<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Di Indonesiakan atau Tetap Bahasa Inggris : Pro Kontra Penerjemahan</title>
	<atom:link href="http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/</link>
	<description>Tips, Trick &#38; Tutorial Mengenai Linux, Open Source dan Blog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 06:39:55 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: dirgita</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-1046</link>
		<dc:creator>dirgita</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 22:49:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-1046</guid>
		<description>Ini masalah selera. Kalau topik yang berkenaan dengan selera, pasti susah ketemu ujungnya. Ada yang suka antarmuka bahasa Indonesia, silakan. Ada yang suka antarmuka bahasa asing, ya, silakan juga. Yang penting, tidak saling menggigit.

(Kalau ada kesempatan, atau sedang usil, saya ubah antarmuka komputer saya dengan bahasa India atau Thailand)

Yang patut diketahui, proses translasi ini susah-susah gampang, bikin gregetan. Nyakitin hati tapi bikin senang. Saya sudah beberapa kali ikut menerjemahkan program kode terbuka (open source), dan memang itu yang saya rasakan. Heheheee^^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ini masalah selera. Kalau topik yang berkenaan dengan selera, pasti susah ketemu ujungnya. Ada yang suka antarmuka bahasa Indonesia, silakan. Ada yang suka antarmuka bahasa asing, ya, silakan juga. Yang penting, tidak saling menggigit.</p>
<p>(Kalau ada kesempatan, atau sedang usil, saya ubah antarmuka komputer saya dengan bahasa India atau Thailand)</p>
<p>Yang patut diketahui, proses translasi ini susah-susah gampang, bikin gregetan. Nyakitin hati tapi bikin senang. Saya sudah beberapa kali ikut menerjemahkan program kode terbuka (open source), dan memang itu yang saya rasakan. Heheheee^^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Okto Silaban</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-783</link>
		<dc:creator>Okto Silaban</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 03:17:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-783</guid>
		<description>Saya setuju jika istilah2 yg memang bisa dibahasaindonesiakan diteruskan, tapi jangan maksa. Apalagi istilah2 komputer. Coba saja bikin terjemahan ini dalam bahasa indonesia :

Array (senarai?)
Hardware Abstraction Layer
Regular Expression
Static Typing Compiled Languange
dst..

Niscaya pemrograman akan menjadi sulit dipelajari..

*di jepang setahu saya tidak semua istilah diterjemahkan.., tetapi tetap dibiarkan seperti aslinya..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju jika istilah2 yg memang bisa dibahasaindonesiakan diteruskan, tapi jangan maksa. Apalagi istilah2 komputer. Coba saja bikin terjemahan ini dalam bahasa indonesia :</p>
<p>Array (senarai?)<br />
Hardware Abstraction Layer<br />
Regular Expression<br />
Static Typing Compiled Languange<br />
dst..</p>
<p>Niscaya pemrograman akan menjadi sulit dipelajari..</p>
<p>*di jepang setahu saya tidak semua istilah diterjemahkan.., tetapi tetap dibiarkan seperti aslinya..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kunderemp</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-781</link>
		<dc:creator>kunderemp</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 00:47:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-781</guid>
		<description>Jujur saja, saya sering ragu kalau menulis e-mail dalam Bahasa Indonesia. Kalau tidak pakai tanda pisah, takutnya nanti tertukar dengan email yang berarti lapisan gigi :D.

Surel lebih indah. Tetapi kawan saya mengatakan, PT Pos Indonesia menggunakan kata ratron, bukan surel. Nah lo.

Kata &quot;mengunduh&quot; juga terlihat lebih enak dibandingkan kata &quot;men-download&quot; apalagi &quot;ngedonlot&quot;.

