS itu kumpulan orang2 pilihan yang sehat rohani n' ragawi, apakah sudah dijalankan di KAMPUS LOW?(bukan orang gila)

solusi, kalo low semua pada LULUS, silakan kita silahturahmi, kali aja gw tau seberapa jauh otak low dalam berpikir n' sebagai kaum muda coba buat sesuatu yang berharga bisa dilihat oleh masyarakat, bukan uang tilepan di kas desa2.

gmn?
#50.1 wanted on 2007-04-19 06:36 (Reply)
ass..
Teman mari kita berpikir bijak jangan hanya memojokan, mengolok-olok, mencela, menghina, dll….
saya yakin teman2 di luar sana lebih arif, lebih bijaksana, lebih pandai, punya intelektual yg baik tidak seperti senior2 STPDN (katanya calon koruptor, tidak punya hati nurani dll)
mari kita analisis berita yg berkembang :
1. Berita yg menyatakan bahwa yg meninggal karena kekerasan berjumlah awalnya 35 orang kemudian menjadi 27 orang.
mari kita berpikir logis, STPDN/IPDN sampai sekarang baru mencetak 18 Angkatan jika kita rata2kan berarti dalam satu tahun terjadi 1-2 orang yg menjadi korban kekerasan, tapi apakah kebuktiannya seperti itu? apakah sebejat itu praja STPDN yg nota bene perwakilan yg masuk ke STPDN hanya 2 dr masing2 Kab/Kota?
jika memang dalam satu tahun terjadi pembunuhan 1s/d2 orang saya yakin tiap tahun akan terjadi tawuran antar angkatan dan pasti tiap tahun akan mencuat ke media. tapi kebuktiannya tidak seperti itu.
2. berita yg menyatakan bahwa telah terjadi sex bebas sampai 600 lebih kasus antara tahun 2000 s/d 2006 atau selama 6 tahun (Sumber Inu Kencana)
jika kita rata2kan berarti dalam setahun telah terjadi sex bebas sebanyak 100 lebih, mungkinkah seperti itu???? dimana Praja hidup dalam asrama yg dihuni oleh sekitar 50 orang serta diawasi.
3. andaikan kejadian kasus meninggalnya Cliff Muntu 10 tahun kemudian, menurut teman2 video amatir mana yg akan ditampilkan???? saya yakin video amatir itu yg akan ditampilkan.
yg saya tau video itu hasi rekaman kegiatan pelantikan anggota Drum Band STPDN tahun 2003 sebelum terjadinya kasus Wahyu Hidayat Alm. apakah memang STPDN tidak melakukan Perubahan??…..
pada tahun 2003 telah terjadi pemisahan antara senior dgn juniornya, dimana seniornya kuliah di IIP Jkt, sementara juniornya di Jatinangor, jika Teman2 mendengarkan jumpa pers yg dilakukan oleh Praja, Wakil Gubernur Praja menyatakan bahwa “Saya tidak pernah dipukul oleh senir dan tangan saya ini tidak pernah memukul junior” pernyataan itu adalah benar karena rantai kekerasan telah terputus semenjak seniornya dipindahkan ke Jakarta. Lantas kenapa terjadi lagi…?
Cliff Muntu Alm. adalah praja yg rajin ikut ekstrakulikuler, Alm. mengikuti korp Drum Band, Polisi Praja, Ketua Utusan, dan Pasukan Tanda Kehormatan (Pataka) yg nota bene organisasi tersebut adalah organisasi yg cukup bergengsi di STPDN shg mungkin karena egonya dilakukan “Pembinaan” yg keras, jika teman2 mengikuti berita terus dapat kita ketahui bahwa “Pembinaan” terhadap Cliff Muntu terjadi setelah kegiatan selesai atau setelah apel malam (apel malam dilaksanakan jam 21.00) sebagaimana diungkapkan oleh Rektor STPDN bahwa kegiatan ini adalah ilegal dan dilakukan sembunyi2. padahal tidak jarang organisasi diluar STPDN pun (Organisasi di Universitas lain) banyak terjadi korban penganiyayaan oleh seniornya, tapi kenapa sampai ke lembaganya dipojokan bahkan alumninya juga tidak luput? padahal STPDN telah melakukan perubahan.
4. berita yg menyatakan bahwa kasus narkoba sampai ribuan, ya silahkan rata2kan sendiri oleh teman2 sekalian selama 6 tahun sampai ribuan, apakah sebejat gitukah praja STPDN, padahal mereka masuk ke STPDN melewati berbagai test, apakah pemeriksa kesehatan dr masing2 daerah lemah sehingga pecandu2 narkoba bisa lulus ke STPDN.

