Asal Mula Berwirausaha

Headline, Wirausaha1 Comment

Hari Sabtu 16 September 2017 saya diminta mengisi sesi seminar motivasi dan karir di dunia Teknologi Informasi pada rangkaian acara Ospek di almamater saya STMIK Bani Saleh Bekasi. Sebagai bagian dari materi seminar, saya bercerita mengenai perjalanan mulai lulus dari Etniez SMAN 2 Bekasi, bekerja sebagai operator produksi di pabrik, memutuskan kuliah Informatika di STMIK Bani Saleh hingga akhirnya bekerja dan berwirausaha. Kisah ini adalah kisah saat mulai memutuskan untuk wirausaha. Semoga bermanfaat.
*****
Saya sempat membaca sebuah artikel di salah satu media, mengenai seorang karyawan yang memiliki gaji sekitar 3 juta dan ingin bisa menabung. Kira-kira tabungan apa yang sesuai dengan postur keuangannya, atau jika invest, investasi dibidang apa yang paling cocok?
Masalahnya, gaji atau pendapatan rata-rata di Indonesia umumnya hanya cukup untuk biaya hidup sebulan, bahkan bisa kurang. Hanya sebagian saja yang bisa menyisihkan pendapatannya untuk bisa ditabung. Saya pernah mengalami hal yang sama, baik saat bekerja di Cikarang maupun di Tanjung Priok. Tahun 2000–2006 saya bekerja di Cikarang, dengan gaji THP (Take Home Pay) mulai dari 650 ribu s/d 2.5 juta per bulan. Kemudian saya pindah jadi supervisor di sebuah perusahaan di Tanjung Priok dengan gaji mulai Rp. 3.5 juta s/d 5 juta per bulan.
Dengan gaji diatas, bisa menabung Rp. 1 juta per bulan merupakan keajaiban buat saya. Mengapa? Karena gaji diatas belum dipotong transport, biaya keluarga, over head cost kendaraan dan lain-lain.
Saya selalu stress kalau berpikir soal rumah. Bagaimana bisa membeli rumah jika harga rumah selalu naik. Andaikan saya menabung rutin Rp. 1 juta per bulan, ini artinya saya butuh menabung 3 tahun tanpa diambil untuk bisa mendapatkan DP (Down Payment/Uang Muka) rumah sederhana dengan kisaran DP Rp. 30–40 juta. Saat akhirnya tabungan itu terkumpul, biaya DP rumah sudah naik lebih tinggi lagi… ?
Jadi, bagaimana caranya saya bisa menyisihkan uang untuk menabung namun disisi lain juga harus bisa menjaga nafkah untuk keluarga? Apalagi yang bisa dihemat jika segala hal yang bisa dihemat sudah saya hemat? Bagaimana saya bisa menyiasati keadaan ini, agar saya tidak puyeng justru saat menerima gaji (karena gaji yang masuk akan langsung tersebar untuk berbagai kebutuhan). Sampai-sampai ada anekdot, itu uang gaji belum sempat ngadem di ATM sudah langsung kita ambil dan habiskan ?
Bagi rekan-rekan yang mengalami hal yang sama, saran saya sederhana : Jika merasa sudah berhemat habis-habisan, berhentilah berusaha mencari cara berhemat lainnya. Cara tersebut tidak salah namun juga kurang tepat. Daripada mencari cara penghematan lain yang malah menimbulkan efek negatif dan mengurangi kualitas hidup kita sekeluarga, lebih baik berpikir dari cara sebaliknya, yaitu bagaimana caranya meningkatkan pendapatan.
Coba review kemampuan diri, apakah ada kemampuan kita yang secara positif bisa menghasilkan uang? Apakah kita pandai menulis? Apakah kita pandai bercerita? Apakah kita pandai berjualan? Apakah kita pandai menghibur? Setiap orang, disadari atau tidak, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Bedanya adalah, ada yang menyadari dan memanfaatkannya dan ada pula yang membiarkannya.
Jika ingin memperbaiki kualitas kehidupan, berpikirlah apakah ada cara menghasilkan uang dengan kepandaian yang dimiliki? Berpikir itu kan nggak bayar. Gratis. Berpikir memang capek, namun tidak berpikir juga capek kok. Nggak apa-apa kita capek berpikir asal kita bisa memperbaiki kualitas kehidupan kita.