Yang belum terbiasa buatku adalah kata-kata seperti jaring dan luring. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur saja, saya sering ragu kalau menulis e-mail dalam Bahasa Indonesia. Kalau tidak pakai tanda pisah, takutnya nanti tertukar dengan email yang berarti lapisan gigi <img src='http://vavai.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Surel lebih indah. Tetapi kawan saya mengatakan, PT Pos Indonesia menggunakan kata ratron, bukan surel. Nah lo.</p>
<p>Kata &#8220;mengunduh&#8221; juga terlihat lebih enak dibandingkan kata &#8220;men-download&#8221; apalagi &#8220;ngedonlot&#8221;.</p>
<p>Yang belum terbiasa buatku adalah kata-kata seperti jaring dan luring. <img src='http://vavai.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Masim Vavai Sugianto</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-779</link>
		<dc:creator>Masim Vavai Sugianto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 20:40:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-779</guid>
		<description>@Kris,
Hehehe, pengalaman pribadi ya :-)

Materi-materi tutorial atau artikel berbahasa Indonesia memang mesti terus diperbanyak dan menjadi tantangan untuk memperbanyaknya. BTW, saat ini materi-materi berbahasa Indonesia sudah cukup banyak di internet.

Sama-sama bingung mungkin karena sudah sangat terbiasa dengan bahasa yang selama ini digunakan :-)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Kris,<br />
Hehehe, pengalaman pribadi ya <img src='http://vavai.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Materi-materi tutorial atau artikel berbahasa Indonesia memang mesti terus diperbanyak dan menjadi tantangan untuk memperbanyaknya. BTW, saat ini materi-materi berbahasa Indonesia sudah cukup banyak di internet.</p>
<p>Sama-sama bingung mungkin karena sudah sangat terbiasa dengan bahasa yang selama ini digunakan <img src='http://vavai.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kris</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-778</link>
		<dc:creator>Kris</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 20:31:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-778</guid>
		<description>Ironisnya, belajar bahasa baku seperti mempelajari bahasa asing satu lagi.

Masalahnya kalau belajar bahasa Inggris, banyak materialnya di Internet, banyak yang bisa. Tidak yakin sesuatu bisa diskusi sama teman, beres.

Kalau belajar bahasa baku? Punya 20 teman, semuanya sama sama bingunggg.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ironisnya, belajar bahasa baku seperti mempelajari bahasa asing satu lagi.</p>
<p>Masalahnya kalau belajar bahasa Inggris, banyak materialnya di Internet, banyak yang bisa. Tidak yakin sesuatu bisa diskusi sama teman, beres.</p>
<p>Kalau belajar bahasa baku? Punya 20 teman, semuanya sama sama bingunggg.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Masim Vavai Sugianto</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-777</link>
		<dc:creator>Masim Vavai Sugianto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 19:58:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-777</guid>
		<description>@dedhi,

Thanks buat pandangannya yang mencerahkan.

@Ben,
Thanks. Cocok buat jadi proof reader :-)

@Pebbie, 
Memang tidak dipaksakan, namun tren-nya akan kearah itu karena sebagian website besar menggunakan model redirect otomatis sesuai asal negara, meski kita tetap punya pilihan mengubahnya. Saya setuju bahwa bahasa senantiasa memiliki banyak faktor dalam pemasyarakatannya. Kalau kita tidak terlalu akrab pada suatu istilah, kita bisa  memilih untuk tidak menggunakannya, tidak menyerapnya atau mengajukan kata pengganti.

@Nanda, 
Thanks buat tambahannya. Untuk pemahaman dokumen spesifik seperti javadoc atau berkas lain dalam konteks tertentu memang membutuhkan penyesuaian, analoginya sama saja dengan meminta penerjemah umum untuk menjadi penerjemah pertemuan industri. 

Saya pernah mengikuti pertemuan yang menghadirkan pihak manajemen dari Jepang dengan pekerja di Indonesia, hasil terjemahannya banyak yang tidak tepat karena istilah industri yang sudah baku (seperti TQM, QCC, Just in Time) diterjemahkan mentah-mentah ke bahasa Indonesia.