Pesan buat teman2 yg budiman jangan hanya melihat apa2 yg diberitakan oleh media, kemudian membenci, memaki, anti STPDN (anti kekerasan Ok) tanpa mengetahui sebenarnya apa yg terjadi sesungguhnya dan yg paling diperlukan bukannya cacian atau makian tapi bagaimana upaya untuk memperbaikinya. berikan solusi bukan cacian!….
dan sampai sekarang ini belum terbukti bahwa alumni STPDN adalah birokrat yg dekat dengan korupsi, atau tidak berhati nurani. bahkan di setiap daerah alumni STPDN dapat dipercaya dan mampu melaksanakan amanah, alumni APDN/STPDN sudah banyak yg diberikan kepercayaan mulai dari Menteri Negara, Gubernur, Walikota/Bupati, Kepala Dinas, Kepala Badan, Camat, Lurah dll ini menunjukan bahwa memang alumninya mempunyai kualitas yg lebih….

terima kasih atas kesempatan teman2 membaca tulisan ini…
#51 Manusia Biasa.......ank 14 on 2007-04-12 00:46 (Reply)
Wah IPDN/STPN sudah berubah yah..?? berubah menjadi lebih baik?? Wah itu salah besar bung..!!! Yang berubah hanyalah namanya saja dri STPDN menjadi IPDN namun sistem pendidikan yang berlangsung masih sama.

Idealnya lulusan dari lembaga ini akan menjadi Pamong Praja, Pamong Praja model apa yah..?
Kalau dibilang alumni STPDN berprestasi.. Saya belum pernah dengar... tentunya berprestasi dalam hal-hal yang baik untuk rakyat dan negara. Bisa kasih contoh ke kami ap aprestasi yang sudah dihasilkan alumni?

Kalau hanya sekedar bisa jadi camat, SekDa, judan SekDa kita semua sudah tahu bahwa itu semua tidak menjamin suatu prestasi. Karena apa? Kareana sistem yg berlaku pada bangsa kita mengenai proses penerimaan pegawai negeri saja masih banyak terjadi tidak KKN. Jadi prestasi apa yg bisa dibanggakan?

Apakah sekedar jadi Camat, SekDa, Bupati sekalipun itu sudah dianggap prestasi? Ingat bung.. Prestasi itu harus sebanding dengan jasa yg diberikan utk rakyat dan negara. Dan ini yang menilai bukan si pejabat itu, tapi rakyat.

Sayang sekali kalau lemabaga ini benar-benar menjadikan lulusannya menjadi birokrat. Lha wong ngurus sistem pendidikan aja nggak bener...
Gimana mau jadi birokrat yang baik.. kalau waktu yang dihabiskan para praja-ny ahanya utk kegiatan2x fisik.

Militer identik dengan disiplin atau sebaliknya, atau ada juga yg bilang disiplin miliknya militer. Duh sapa sih yang pertama kali mengutarakan kalimat2x bodoh ini???

Kita lihat lembaga kedinasan lain seperti STAN ( wkt masih pake kedinasan, gak tahu kalo sekarang) misalnya. Di lembaga ini diterapkan disiplin tinggi, buktinya kalo mahasiswanya gak lulus 1 semester aja langsung di copot.

Kalau IPDN masih juga mau dipertahankan, saran saya adalah untuk ganti nama lagi menjadi SPPP (Sekolah Polisi Pamong Praja) dan lulusannya yah paling tinggi jadi Polisi PP (Pamong Praja) aja. Karena apa yang mereka pelajari gak cukup buat jadi camat apalagi birokrat negara.
#51.1 Kuntjoro Rahardjo on 2007-04-17 04:04 (Reply)
Setuju Ama Bang Kuncoro....
tidak usah dibubarin...... sayang nanti dengan assetnya malah bisa membuat masalah dan "peluang" baru...
ganti aja IPDN jadi STPP (Sekolah Tinggi Pamong Praja) yang outputnya Satpol PP, Kamtib ato Tibum
#51.1.1 Arexis (Homepage) on 2007-04-18 23:30 (Reply)
Saya setuju sistem pendidikan di STPDN karena menghasilkan lulusan yang berbakat n bisa mengharumkan nama bangsa ( melalui ajang olympiade BOXING) ,bahkan bisa menghasilkan lulusan yang meneruskan jejak Kris John...( Sekolah Tinju Preman Dalam Negri )
#52 kriesjan on 2007-04-13 00:34 (Reply)
berita tadi malam adri televisi (emang sih televisi gak selelu benar) bahwa pelaku penganiayaan wahyu hidayat (th 2005 lalu) sampai saat ini belum menjalani eksekusi hukuman (putusan pengadilan) karena ... yaaa ... ada birokrasi dan birokrasi ... lalu birokrasi lagi.

malah 'saking gumun' (bhs jawa: heran banget) kalau mereka saat ini berada di bawah payung pemda-kota bandung. ada yang sebagai sekretaris pribadi petugas pemda/sekda/apalah ... (maksudnya : pengawal pribadi !!!) yang gajinya sudah masuk alokasi apbd ???

