
Manusia hidup didunia tentu tidak lepas dari masalah (beraaat banget kalimat pembuka ini

). Jika mau sekedar berhenti sejenak dari kesibukan dan mencoba mereview sebab masalah, sebenarnya masalah yang terjadi lebih banyak yang dibuat sendiri.
2 hal yang paling sering menjadi penyebab utama masalah adalah ketidakmampuan / ketidakmauan mengakui kekurangan dan terlalu memikirkan pendapat orang lain.
Ketidakmampuan mengakui kekurangan bukan tanpa sebab. Orang bisa dengan mudah mengakui kekurangan, namun ini jarang dilakukan karena mengakui kekurangan sama halnya dengan membuka aib diri sendiri.
Sebagai contoh, seberapa banyak cowok yang berani bilang, "Saya nggak punya uang" saat diajak makan sama pasangannya. Jangan membantah dulu. Saya bicara bukan secara orang perorang. Saya bicara secara umum.
Banyak rekan-rekan [pria] yang memilih untuk mengalihkan alasan disaat kondisi keuangan sedang menipis.
"Aduuuh, saya ada lembur kerja nih. Gimana ya ? Kalau lain kali aza gimana ?"
"Males ah, macet."
"Nanti aza deh. Sekarang sudah ditunggu di rumah".
Padahal, masalahnya akan sangat simple kalau bilang, "Uangnya kayaknya nggak cukup deh..."
Apa yang membuat orang lebih suka menghindar dari hal yang sebenarnya ? Karena takut ! Takut ditinggalkan pasangan. "Ngapa-in pacaran sama cowok bokek..." hehehe...
Tidak usah takut ditinggalkan pasangan hanya gara-gara kita berkata jujur demikian adanya. I love you, just the way you are. Kita kan bukan ingin selalu berkata demikian setiap saat. Kita juga bukan ingin memposisikan pasangan kita sebagai kasir kalau jalan bareng. Yang saya tekankan lebih kepada kejujuran disaat situasi memerlukannya.
Percaya deh, sekali berbohong akan seterusnya berbohong.
Waktu SMA, ada seorang teman yang menutupi kenyataan keluarganya. Dia malu mengakui kehidupan keluarganya. Tiap bicara, selalu bicara besar. Efeknya, dia cenderung merendahkan orang lain. Sering under estimate pada orang lain.
Beberapa waktu hal tersebut bisa disembunyikan dengan rapi, tapi sampai kapan ? Saat rekan lain tahu, dia malu sekali. Padahal, kami sebagai rekan-rekannya justru mengagumi keluarganya. Dengan anak yang banyak, ibunya mampu menghidupi keluarga. apakah karena ibunya jualan gado-gado lantas kami jadi melihat dia sebelah mata ? Tidak juga.
Jangan khawatir dihina hanya karena jujur pada kondisi yang ada. Hidup tanpa beban jika kita mengakui kekurangan.
Masih ingat berita di Bekasi beberapa waktu yang lalu ? Anak SMP bunuh diri gara-gara apa ? Gara-gara diejek teman sekelasnya, "Anak tukang bubur..." Miris kan. Sekarang, kita mungkin bisa bilang bahwa, "Kok diejek sebagai anak tukang bubur saja sampai bunuh diri ?"
Pola pikir remaja memang beda. Dengan beban sinetron hedonis dan tekanan psikologi sekolah, hal-hal yang kecil menjadi masalah besar.
Padahal, andaikan kita mau berbesar hati mengakui kenyataan, tidak ada beban sama sekali. Kalau ditanya, "Anak tukang bubur ya ?". "Anak petani ya ?". "Anak nelayan ya ". So what ? Jawab saja dengan bangga, "Ya. Saya anak tukang bubur. Saya bangga karena orang tua saya bisa menghidupi saya meski berat. Bangga karena orang tua saya tidak berpikir membeli properti dan harta dari uang yang tidak berhak dimiliki".
Jika ditinggalkan teman dan pasangan gara-gara berbesar hati mengakui kenyataan, bersyukurlah. Bersyukur karena kita terhindar dari teman yang hanya dekat dikala kita senang. Bersyukur kita tidak lama-lama berteman atau berpasangan dengan model seperti ini.
Masalah yang kedua adalah
Terlalu Memikirkan Pendapat Orang Lain. Mau pakai baju saja sulit, takut dikomentari macam-macam. Mau pakai sepatu saja takut disangka nggak kenal fashion. Mau beli kulkas nggak enak sama tetangga. Mau beli mobil takut disangka hasil ngipri hahaha.... Mau makan enak takut disangka sombong. Ah, pusing.
Kita hidup bukan untuk mengikuti arahan orang lain. Bahwa kita mesti
care pada situasi yang ada, ya, tapi bukan berarti lantas kita jadi terpasung.
Kalau mau beli kulkas, beli saja. Nggak usah takut di
rasani [digosip-in] orang lain. Kalaupun
dirasani, doakan saja yang
merasani agar bisa membeli kulkas yang lebih besar, jika perlu membeli orang eskimo sekalian

.
Kalau mau berbuat sesuatu, lakukan saja, sepanjang itu