@Oom Yahya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali :-)
Sekarang mungkin penerimaannya sudah lebih baik ketimbang beberapa tahun lalu Om, soalnya saya masih ingat dulu ada Winbi (Windows berbahasa Indonesia) yang layu sebelum berkembang, CMIIW.

@Budijoi,
Penerjemahan yang kurang pas memang menjadi kendala, itulah mengapa saya menghargai para penerjemah yang cukup kreatif dalam memilih kata terjemahan yang lebih simple dan mudah dipahami (seperti contoh luring dan daring).

Bahasa alay ? Jadi ingat bahasa prokem saat masih seumuran SMP :-D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@dedhi,</p>
<p>Thanks buat pandangannya yang mencerahkan.</p>
<p>@Ben,<br />
Thanks. Cocok buat jadi proof reader <img src='http://vavai.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@Pebbie,<br />
Memang tidak dipaksakan, namun tren-nya akan kearah itu karena sebagian website besar menggunakan model redirect otomatis sesuai asal negara, meski kita tetap punya pilihan mengubahnya. Saya setuju bahwa bahasa senantiasa memiliki banyak faktor dalam pemasyarakatannya. Kalau kita tidak terlalu akrab pada suatu istilah, kita bisa  memilih untuk tidak menggunakannya, tidak menyerapnya atau mengajukan kata pengganti.</p>
<p>@Nanda,<br />
Thanks buat tambahannya. Untuk pemahaman dokumen spesifik seperti javadoc atau berkas lain dalam konteks tertentu memang membutuhkan penyesuaian, analoginya sama saja dengan meminta penerjemah umum untuk menjadi penerjemah pertemuan industri. </p>
<p>Saya pernah mengikuti pertemuan yang menghadirkan pihak manajemen dari Jepang dengan pekerja di Indonesia, hasil terjemahannya banyak yang tidak tepat karena istilah industri yang sudah baku (seperti TQM, QCC, Just in Time) diterjemahkan mentah-mentah ke bahasa Indonesia.</p>
<p>@Oom Yahya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali <img src='http://vavai.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Sekarang mungkin penerimaannya sudah lebih baik ketimbang beberapa tahun lalu Om, soalnya saya masih ingat dulu ada Winbi (Windows berbahasa Indonesia) yang layu sebelum berkembang, CMIIW.</p>
<p>@Budijoi,<br />
Penerjemahan yang kurang pas memang menjadi kendala, itulah mengapa saya menghargai para penerjemah yang cukup kreatif dalam memilih kata terjemahan yang lebih simple dan mudah dipahami (seperti contoh luring dan daring).</p>
<p>Bahasa alay ? Jadi ingat bahasa prokem saat masih seumuran SMP <img src='http://vavai.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: budijoi</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-776</link>
		<dc:creator>budijoi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 17:51:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-776</guid>
		<description>iya.. sama nih Om, saya malah bingung waktu instal tambahan bahasa indonesia untuk mirkosop.. &quot;SEGARKAN(F5)&quot;.. heu..tapi tetep pake bahasa indonesia yg diusahakan BAIK dan BENAR.. dan sangat benci terhadap bahasa yg banyak digunakan para remaja saat ini (alay..dan lain2).. masih mendingan pake bahasa asing dah daripada pake bahasa yg SATU ini.. hiwhiww..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>iya.. sama nih Om, saya malah bingung waktu instal tambahan bahasa indonesia untuk mirkosop.. &#8220;SEGARKAN(F5)&#8221;.. heu..tapi tetep pake bahasa indonesia yg diusahakan BAIK dan BENAR.. dan sangat benci terhadap bahasa yg banyak digunakan para remaja saat ini (alay..dan lain2).. masih mendingan pake bahasa asing dah daripada pake bahasa yg SATU ini.. hiwhiww..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Oom Yahya</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-775</link>
		<dc:creator>Oom Yahya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 16:10:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-775</guid>
		<description>Sebenarnya kekikukan menggunakan Bahasa Indonesia terjadi karena keterlambatan penerjemahan.
Coba kalau dulu begitu komputer mulai booming (doh, saya kok ya jadi pake boso enggres nih) di Indonesia, mouse langsung diterjemahkan tetikus, file langsung disebut berkas, maka semua akan terbiasa.
Nampaknya butuh 1 generasi untuk bisa murni menggunakan Bahasa Indonesia dalam dunia teknologi. Itupun kalau 2012 tidak jadi kiamat :p</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya kekikukan menggunakan Bahasa Indonesia terjadi karena keterlambatan penerjemahan.<br />
Coba kalau dulu begitu komputer mulai booming (doh, saya kok ya jadi pake boso enggres nih) di Indonesia, mouse langsung diterjemahkan tetikus, file langsung disebut berkas, maka semua akan terbiasa.<br />
Nampaknya butuh 1 generasi untuk bisa murni menggunakan Bahasa Indonesia dalam dunia teknologi. Itupun kalau 2012 tidak jadi kiamat :p</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nanda Firdausi</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-774</link>
		<dc:creator>Nanda Firdausi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 15:16:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-774</guid>
		<description>Saya juga moderat untuk hal ini. Tapi ada satu kelebihan menggunakan bahasa asalnya (inggris) yang belum disebut di artikel yaitu kita lebih terbiasa dengan istilah tersebut manakala kita harus membaca dokumen di internet.