hmmm sampai di sini saja kita bisa lihat kalau ada banyak yang mata hatinya sudah tertutup, kalau telinga sehat mereka juga sudah tertutup dan kalau kalbu sejati mereka juga sudah tertutup.

mudah2an kita senantiasa terjaga dari sumum umyun bu'mun seperti itu.

stpdn/ipdn sebagai institusi memang gak bisa dibilang salah. tetapi kalau para pengambil kebijakan (baca:mendagri & presiden) dan pelaksana di ipdn sudah tertutup mata,telinga dan hati-nya ... ya susah. bisa apa kita ?

benar pepatah :
karena nila setitik, rusak susu sebelangan.
(susu pasti dibuang deh tuh)

karena penganiayaan berulang di stpdn/ipdn, institusi itu mesti dibubarkan
(yach ... emang gitu harusnya kalo mo ikut hukum alam)

pak mendagri dan pak presiden yang terhormat (mereka pada baca ini gak yach ?) tolong jadi manusia biasa sebentar saja untuk melihat hal ini (lupakan diri sebagai menteri atau presiden) ... jadi manusia bisa sebentar aja yach.

selamat bekerja pk mendagri dan pak prsiden. selamat bekerja alumni stpdn/ipdn. semoga ALLAH memberikan hidayahNYA agar semua dapat beribadah dalam pekerjaan kalian.

kalau mau komentar pribadi, tujukan ke arif dot avianto et gmail dot com
#53 arif avianto (Homepage) on 2007-04-13 02:47 (Reply)
"perasaan AKMIL/militer aja ga ky gt.." yg comment ky gini emangnya pernah masuk AKMIL/Militer..???? jgn cuma BICARA donk, Nenek2 jg bisa klo cuma bicara.. atau klo ga tau apa2 lebih baik DIAM!! drpd mengeluarkan comment2 yg SOK TAU dan SOK SUCI.. toh Praja yg dipukulin dan jd korban disana saja ga ada yg protes, knp KITA yg melihat pd sibuk2 sndiri memprotes dan mencaci-maki??!! jgn urusi urusan orang, klo urusan sndiri banyak yg ga beres! utk yg sekolah bayar sndiri jgn PROTES jg, kelihatan IRI nya kalian dgn mereka.. sudah lulus masih harus keliling2 cari kerjaan nenteng Ijazah yg GA LAKU!! dimana MENTAL-mu??masuk pendidikan TNI klo emang bernyali dan berani, jgn hanya BICARA! SALUT UNTUK PRAJA STPDN, Kalian BERNYALI dan BERMENTAL..
#54 Pratu ( Kav ) Tri Adri Nanggala on 2007-04-14 01:48 (Reply)
contoh yang baik praja nih cepet emosi, picik, sok jagoan kalo ngelawan orang kecil cocok banget jadi pejabat plus udah dibiasain korupsi dan saling menutupi wah calon birokrat sejati...selamat yah....semoga lancar jadi birokrat...
Duh gusti kapan Indonesia bisa jadi 4 besar padahal negara besar dengan potensi besar tapi yang berkuasa orang picik yang sombong dan arogan tak tahu malu makanya ngga heran orang2 pintarnya banyak yang kabur ke luar negeri...
#54.1 cc on 2007-04-18 23:44 (Reply)
ada solusi, kasih tau yang lain..ini mungkin media komunikasi, jadi tolong coment gw di publikasi.

solusi, low kasih contoh sikap yang berbudaya n merakyat buat diri low, depan muka low, sebelah low, sampe sekeliling low.

solusi, pendidikan yang bijak adalah pemikiran yang kritis dari hal paling sepele sampai terberat, apakah sudah diterapkan pada KAMPUS low?

solusi, KAMPUS itu kumpulan orang2 pilihan yang sehat rohani n' ragawi, apakah sudah dijalankan di KAMPUS LOW?(bukan orang gila)

solusi, kalo low semua pada LULUS, silakan kita silahturahmi, kali aja gw tau seberapa jauh otak low dalam berpikir n' sebagai kaum muda coba buat sesuatu yang berharga bisa dilihat oleh masyarakat, bukan uang tilepan di kas desa2.

gmn?

(otak TRI..lagi GUOBLOK yah?)
#54.2 wanted on 2007-04-19 07:10 (Reply)
dah, yang jelas dah ada yang mati... si Cliff itu.

