Mekanisme Tanggung Jawab Seorang Blogger

Blog & Social Media, Opini9 Comments

Update : Karena cukup panjang dan agar sesuai dengan layout blog, tulisan ini saya pecah menjadi tiga bagian, yaitu bagian 1, bagian 2 dan bagian 3

Saya kerap mendengar ungkapan “buku dibalas buku” saat ada kasus salah satu pihak dirugikan oleh penerbitan suatu buku. Kasus buku ‘Gurita Cikeas” misalnya, banyak disarankan agar pihak yang merasa dicemarkan nama baiknya untuk melawannya dengan buku.

Kasus yang mirip menimpa Jusuf Kalla, saat Akbar Tanjung menyelesaikan disertasi di Program Doktoral Universitas Gadjah Mada yang berjudul Partai Golkar dalam Pergolakan Politik Era Reformasi: Tantangan dan Respons. Dalam disertasi itu Akbar Tanjung menyoroti kiprah para saudagar yang memimpin partai, yang dalam konteks politik saat itu dianggap menohok Jusuf Kalla. Menanggapi respon balik dari Jusuf Kalla, banyak kalangan menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Akbar Tanjung merupakan disertasi sebagai bagian wacana keilmuan dan ilmiah. Respon yang tepat adalah membalasnya dengan disertasi juga.

Pada tahun-tahun 2004-2006, saya sering mendengar para blogger mendengungkan hal yang sama. Jika ada pihak-pihak tertentu merasa dirugikan oleh isi blog, sebaiknya ia menjawabnya dengan blog juga, bukan melaporkan pencemaran nama baik kepada polisi atau membawanya ke pengadilan.

Apakah ketiga contoh diatas merupakan hal yang adil karena mengandung premis suatu tindakan dibalas dengan tindakan yang sama? Tentu saja belum tentu. Sifat keadilan mungkin akan bias tergantung sudut pandang mana yang dipakai. Bagi yang pro, cara ini adalah cara yang lebih berbudaya dan tidak menggunakan bahasa kekuasaan. Cara ini dianggap lebih etis karena tools yang digunakan adalah sama.

Bagi yang kontra, cara ini tidak memenuhi azas keadilan. Tidak semua orang bisa membuat buku, juga tidak semua orang punya kesempatan menempuh program doktoral. Untuk dunia blog, blog populer tentu tidak bisa disandingkan dengan blog yang baru saja dibuat. Membangun suatu blog yang memiliki pengunjung banyak, dengan jumlah artikel ratusan hingga ribuan dan memiliki posisi ranking yang baik di mesin pencari tidak mungkin bisa ditandingi oleh blogger pemula dengan jumlah posting baru satu dua. Untuk alasan ini, saya bisa memahami alasan pihak yang kontra.

Berlanjut ke halaman 2…

About the author:

Masim Vavai Sugianto, Tinggal di Bekasi, Bekerja sebagai wirausahawan/Konsultan IT. Penganjur penggunaan sistem Linux dan aplikasi Open Source. Hobby Membaca, Hiking dan Avonturir. Mengembangkan PT. Excellent Infotama Kreasindo sebagai lembaga training dan IT consulting.

9 thoughts to “Mekanisme Tanggung Jawab Seorang Blogger”

  1. Memang sudah ada kasus untuk yang nomer 3 ya Mas? [Blogger]

    Tertarik juga jika ada pro kontra mengenai hal ini. Supaya kalo ada kasus blogger -yang-dengan-sengaja-atau-tidak- menyinggung blogger lainnya, bisa memposisikan diri.

  2. Mas,, tampilan blognya bagus sekali perlu di contoh neh,,
    tapi saya lagi belajar buat layout yang bagus di Blog, hehehe
    seperti di http://Plat-M.com, masih undercontructions, boleh di share gak cara bikin tema yang seperti ini (yang ada newflash-nya), saya udah ngoprek berkali2 tapi belum bisa-bisa,, (biasa masih newbie),
    untuk vavai.com ini tampilannya mirip dengan Bloggerbekasi.com
    Keren mas…

  3. @Wahyu Alam,
    Tampilan bloggerbekasi.com dan vavai.com memang sangat mirip karena keduanya saya yang mengelola 😛 bersama dengan mas Irfan sebagai Admin.

    BTW, themes ini komersil boss, jadi wajar saja kalau kelihatan cakeup, saya nggak terlalu banyak modifikasi kok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top