Bayangkan kalau kita tidak terbiasa dengan istilah komputer dalam bahasa Inggris lalu disuruh membaca Javadoc.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya juga moderat untuk hal ini. Tapi ada satu kelebihan menggunakan bahasa asalnya (inggris) yang belum disebut di artikel yaitu kita lebih terbiasa dengan istilah tersebut manakala kita harus membaca dokumen di internet.</p>
<p>Bayangkan kalau kita tidak terbiasa dengan istilah komputer dalam bahasa Inggris lalu disuruh membaca Javadoc.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pebbie</title>
		<link>http://vavai.com/2010/02/02/di-indonesiakan-atau-tetap-bahasa-inggris-pro-kontra-penerjemahan/comment-page-1/#comment-773</link>
		<dc:creator>pebbie</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 15:07:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/?p=423#comment-773</guid>
		<description>menurut saya, alangkah baiknya kita punya perbendaharaan yang enak diucapkan dan dituliskan terhadap istilah-istilah yang sering dihadapi. 

*haduh, kok jadi baku yah?*

nggak masalah kok mas,  menurut saya terserah saja mau mengajukan istilah padanan selama penggunaannya tidak dipaksakan (orang dipaksa menggunakan). toh, bahasa pun produk budaya yang senantiasa berubah seiring waktu. 

lama kelamaan saya juga jadi suka dengan istilah surel, unduh, unggah, daring, dan luring karena transkripsi dari ucapan ke tulisan yang masih menggunakan kaidah yang &#039;alami&#039;. *misalnya pada situasi memberitahukan URL via suara (telepon)*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut saya, alangkah baiknya kita punya perbendaharaan yang enak diucapkan dan dituliskan terhadap istilah-istilah yang sering dihadapi. </p>
<p>*haduh, kok jadi baku yah?*</p>
<p>nggak masalah kok mas,  menurut saya terserah saja mau mengajukan istilah padanan selama penggunaannya tidak dipaksakan (orang dipaksa menggunakan). toh, bahasa pun produk budaya yang senantiasa berubah seiring waktu. </p>
<p>lama kelamaan saya juga jadi suka dengan istilah surel, unduh, unggah, daring, dan luring karena transkripsi dari ucapan ke tulisan yang masih menggunakan kaidah yang &#8216;alami&#8217;. *misalnya pada situasi memberitahukan URL via suara (telepon)*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 1.606 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-09 14:32:09 -->
<!-- Compression = gzip -->