Anehnya, kenapa awalnya perlu ditutup-tutupi? Itu yang mengherankan...
#55 rouza on 2007-04-15 05:33 (Reply)
masalah IPDN mengenai kasus Cliff, untuk para praja dan alumni, dengan pola pendidikan seperti itu mau menghindar menolak dan apapun sebutannya nyata sudah ada yang MATI lagi !

belum lagi hasil otopsi mayat Cliff di suntik formalin tanpa ada alasan jelas bukankah ini melanggar hukum?

memang untuk membenahi oknum gak harus membubarkan institusinya, tapi jumlah oknumnya berapa? saya yakin banyak! dan mereka ini saya yakin justru yang mempunyai power yang besar di institusi

saya berasumsi karena hal itulah maka banyak praja-nya cuma hanya bisa diam dan bungkam seperti pengecut, meskipun mereka sebetulnya mengetahui ada pelanggaran hukum yang terjadi.

bahkan ada lulusannya yang menjadi terpidana masih bebas dan malah menjadi PNS...aneh? untuk kasus ini bagaimana tanggapan para alumni STPDN/IPDN?
paling juga bungkam pura-pura tidak mengetahui atau bahkan menganggap bukan urusan mereka!

sebetulnya saya pingin tahu idealisme para praja IPDN itu seperti apa?

kalau ingin mengabdi ke masyarakat kok pola pendidikannya seperti ini trus nanti kalo menghadapi masalah dilapangan setelah jadi pamong bagaimana coba? keras dilawan keras begitukah?

belum lagi kalau ada kasus seperti ini cuma diam. sebetulnya apa yang mereka takutkan?

apa demi mejaga nama baik daerah trus mengesampingkan kejujuran?
#56 onliner (Homepage) on 2007-04-16 08:14 (Reply)
bukan hanya Cliff dan Wahyu Hidayat..tetapi yang paling nyata adalah kematian hati nurani dari praja dan purna praja STPDN dan IPDN itu. Liat saja komentar mereka di friendster STPDN....
#57 Anonymous on 2007-04-16 09:51 (Reply)
duu , sayang yaa prajanya tukang pukul .
padahal kan ganteng-ganteng tu .
moga-moga sistemnya bisa dirombak total , biar calon pamong prajanya gga cuma ganteng tapi berakhlak dan bermoral .
kalo gitu sih mau de gw jd cewenya .
hahaa
#58 ochii on 2007-04-17 10:48 (Reply)
Kalau masih seneng pukul-pukul, bisa masuk KDRT ya Chi. Masya kamu mau jadi korban KDRT :-).
#58.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-17 19:42 (Reply)
I "m just to say, saya bukan setuju dengan kekerasan yang terjadi, tapi saya yakin adanya
disiplin militer yang da di IPDN pada awlnya bkn untuk mengambil korban , tapi yang ingin saya tekankan disini , pend.agama hrs ada tidak hanya pen.militer ja yang di butuhkan , apapun yang terjadi ktkn dengan sejujur-jujurnya , krna utk kebaikan kt bersama nantinya, saya yakin orang - yg brskolah disana adalah orang 2 yang pintar , bukan orang2 yang jahat, hal itu yang sangat kami harapkn..................
#59 Vanny Vanessa on 2007-04-18 01:55 (Reply)
maaf ya buat praja dan alumni stpdn/ipdn.....lulus dari sana kan paling jadi pns rendahan....urus ktp,kk,dan kerjaan lain yg sebenarnya bisa dilakukan oleh tamatan smk....trus prestasi yg kalian banggakan itu seperti apa?? sekali lagi maaf nih kalau melihat rekor bahwa birokrasi di indonesia adalah salah satu birokrasi yg paling bobrok,rumit,bertele2, dan tak lupa K O R U P....lagi2 saya bertanya apa itu yg kalian maksudkan sebagai prestasi....??? gaji PNS kalian sebenarnya berapa ?? golongan II a kan paling dapat 800.000an sebulan!!! kasihan....saya cukup mengerti jika pada akhirnya kalian alumni stpdn korupsi di kelurahan.....BTW...saya lulusan univeristas biasa dan sekarang bekerja sebagai credit analyst pada sebuah bank bumn dengan gaji yg mencapai 12 kali dari kalian para alumni stpdn yg baru lulus....ITU NAMANYA PRESTASI....
#60 agus fuad on 2007-04-18 07:35 (Reply)
jangan salah coi...walau golongan rendah bisa punya mercy dan bmw jalan2nya ke luar negeri tapi ngga punya bisnis lain cuma jadi pegawai negeri...hebat kan....kan....
ajaib emang negara kita
#60.1 cc on 2007-04-18 23:51 (Reply)
Buat yang alumni STPDN/IPDN apakah jika ada kasus penganiayaan atau kasus2 yang lain pihak Rektor atau dekan memang berkewajiban menutup2i kasus tersebut????
kalo lulusan STPDN/IPDN memang berprestasi,prestasi itu untuk siapa??? diri sendiri atau untuk masyarakat???
Fungsi dari pembinaan kedisiplinan dengan penganiyayaan itu apa???
Menurut saya untuk menjadi seorang birokrat tidak perlu dengan membuat fisik birokrat menjadi kuat,tapi buat rohaninya menjadi kuat biar sadar nggak merugikan orang lain.
semoga bermanfaat buat Praja2 STPDN/IPDN dan juga yang lain2nya
#61 tiol on 2007-04-21 06:00 (Reply)
kebangetan banget sih.....lw pikir lw bangga gitu bisa mukulin orang????klo lw mau pukul2n mending lw berantem aja m mike tyson j,klo gak maen smack Down aj,baru bisa mukulin orang aja belagu,klo lw bisa ngejatohin Mohammad ali lw semua boleh bangga,pantes klo gw liat di TV klo ada razia penertipan PKL,Poll PP pada sadis,gak punya prikemanusiaan..ternyata atasannya juga sama gak punya hati n OTAK.kayaknya rektor IPDN harus diganti ama pemain Smack Down aj deh,biar gada yang berani pukul2n apa lagi sampe mati
#62 doni on 2007-04-21 23:41 (Reply)
Rekan-rekan pemuda Indonesia, sy turut prihatin dg kss IPDN & kondisi negeri ini. Kekerasan, kebohongan publik, birokrasi yg bobrok, KKN, pejabat & calon pejabat bermental kerdil, msh byk pemuda-pemuda bangsa yg kurang antusias membangun negeri & dirinya, politikus yg tdk bermoral, aparat hukum yg bermain hukum, ulama yg lupa umat, msh byk masy yg malas,serta .... (tlg bantu sy inventarisir kekurangan bangsa ini). Tp sy yakin: lebih banyak lg masy INDONESIA yg BAIK, BENAR, JUJUR, BERJIWA PATRIOT & BERAKHLAK, jadi bagi yg berminat, mari bergabung di komunitas MERUBAH DIRI SENDIRI. Dipimpin oleh diri sendiri, dilakukan oleh diri sendiri, merubah diri mulai sekarang, menetapkan VISI & GOAL positif dan dipersembahkan untuk NEGERI.
IPDN memang gagal memanfaatkan kesempatan yg diberikan. Tp lebih gagal lg jika kita yg "WARAS" tdk melakukan perubahan apapun baik bagi diri sendiri, keluarga terlebih BANGSA.
Sy alumni AKADEMI KEPOLISIAN, yg sedang merubah diri. GBU
Sampai bertemu REKAN-REKAN saat GENERASI kita memimpin NEGERI ini... AMIIIN.
peace.....
#63 kaisar on 2007-04-22 08:06 (Reply)
Bagaimana mungkin lulusan IPDN bisah mengabdi kepada masyarakat wong adik-adiknya aja dibunuh
#64 Yoel Ernist on 2007-04-23 03:51 (Reply)
aduuhhh kaciaan banget siehh bagi para korban IPDN,,hmmfhhh,aku ngebayangin gimana yaa mereka pas detik2 sebelom kematian.
kakak kelas kurang ajar tu.sok brani kalo ga ada yang ngawas.begitu disuru rekonstruksi ulang kejadian,mlah pura2 gak bisa mukul. cemen banget.
duwwhh padahal akuu pengen banget bisa masuk IPDN,soalnya kakakku jadi orang yang sukses lulus dari sana.
moga bener2 dibangun ulang dehh sistem pendidikan disana,biar aku juga gak was2 lagi,he.
#65 dhee... on 2007-04-23 05:23 (Reply)
Kalo sekarang mendingan ditunda dulu Dhee, Sukses nggak malah nanti babak belur :-).

