Migrasi Win-Lin : 1. Memilih Distro • Tuesday, November 21. 2006
Untuk beberapa waktu kedepan saya akan membuat catatan-catatan seputar pengalaman pribadi melakukan migrasi sistem operasi dari sistem Windows ke sistem Linux. Banyak hal yang sifatnya sepele buat banyak orang namun tetap saya tuliskan karena apa yang saya lakukan ini sebagai catatan pengingat jejak langkah saya dalam mempelajari Linux.
Materi yang saya susun mungkin tidak beraturan dan tidak berurutan karena disesuaikan dengan apa yang saya alami langsung. Jika ada kesempatan mungkin nanti bisa lebih saya rapikan.
Migrasi sistem operasi ini masih berjalan sampai sekarang (belum sepenuhnya selesai) karena ada beberapa sistem yang belum selesai pengalihannya. Hanya saja, secara gambaran kasar apa yang saya alami mungkin bisa menjadi masukan buat rekan-rekan yang ingin melakukan migrasi sistem dari Windows ke Linux. OK, kita mulai dari yang pertama,
Migrasi Windows ke Linux : 1. Memilih Distro
Pemilihan distribusi Linux (distro) yang saya lakukan diperuntukkan untuk 2 (dua) kepentingan, yaitu untuk Server dan untuk Client. Ada banyak pilihan distro, baik komersil maupun free namun akhirnya saya memilih distro SUSE Linux untuk Server, Ubuntu Server sebagai cadangan dan SUSE Linux untuk client, dengan Simply Mepis dan Vector Linux sebagai varian. Mengapa ada cadangan dan varian, hal ini karena untuk staff bagian IT saya membebaskan mereka memilih distro yang digunakan, dengan pemikiran bahwa bagian IT dapat melakukan setting sendiri
.
Distro diatas saya pilih atas dasar pertimbangan sebagai berikut :
- Kelengkapan fasilitas, dukungan perusahaan dibelakangnya, ada versi komunitas yang free dan memiliki dukungan untuk versi komersil. Awalnya saya menggunakan SUSE Linux 10.0 sebagai server yang kemudian saya ganti menjadi SUSE Linux 10.1 (Open SUSE) dan terakhir menjadi SUSE Linux Enterprise Server (SLES) 10 dan membeli lisensinya. Pembelian lisensi SLES ini atas pertimbangan dari perusahaan, berbarengan dengan pembelian Server IBM. Berdasarkan pengalaman saya, penggunakan distro Open SUSE sebelum diganti menjadi distro SLES tidak ada masalah sama sekali. Jadi bagi rekan yang ingin menggunakan versi komunitas tidak perlu khawatir. Selain SUSE, saya juga mencoba melakukan eksplorasi terhadap Ubuntu Server mengingat distro ini benar-benar free dan memiliki komunitas yang concern pada perkembangannya. Untuk saat ini Ubuntu Server saya jadikan sebagai backup File Server. Untuk client, distro Open SUSE 10.1 saya gunakan untuk komputer yang memiliki RAM 256 MB sedangkan untuk RAM 128 MB saya menggunakan Simply Mepis atau Open SUSE 10.0.
- Tampilan yang chic dan menawan. SUSE memiliki GUI yang bagus (default adalah KDE / Gnome) sehingga memudahkan user yang migrasi. Beberapa distro ringan dan cepat (Puppy, Damn Small Linux) mengorbankan aspek keindahan sehingga distro tersebut saya pakai untuk keperluan internal IT.
- Kemudahan Konfigurasi. SUSE datang dengan konfigurasi internal dan integral, YAST. Saya sendiri menggunakan YAST yang terkadang digabung dengan Webmin untuk melakukan konfigurasi server ataupun klien. Untuk kecepatan akses memang tetap tidak meninggalkan konfigurasi berbasis teks (Konsole) namun bagi rekan-rekan yang sudah terbiasa dengan setup wizard, YAST memudahkan caranya.
- Dukungan sumber-sumber aplikasi. SUSE memiliki resources yang berlimpah dalam hal aplikasi yang ingin diterapkan. Banyak aplikasi yang dibuat secara native untuk SUSE. Dari sisi popularitas, SUSE termasuk distro besar yang diperhitungkan bagi para developer untuk dibuatkan versi native aplikasinya.
Berikut adalah beberapa catatan mengenai aplikasi yang dipakai dan konfigurasi yang digunakan :
- DNS Server, menggunakan Bind
- Web Server, menggunakan Apache
- Database, menggunakan MySQL Server
- Email Server, menggunakan Postfix
- Aplikasi, menggunakan Java
- Email Client, menggunakan Mozilla Thunderbird
- Office menggunakan Open Office
- Grafis menggunakan GIMP
-
Posted by Muhammad Rivai Andargini in Migrasi Windows ke Linux Comments: (6) Trackbacks: (0)
Random Entry: Kepas : KDE Easy Publish and Share
< Tips Koneksi Printer dari Linux ke Windows | Pralangga.org, Baret Biru Sipil dari Indonesia >
soale sering kacau sih formatnya, gak karuan. (meskipun kebaca) jadinya harus ngatur ulang..capek dehhh
1. Sejak pakai Windows sudah memakai Open Office
2. Pasang Wine untuk menjalan Microsoft Office (tetap butuh lisensi)
Memang sih rada capek buat ngatur ulang tapi ya bisa-bisanya kita memberikan pemahaman. Apalagi kalau boss sudah bilang,"Pakai Linux atau silakan resign :-D"
Lagipula format ODF (Open Document Format) kan format terbuka dan bebas. Berbeda dengan format MS Word DOC yang tertutup.
http://www.zegeniestudios.net/ldc/index.php

. Nick name Muhammad Rivai Andargini, nama yang dipakai sejak SMP dan sekarang menjadi nama anak
. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.