
Belakangan ini, ramai berita soal blunder kalimat yang disampaikan oleh Menko Kesra
Aburizal Bakrie terkait komentarnya soal banjir (see posting
Thomas,
Paman Tyo dan
Kuncoro). Setelah kasus Lapindo, komentar soal banjir yang tidak merakyat ini semakin memojokkan posisi menteri yang juga mantan pengusaha.
Aburizal Bakrie, yang biasa dipanggil Ical dianggap tidak wise, terlalu terbiasa hidup mewah karena kaya raya sehingga dianggap kurang bisa menyelami derita rakyat kebanyakan. Tersiar kabar, blunder ucapan ini akan diperpanjang dengan upaya petisi meminta Aburizal Bakrie mundur dari jabatannya.
Terus terang, agak sulit buat saya untuk langsung memvonis bahwa semua kesalahan memang jatuh pada Aburizal. Sepanjang yang saya tahu, Azurizal Bakrie termasuk satu dari sedikit pengusaha Indonesia yang kapabel. Sayang sekali memang, jika benar ucapan yang disampaikan demikian adanya, karena akan merusak reputasi yang telah dibangun selama ini.
Saya masih berprasangka baik bahwa Aburizal merespon pertanyaan wartawan SCTV dalam kondisi yang sifatnya situasional, bukan dalam semua kondisi.
Sangat mudah bagi kita untuk langsung mendefinisikan seseorang sebagai pihak yang tercela dan "lawannya" sebagai pihak yang benar tanpa cela.
Bukti ucapan memang ada dan dapat dengan mudah didownload dan didengar bahwa Aburizal Bakrie mengatakan hal yang terkesan menyepelekan bencana banjir yang baru lalu. Penekanan saya lebih kepada pengalaman kasus "I don't care"-nya Presiden SBY yang lantas dijadikan bahan olok-olok dan amunisi dalam mengkritisi kinerja SBY. Ucapan SBY dalam bentuk "I dont' care" bukan dimaksudkan sebagai tidak peduli pada kritik apapun yang mengarah kepadanya, namun sifatnya situasional pada kalimat selebihnya, yaitu bahwa "Kalau karena tindakan saya dalam memerintah untuk kepentingan rakyat dirasa tidak populer-seperti kenaikan BBM Oktober 2005 yang lalu-sepanjang itu untuk kepentingan rakyat, I don' care with my popularity".
Kembali pada masalah Aburizal Bakrie, tentu saja masing-masing dari kita memiliki dasar pemahaman yang berbeda. It's Ok. Namanya juga demokrasi

.
Kadangkala, kita hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar, bukan apa yang realisasinya terdengar. Sepanjang fakta yang terdengar sesuai dengan apa yang kita inginkan, kita cenderung untuk mengabaikan fakta lain yang mungkin bisa memperkaya khazanah pengetahuan kita.