BTW, kakakmu dulu suka mukul-mukul nggak ? :-P
#65.1 Masim "Vavai" Sugianto (Homepage) on 2007-04-24 00:08 (Reply)
Aku ank 07. Jangan terlalu menilai lulusan stpdn/ipdn itu taunya korupsi. PNS atau pejabat yang sekarang ini umumnya banyak dari sekolah tinggi atau universitas selain ipdn. Di tingkat pusat banyak lulusan UGM. Apa mereka tidak korupsi...... Lulusan stpdm/ipdn itu banyak yang disenangin oleh masyarakat kalau bertugas. Saya pernah bertugas menjadi seorang lurah dan anggota staf saya dari kepling dan masyarakat semua senang dengan saya. Dan saya tidak pernah sekalipun memukul atau pun hanya membentak kepada staf. Mulai dari Orang yang dituakan,pemuka masyarakat, tokoh, dan preman bisa bersatu untuk membangun kelurahan menuju kearah yang lebih baik. Kalau anda sekalian tidak senang dengan stpdn/ipdn mungkin kalian iri, tidak bisa berkesempatan masuk menjadi PRAJA STPDN/IPDN. Coba kalian cari alumni IPDN yang di kantor suka mukul apalagi membunuh. Dan juga coba kalian cari yang korupsi uang pajak. Emang kalian aja yanga bayar pajak. Kerja dikantor pajak itu bukan almni ipdn. Dan juga lulusan ipdn bukan hanya jadi lurah atau camat. Kami juga tidak setuju adanya kekerasan seperti ini lagi. Itu harus dihilangkan. Dan yang kalian lihat di TV sekarang itu tayangan ulang tahun 2003 ketika wahyu hidayat meninggal. Tapi namanyalah media. Agar laku ratingnya dibuat trus tayangan seperti itu. Kami dari alumni 01 sampai ank 14 merasa prihatin dengan apa yang terjadi saat ini. Mari kita doakan bersama agar masalah ipdn cepat selesai dan kita dukung langkah yang diambil oleh Presiden kita. STPDN/IPDN ok. Masih yang terbaik dan tetap terbaik. (Bagi yang sirik silahkan anda berikan balasan, beginilah ciri khas mahasiswa indonesia yang tidak punya pikiran membangun. Taunya mengkritik yang tidak membangun. Tunjukkan intelektual anda sebagai orang indonesia. bukan asal bunyi dan memaki meludah.)
#66 Anonymous (Homepage) on 2007-04-27 00:11 (Reply)
sudah sudah..janganlah mencaci maki kami, uruslah dirimu dan lingkunganmu baru jadi pengkritik, kok iri dan dengki sama stpdn sih ?? ayo jujur dong, jangan suka bawa bawa nama rakyat kecil padahal anda anda semua pembohong dan orang orang munafik. jadi sudahlah..anda teriak teriak buang buang energi..belajarlah yang baik biar bisa pandai menganalisis, jangan jadi pengkritik kelas kampung..ilmiah dikit napa :-))

