
Pagi ini, saat membaca harian Kompas saya tersenyum dalam hati melihat
berita mengenai bintang sepak bola Barcelona, Samuel Eto'o yang berselisih dengan pelatihnya Frank Rijkaard gara-gara Eto'o menolak turun bertanding beberapa menit sebelum pertandingan berakhir.
Bukan soal perselisihannya yang menarik minat saya, melainkan mengenai "beberapa menit sebelum berakhir".
Saya pernah menyaksikan pertandingan sepak bola Indonesia dan beberapa pertandingan sepak bola dunia, dimana pemain baru masuk ke lapangan namun pluit usai babak kedua-sebagai tanda pertandingan berakhir-dibunyikan. Kalau masih ada babak lain, perpanjangan atau adu pinalti, mungkin tidak terlalu mengecewakan, namun ini baru satu menit bertanding dan belum menyentuh bola sama sekali, pertandingan sudah usai.
Letak masalahnya adalah pada rasa menghormati seseorang. Di
Uwongke kata orang Jawa bilang. Diorangkan. Dimanusiakan.
Apa nggak kasihan pada pemain yang dimasukkan hanya beberapa menit sebelum pertandingan berakhir ? Kalau memang penggantian tidak bisa dihindari (karena rekan pemain terluka misalnya) atau pelatih benar-benar tidak tahu pertandingan sisa beberapa menit mungkin masih bisa dimaafkan. Alasan kedua mungkin bisa diabaikan mengingat beberapa menit sebelum pertandingan berakhir, ada petugas yang membawa tulisan besar mengenai sisa waktu pertandingan.
Dalam hal Samuel Eto'o, mungkin masalahnya bukan soal tidak diuwongke. Saya mengambil analogi peristiwa Samuel Eto'o mengingat secara logika, bisa saja hal ini terjadi.
Dalam dunia keseharian, rasa tidak diuwongke ini bisa menjadi masalah besar. Seringkali seorang bawahan atau rekan kerja atau bahkan atasan berselisih paham dengan kita bukan karena niat berselisih. Biasanya mereka bisa berselisih karena merasa diabaikan. Tidak diorangkan.
Seurieus kan sudah bilang. "Rocker juga manusia..."
Jika kita ingin menilai seseorang, nilailah bahwa tiap orang pada dasarnya ingin dihargai. Jika seseorang berbicara panjang lebar mengenai suatu topik, hargailah dia karena dia ingin dipandang sebagai seseorang yang menguasai suatu materi.
Jika seseorang melakukan sesuatu namun masih kurang berhasil, hargailah karena dengan menghargai pekerjaannya, kita bisa membantu dia untuk bisa berhasil.
Jika ada bawahan atau rekan kerja atau atasan berselisih paham dengan kita, cobalah menempatkan diri kita dalam bingkai pemikiran dia. Seperti halnya kita tidak mau dianggap enteng (
under estimate), demikian halnya dengan orang lain. Seperti halnya kita belum tentu mau dianggap salah, demikian juga orang lain.
Siapapun dia, pastilah ingin dihargai dan dimanusiakan. Tidak memandang pekerjaan, SARA, asal muasal, orang tua, pangkat, kedudukan dan hal lainnya, orang pada prinsipnya ingin dihargai.
Jika kita mau memandang seseorang dalam bingkai penghargaan, respon positif orang lain tentunya akan positif. Jangan khawatir jika respon yang didapat masih negatif. Mungkin masih ada pendekatan yang kurang atau situasi yang kurang tepat agar tujuan kita bisa tercapai.
Jika ada seseorang berbuat kesalahan, mungkin ada masalah yang mendera pikirannya. Rasa simpati dan pandangan menghargai akan sangat membantu kita dalam berhubungan dengan orang lain.
Hargailah seseorang, nantinya penghargaan yang sama akan kembali kepada kita sendiri..
Link Terkait :
1.
Berita Kompas Soal Eto'o2.
Memanusiakan Manusia, Konteks Lain3.
Artikel menarik di Eramuslim