Awalnya saya pribadi bingung, memangnya apa yang bisa saya lakukan yang bisa menghasilkan uang disela-sela kesibukan kerja saya? Mau jualan saya malu. Mau investasi saya nggak punya modal. Mau bertani, saya nggak punya lahan.
Ternyata, ada satu hal yang bisa saya lakukan namun tidak saya sadari sebelumnya. Saya pernah menjadi Assisten Lab di kampus. Sedikit banyak saya terbiasa mengajar. Saya bisa mengajar private. Saya bisa mengajar kursus. Andaikan saya belum punya perangkat, saya bisa bergabung pada lembaga kursus yang ada. Saya cukup menjual keahlian saya.
Saya masih ingat, pernah mendatangi sebagian sekolah untuk menanyakan apakah mereka butuh guru komputer sambilan? Sebagian besar bilang tidak. Saya capek dan juga lelah. Tapi tidak apa-apa toh saya sudah berusaha. Apa yang perlu saya sesali jika saya sudah berusaha namun belum berhasil.
Akhirnya saya mendapatkan penghasilan tambahan dengan memberikan training bagi para mahasiswa yang menghadapi tugas akhir atau skripsi. Mahasiswa membutuhkan pelatihan mengenai programming untuk pembuatan software dan saya memiliki kemampuan untuk itu. Jadi saya mengumpulkan beberapa mahasiswa, setiap Sabtu atau Minggu mereka berkumpul di suatu tempat dan saya mengajar disana. Saya tidak perlu bawa laptop-karena memang saat itu belum punya ?-dan cukup mengajar para peserta dengan membuat silabus sederhana.
Saya juga mulai aktif di komunitas. Hobby saya di komunitas membuat saya senang menulis artikel. Artikel yang saya tulis dibaca oleh orang lain. Bisa bermanfaat dan membawa salah satu pembaca tersebut meminta kursus pada saya. Terima kasih mas Muhamad Yamin, alumni Excellent nomor 1. Training pertama yang saya ingat, justru saya yang diajari oleh mas Yamin soal DNS dan Zimbra Mail Server
Setelah mas Yamin, ada lagi dan ada lagi peserta training lainnya. Semua datang dari informasi mulut ke mulut. Dari informasi di blog sederhana. Terus berkembang sejak tahun 2007–2010 hingga akhirnya saya resmi mengundurkan diri dari perusahaan akhir tahun 2010 dan membangun PT. Excellent Infotama Kreasindo awal tahun 2011.
Saat ini sudah 7 tahun wirausaha itu berjalan dan saya menikmati setiap perjalanan yang saya lewati, entah itu kondisi menyenangkan maupun kondisi yang membuat saya harus beradaptasi dengan beberapa keadaan yang tidak mudah untuk dilalui.
Saya selalu ingat puisi Toto ST Radik yang menjadi favorit saya semenjak membacanya di buku Balada Si Roy Gola Gong. Puisi ini saya tampilkan sebagai slide terakhir saat saya diminta mengisi seminar motivasi untuk mahasiswa baru di kampus almamater saya, STMIK Bani Saleh Bekasi.
Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita. Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya…

About the author:

Masim Vavai Sugianto, Tinggal di Bekasi, Bekerja sebagai wirausahawan/Konsultan IT. Penganjur penggunaan sistem Linux dan aplikasi Open Source. Hobby Membaca, Hiking dan Avonturir. Mengembangkan PT. Excellent Infotama Kreasindo sebagai lembaga training dan IT consulting.

One thought to “Asal Mula Berwirausaha”

  1. kalau kita cuma mengandalkan penghasilan dari kerja ya tetep habis, makanya kalau bisa kita juga harus berwirausaha untuk mendapatkan penghasilan buat tambah2 tabungan,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top