maju terus IPDN.

seburuk buruknya IPDN, masih lebih baik dari universitas universitas lain yang justeru sebagian besar mahasiswanya bejat (banyak loh peneliti dan penulis yang mengakuinya, koran koran juga, ayoo ngaku ajaaa )

yach udah dulu ya..ntar gw lanjutin lagi. kita diskusi yang lebih terarah, lebih ilmiah.
#67 prajastpdn on 2007-05-03 17:20 (Reply)
time will tell.. proses sedang berjalan. Selamat jalan IPDN.. STPDN.. APDN apapun namanya. Nama Anda tidak diperkenankan lagi karena bertentangan dengan Undang Undang Sisdiknas. Sekolah kedinasan untuk lulusan S1.

Ndak usah banyak debat, time will tell. Anda beraninya main keroyokan sih.. jadinya saya neg banget. Masih keren preman satu lawan satu tanpa yang satunya ditutup muka :-)
#67.1 unggulux on 2007-05-29 08:37 (Reply)
Segala caci maki yang ditulis disini memang layak diterima semua orang yang terlibat langsung dan tidak langsung dalam tindak penganiayaan dan kekerasan tersebut, tapi tolong jangan dilupakan bahwa di sana (ipdn) sangat banyak yang hanya jadi korban tapi tidak pernah terniat membalas (mengulangi) perlakuan buruk yang pernah mereka terima dari seniornya dulu kepada yunior mereka selanjutnya. Masih banyak yang juga membenci sistem bobrok seperti itu. Dan mohon juga diingat, semua senior penyiksa di sana dulunya adalah yunior, tidak ada yang begitu masuk ipdn langsung jadi senior.
Akan jadi penganiaya atau tidak saat jadi senior adalah kembali ke hati nurani mereka masing-masing. Tolong dipahami, paling mudah melakukan kritik dan membongkar keburukan orang lain, tapi coba kita tes diri kita masing-masing untuk membongkar keburukan kita kepada orang lain, sanggup?
Teorinya jelas sanggup, prakteknya? Nanti dulu. Apa iya kita mau ikut disamakan/divonis telah melakukan kebusukan yang teman kita lakukan? Prihatian memang perlu, caci maki? Rasanya hanya akan menambah keruh suasana dan tidak akan memperbaiki kerusakan yang terlanjut terjadi. Saya salut untuk pak Inu yang membongkar kekerasan di sana, tapi Saya juga berharap kuat tidak ada setitik pun informasi yang bohong dalam pernyataan beliau serta dalam buku IPDN Undercover, karena itu akan membuat hancur lebur nama baik beliau. Kita harus tetap ingat, manusia adalah tempat salah dan lupa. Janganlah bersikap seakan-akan kita berhak dan harus mencaci maki kesalahan orang lain, lebih baik memperbaiki diri sendiri dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk menjadi baik. Mohon dimaafkan kalau ada yang tidak suka dengan pernyataan Saya ini. Buat bung admin, trims berat. Wassalam.
#68 xalman on 2007-06-05 03:40 (Reply)
Iya tempat SALAH dan LUPA.. udah salah.. dilupain alias dimaafin ampe berapa kali.. kabar terakhir, option dari timnya ryaas rasyid ga ada opsi dibubarkan.. duh indonesia indonesia.. memang tempatnya salah.. dan lupa..

La wong dosa2 soeharto aja udah kita lupain kok :-) mana? siapa yang brani nyeret dia kepengadilan?

kasus IPDN, depdagri, hakim, masyarakat lupa tuh pembunuhan wahyu hidayat.. sampai si pembunuh udah jadi PNS enak tenaaaann.. kalo Cliff gak mati, ga bakal diusut tuh. Thx to Cliff.. eh ini kita mau melupakan lagi hihi.. dasar endonesia.. pas ada kasus baru kayak Pasuruan, kasus lama kayak IPDN udah ga dibahas lagi, dan ujung2nya sama kayak setelah si Wahyu tewas.. lupa!
#68.1 unggulux on 2007-06-06 19:11 (Reply)
Intinya yang melalukan kekerasan setelah penayangan di SCTV pertama kali itu adalah GOBLOK sudah jelas menjadi sorotan publik bukannya instropeksi memperbaiki diri malah masih terulang. Sudah tahu salah lalu mengulangi kalau bukan GOBLOK apalagi? ngakunya berpendidikan tapi otaknya tak dipakai. Kalau mau jadi jagoan ya main lah diatas ring atau arena yang benar karena dikelola secara profesional bukan secara preman.
#69 Kampret (Homepage) on 2007-06-05 16:29 (Reply)
sekarang terbukti ga omongan inu sapi????????????
wendi mati karena mabuk.......
kita buktiin 20 tahun kedepan orang-orang yang telah menghujat ipdn akan sangat menyesal....
ombak yang tenang tak akan melahirkan pelaut yang tangguh....
BHINEKA NARA EKA BHAKTI........
#70 PRAJA on 2007-09-18 13:55 (Reply)
ga semua yang lo denger tu bener..
ga smua yang lo liat jg bener..
1 hal yang ga lo tw...
gmn ngejalanin hidup ini disini..
dgn penuh makna dan warna
cz orang yg udah tinggal dsni bakalan bilang..
klo tiap langkah yg kami pijakkan diksatrian neh bgitu indan n' memorable bgt..
i love them who always support us...PRAJA IPDN
angkt.18 never die like GITA ABDI PRAJA
#71 praja_aYa onLy on 2008-03-24 02:07 (Reply)
memang..., dasar orang nggak taw diri.., kok masih ada sih yang namanya balas dendam, sampai mati kayak gini juga nggak nyadar2, hei kalain buat sampai mati emngnya dia keluar dari lubang BATU, atau dari binatang sehingga di bina sampai mati apa itu pantas???????, pikir dong...kalau di didik sampai masih batas kewajaran istilanya tinggalin napas ya nggak apa2, coba kalian berpikir itu yang terjadi sama kalian sampai MATI, kira2 ada yang nyasal nggak ??????????????????????????, jadi nggak usah di tutupi2 deh.., berpikir jangan asal di dunia ini pingin jadi konglomerat, punya jabatan, birokrat sampai mau tidur di atas uang ke.., tapi masih terus balas dendam ya..., sampai kapan?????????????????????????????.
Jadi, saran aku: nggak usah di bubarin, tapi sistem Senior-Yunior itu yang harus di DISIPLINKAN, di kawal ketat oleh yang bertanggung jawab, yang nggak asal ingat suap aja.
Buat Kamu Praja: aku salut Kekompakan kalian tapi kekompakan yang benar adalah kekompakan yang sesui dengan fakta, tidak merugikan orang lain dan berlandaskan PANCASILA.
#71.1 Jangan Sembunyi Kuku (Homepage) on 2008-06-07 13:08 (Reply)
assalamulaikum.. mgkn sudah banyak komentar tentang IPDN ini, memang banyak orang yg jijik. tapi jgn meng-generalisasikan, liat kasus DPR. apa semua kayak Amin? mungkin saya tidak akan banyak menulis sanggahan disini tapi silahkan baca opini saya di www.muarosijunjung.blogspot.com. byk akhwan disana yg sudah mulai gelisah dengan justment masyarat. seribu kali mendengar tidak sama dengan sekali melihat. coba kenali sendiri lulusannya. apakah demikian adanya?
#72 elko febri marola (Homepage) on 2008-04-12 08:46 (Reply)
saya alumni Akabri, dan kami pernah Latsitarda dengan Praja STPDN, tp mereka tidak seperti yg saudara2 kira. banyak yg baik. pendekatan ke masyarakatnya hebat, salut. Padahal begitu banayk hujatan masyarakat tp mereka tetap PD dan menjalan kana kewajibannya. Dan Kami juga Sama Latsitarda dengan MENWA (Resimen Mahasiswa), merek cuma NATO (no Action Talk ONly) istilah kami "suka Mantul" alias makan tulang, sering pura2 sakit, ga py kesehatan fisik, hasil tes IQ nya juga dibawah kami, pdhl PT ternama, apa pake duit kali yah masuknya? pdhl tau dlm tubuh yg sehat terdapat pikiran yg jernih, wong body nya saja kayak pemadat gt, satmen loh palagi mahasiswanya. dan Praja lebih cepat adaptasinya dg masyarakat, mahasiswa cuma gagahan ga mau turun ke lapangan. Ga layak disebut MAHAsiswa, ga ada yg MAHA dari mereka. PRA-Siswa aja ganti namanya, hobi demo terus, kuliah sering cabut, nilai dibeli k dosen.fisik juga mencemaskan, apa yg lebih dari mereka. jgn patah semangat PRAJA. jaga terus sol;idaritasmu, disiplin, loyalitas da performen. -bhinneka-
#73 Letda Hanung Wijaya on 2008-05-17 10:00 (Reply)
sangat setuju...salam kenal saya alumni STPDN 2005. Kami memilih diam karena kami tau bersikap.. dan itu cara yang dewasa..daripada demo melulu...memangnya gampang jadi pemimpin?? Harus dibentuk...Bukan dengan kata2 doang tapi pembinaan mental dan fisik,dari situ ada Jiwa dan tubuh yang kuat. Kalo mau buktinya,memangnya waktu sampe di tempat tgs,ada yang mukul masyarakat?? G ADA. Thanks untuk supportnya.. Cuma kita yang tau.. Sukses
#73.1 Paull on 2008-07-19 05:01 (Reply)
doain ya,,aku mau masuk ipdn,,kalo masuk sana aku mau jadi siswa berprestasi,,aku mau melambungkan nama ipdn,,biar ipdn jadi sekolah yang keren,,biar orang yang CUMAN BISA NGOMONG NARIK LAGI KATA-KATANYA,,ye,,ye,yeee,,smangatt!!smangaaat!!! tinggal 2 tes lagi,,semoga ketrima,,amieeeenn,,

Cuma orang BODOH yang ngeliat sesuatu cuman dari satu sisi saja,,brarti tu orang gak dewasa-dewasa,,fiuUh,!!kasian banget orang tuanya,,udah ngedidik anak sulit2,,eh anaknya gitu gitu aja,,ngejelek-jelekin sesuatu yang sebenernya dia nggak tau pastinya lagi,,duh,,duh,duh..

ayo smangaaat,!!!
IPDN pasti bisa memberikan yang terbaik BAGI MASYARAKAT,BANGSA DAN NEGARA,,
PASTI BISA,!!!!
amieeenn,
#74 rainbow on 2008-07-15 20:44 (Reply)
debu diseberang lautan keliatan, tapi balok didepan mata ga keliatan. jangan hanya pintar melihat kesalahn orang lain tetapi tidak menyadari kesalahan sendiri. tak ada orang yang berhak menjudge sesamanya. yang bersalah ya bersalah tapi ukurannya bukan hukum dunia, tetapi hukum Tuhan, Allah, sang hyang widi, God, Lord atau apapun sebutan-Nya.. ukuran penghakimanmu akan ditimpakan kepadamu serupa pada hari peghakiman kelak..
#75 Anonymous on 2008-11-03 02:55 (Reply)
tak sMua anK IPDn JaHAT N tUKAN9 PuKUL..

pASti adDa jU9a tArunaNYA yang masiH pny hAti nUrani..

jAngan p'nAh melihat bUku dari Covernya..
#76 naa on 2008-12-09 04:07 (Reply)
STPDN atau IPDN.
Apapun namanya, kekerasan bukanlah jalannya bung...
#77 Software UM (Homepage) on 2009-10-05 22:05 (Reply)
Artikel yang menarik,
kunjung balik yaaaaaay
#79 Ardan Sirodjuddin (Homepage) on 2011-07-26 03:54 (Reply)

Add Comment

Enclosing asterisks marks text as bold (*word*), underscore are made via _word_.
E-Mail addresses will not be displayed and will only be used for E-Mail notifications

To prevent automated Bots from commentspamming, please enter the string you see in the image below in the appropriate input box. Your comment will only be submitted if the strings match. Please ensure that your browser supports and accepts cookies, or your comment cannot be verified correctly.
CAPTCHA

Standard emoticons like :-) and ;-) are converted to images.
BBCode format allowed
 
 

Masukkan email address untuk mendapat notifikasi setiap ada update terbaru pada Blog Vavai

Delivered by FeedBurner


  • Vavai
    Masim "Vavai" Sugianto, IT professional meski kadang-kadang saja bisa prof dan lebih sering nggak tongue. Nick name Muhammad Rivai Andargini, nama yang dipakai sejak SMP dan sekarang menjadi nama anak tongue. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.